Jumat, 14 Februari 2014

Sebuah Surat Elektronik Untuk Seorang Perempuan yang Luar Biasa di Hari yang Istimewa

Sebuah surat elektronik untuk seorang perempuan yang luar biasa di hari yang istimewa.

Hai, bagaimana kabarmu?
Aku dengar akhir-akhir ini kamu sedang sering bertengkar dengan pasanganmu. Apa yang terjadi? Kenapa kalian senang sekali bertengkar? Padahal kudengar kalian saling mencintai dan menyayangi. Yah, walaupun terkadang kalian juga saling mencaci dan memaki, tapi aku yakin kalau caci makian kalian hanya sekecil biji sesawi bila dibandingkan dengan cinta kalian.

Apakah pasanganmu akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan kegiatannya? Atau dia malah asyik bermain dengan teman-temannya? Katamu, dia sekarang sudah tak seperti dulu? Memangnya dia dulu apa? Dinosaurus? atau Ancient Aliens?

Percayalah, dia tetap orang sama. tak ada yang berubah darinya. Termasuk cintanya padamu, tak ada yang berubah. Berkurang pun tidak, bahkan bertambah.

Dua jam yang lalau aku bertemu dengan pasanganmu. Tubuhnya lusuh dan kotor penuh abu vulkanik. Rambutnya apalagi, keras seperti kawat. Tapi raut mukanya gembira, entah kenapa dia seperti itu. Aku mencoba berbicara dengannya. Dia hanya bergumam tak menjelaskan. Hanya sebuah nama yang keluar dari mulutnya dan diucapkan berulang kali. Kamu pasti tak percaya nama siapa yang keluar dari mulutnya. Namamu! Ya! Dia teramat sangat merindukanmu, dia ingin memelukmu, tak ingin melepasmu. Memang terkadang dia kesal dan seakan tak sanggup lagi. Tapi setiap mengingatmu, semua momen ini muncul begitu saja dalam benaknya. Semu aitu membuatnya bertahan dan selalu mau menjadi milikmu.


Kalau aku tidak lupa, dia tadi bercerita tentang ulang tahunmu. Dia masih sangat ingat ketika malam sebelum ulang tahunmu, kalian menghabiskan waktu di sebuah warung soto di sudut kota. Katanya, kamu menghabiskan dua mangkuk soto! Apa itu benar? Aku tak mengira ternyata kau doyan makan juga. Sempat dia bersedih saat meneceritakan hal ini. Katanya, dia adalah pria terbodoh di dunia ini. Awalnya, aku tak tahu apa maksudnya, tapi kemudian dia bercerita. Dia memberimu sebuah kue ulang tahun yang berwarna biru dan berbentuk burung. Kemudian yang kedua, dia memberimu sebuah hadiah yang tak pernah kau suka. Dia menyesal karena tak bisa memberimu sesuatu yang kau suka. Yang dia tahu, dia memberikan cintanya padamu. Semoga kau percaya, karena aku juga percanya dengannya.


Yang ini adalah foto yang dia tunjukkam padaku. Katanya, kau menghabiskan sebuah kue merah di tempat itu. Dia sangat mengenang tempat itu. Dia bercerita padaku bahwa tempat itu adalah salah satu tempat favoritmu. Dia ingin pergi ke tempat itu lagi bersamamu, menghabiskan sepotong kue dan semangkuk macaroni. Menikmati malam berdua, itu yang dia bilang sangat dia inginkan. Bahkan tanpa sepotong red felvet ataupun semangkuk macaroni. Asalakan dia bersamamu. Dia menitipkan sebuah pertanyaan padaku untukmu. Katanya, apakah kau masih mau melakukan hal itu bersamanya?

Dia merindukan sejuta kebersamaan bersamamu. Dia selalu inginmenghabiskan waktu bersamamu. Cintanya padamu katanya melebihi dari yang kau tahu. DIa menitipkan permintaan maaf padaku untukmu. Katanya, dia terlalu sering membuat bersedih dan meneteskan air mata untuknya. Dia hanya tak ingin kamu selalu bersedih. Dia akan selalu mencoba membahagiakanmu dengn berbagai keterbatasnnya.

Kini dia duduk termenung dn mencoba menitipkan bisikin ini kepada angin yang telah tercampur dengan abu vulkanik.


"Happy Valentine My Valentine. Hope that you will be always my valentine"



Itulah akhir percakapanku dengannya. 

Rabu, 15 Januari 2014

Sebuah Alasan Mudah Untuk Bertahan

          Hari ini sedang hujan saat aku mencoba menuangkan sedikit kisah perjalanan kita. Perjalanan yang tak semulus mobil ferrari Michael Schumacer yang meluncur di atas aspal sirkuit. Perjalanan yang terkadang harus dilalui dengan keringat dan air mata, juga tawa dan canda, ada bahagia dan  ada duka. Seperti yang pernah kutuangkan sebelumnya. It won’t be easy. Nobody said it was easy. Ir’s been rough. But we are tough. Tak mudah memang mencoba bertahan dan terus mengemudi sebuah kendaraan roda dua di dalam hutan belantara. Terkadang kita harus berhenti sejenak. Mengambil nafas, beristirahat, dan tak jarang memperbaiki sepeda motor yang kita gunakan.

            Aku dan kamu memang belum pernah memasuki hutan belantara selebat ini. Banyak hal yang kita jumpai. Kita pernah bertemu kera berekor emas, merak putih bermata hijau, tapi kadang kita juga bertemu singa bercakar merah, atau  naga beramput pirang. Semuanya pernah kita jumpai. Semua hal yang indah maupun ngeri pernah kita lewati.

            Kadang berpikir untuk berhenti dan kembali ke rumah, meniggalkan semuanya di sini untuk kembali menyusun hidup. Tubuh ini sering merasa lelah untuk kembali melanjutkan apa yang kita mulai, serasa ingin diam dan mulai kembali ke tempat kita berasal. Maaf kalau aku sering tak bisa bertahan di tengah badai yang menghatam hutan hujan tropis ini. Mungkin aku juga pernah terserang hipotermia saat kita mulai mencapai titik tertinggi suatu bukit yang pernah kita daki.

            Sejenak aku berpikir, melihat semuanya ke belakanag dan mulai mencari jawab atas tanya semua ini. Mengapa kita hrus berjalan bersama saat salah satu diantara kita sudah tak punya lagi tenaga untuk melanjutkan? Mengapa  kita selalu keras kepala untuk tidak menyerah kepada ketidakberdayaan.

            Saat aku tertidur, bersandar di sebuah pohon, aku masih terjaga. Lewat sinar temaram api unggun yang kita buat bersama. Kulihat wajahmu begitu berat menganggung letih yang ada. Namun, saat itu juga, aku menemukan jawaban mengapa aku tidak boleh menyerah. Jawaban yang dengan sangat sederhana diberikan kepadaku. Kamu. Kamu sudah lebih dari cukup untuk menajadi jawaban semua pertanyaanku. Kamu seakan-akan menyublim menjadi sebuah teori ekonomi Adam Smith atau teori gravitasi Newtown, atau bahakn teori-teori lain yang belum pernah ditemukan sebelumnya.            
            Jawaban itu masih ada di benakku, aku harap juga dibenakmu. Semuanya yang kita dapat dalam perjalanan ini, tak akan hilang begitu saja ditelan kabut lembah yang begitu pekat. Akan selalu ada sebuah titik dimana kita menemukan cahaya untuk selalu berpegangan tanpa meninggalkan.