Rabu, 15 Januari 2014

Sebuah Alasan Mudah Untuk Bertahan

          Hari ini sedang hujan saat aku mencoba menuangkan sedikit kisah perjalanan kita. Perjalanan yang tak semulus mobil ferrari Michael Schumacer yang meluncur di atas aspal sirkuit. Perjalanan yang terkadang harus dilalui dengan keringat dan air mata, juga tawa dan canda, ada bahagia dan  ada duka. Seperti yang pernah kutuangkan sebelumnya. It won’t be easy. Nobody said it was easy. Ir’s been rough. But we are tough. Tak mudah memang mencoba bertahan dan terus mengemudi sebuah kendaraan roda dua di dalam hutan belantara. Terkadang kita harus berhenti sejenak. Mengambil nafas, beristirahat, dan tak jarang memperbaiki sepeda motor yang kita gunakan.

            Aku dan kamu memang belum pernah memasuki hutan belantara selebat ini. Banyak hal yang kita jumpai. Kita pernah bertemu kera berekor emas, merak putih bermata hijau, tapi kadang kita juga bertemu singa bercakar merah, atau  naga beramput pirang. Semuanya pernah kita jumpai. Semua hal yang indah maupun ngeri pernah kita lewati.

            Kadang berpikir untuk berhenti dan kembali ke rumah, meniggalkan semuanya di sini untuk kembali menyusun hidup. Tubuh ini sering merasa lelah untuk kembali melanjutkan apa yang kita mulai, serasa ingin diam dan mulai kembali ke tempat kita berasal. Maaf kalau aku sering tak bisa bertahan di tengah badai yang menghatam hutan hujan tropis ini. Mungkin aku juga pernah terserang hipotermia saat kita mulai mencapai titik tertinggi suatu bukit yang pernah kita daki.

            Sejenak aku berpikir, melihat semuanya ke belakanag dan mulai mencari jawab atas tanya semua ini. Mengapa kita hrus berjalan bersama saat salah satu diantara kita sudah tak punya lagi tenaga untuk melanjutkan? Mengapa  kita selalu keras kepala untuk tidak menyerah kepada ketidakberdayaan.

            Saat aku tertidur, bersandar di sebuah pohon, aku masih terjaga. Lewat sinar temaram api unggun yang kita buat bersama. Kulihat wajahmu begitu berat menganggung letih yang ada. Namun, saat itu juga, aku menemukan jawaban mengapa aku tidak boleh menyerah. Jawaban yang dengan sangat sederhana diberikan kepadaku. Kamu. Kamu sudah lebih dari cukup untuk menajadi jawaban semua pertanyaanku. Kamu seakan-akan menyublim menjadi sebuah teori ekonomi Adam Smith atau teori gravitasi Newtown, atau bahakn teori-teori lain yang belum pernah ditemukan sebelumnya.            
            Jawaban itu masih ada di benakku, aku harap juga dibenakmu. Semuanya yang kita dapat dalam perjalanan ini, tak akan hilang begitu saja ditelan kabut lembah yang begitu pekat. Akan selalu ada sebuah titik dimana kita menemukan cahaya untuk selalu berpegangan tanpa meninggalkan.