Selasa, 18 Agustus 2015

Rumah

       Hari berganti. Minggu bergerak. Bulan melayap pergi. Tahun pun tak luput untuk sekedar ikut berganti. Ada rasa yang bahagia saat jari mulai bekerja mencoba merangkai kata dalam tulisan ini. Namun ada juga sedih ketika waktu tak terasa telah lama menemani langkah kita. Berpuluh-puluh kilometer kita habiskan di atas roda “mbak vega”. Bersama menyusuri setiap sudut kota istimewa, kota Jogja. Setiap sudut menyimpan jutaan kenangan kita berdua. Tangis, tawa, canda, bahagia, marah, sedih,duka. Semuanya kita habiskan untuk saling mencinta.
       Tiga tahun. Aku bukan tak ingat. Hanya saja, sudah terlalu banyak yang kita tulis dan lukis bersama.Aku seakan tak mampu untuk mengingat semuanya. Kapasitas penyimpanan memori di otakku terlalu kecil untuk menampung semua kenangan indah kita. Sedikit saja, aku masih ingat bagaimana pertama kali aku datang ke sebuah rumah yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Rumah yang hampir selama tiga tahun menjadi saksi biksu kisah kita. Kita pernah bercanda dan tertawa, bahkan kita pernah beradu marah dan duka. Sebuah kampung yang dulu tak familiar untuk aku jelajahi. Sebuah kampung yang tak pernah aku kenal senyum hangat sapa manusianya. Kini, seakan mereka semua telah mengenal kita. Tiga tahu, kita membangun sebuah kisah bermodalkan rasa. Mengenal sebuah dinamika yang melibatkan jiwa.
       Waktu seperti tak mengenal lampu merah atau kuning. Dia tetap terus berjalan tak kenal berhenti. Kita mungkin terlena atas semua kisah cinta dan bahagia kita. Atau kadang kita tak terasa berkelana dalam amarah saat kita saling mencerca. Aku tak tahu apa yang harus aku ungkapkan. Bahagia dan sedih kini benar-benar bergerak serasi dalam tiap detik langkah kita. Tak terasa upaya untuk menjadi sarjana telah purna. Kini kita hanya bisa berpegang pada cita dan cinta kita.
       Aku tahu akan banyak duri, batu, badai, atau mungkin topan di depan yang siap untuk menelanjangi cita dan cinta kita. Tapi dengarlah sayang. Ingatlah sayang. Rajutan cinta dan cita kita di sebuah kota istimewa tak akan sia-sia. Jutaan kenangan yang telah kita goreskan dalam tiap senyum manusia ramahnya tak akan pudar di telan masa.
       Aurelia dan Jogja. Keduanya adalah rumah sempurna bagi rasa yang kupunya. Sejauh apapun aku pergi dari rumah. Sejauh apapun kita pergi dari rumah. Rumah akan selalu menjadi alasan kita untuk kembali. Rumah akan selalu menyimpan kisah dan kasih untuk dirindu. Rumah, akan selalu memanggil kita untuk pulang dan kembali bercengkrama. Rumah, tak akan pernah hilang walaupun sejuta gedung megah menghimpit sesak diantara jiwa.

       Aurelia dan Jogja. Rumah yang akan selalu memanggilku untuk kembali dan merindu tanpa perlu kau tunggu.