Rabu, 06 Februari 2013

Pendekar Bermodal Kenekatan dan Keingitahuan

Alfa masih terlalu putih untuk mengenal cinta. Kulitnya masih rentan terhadap cuaca malam. Sosoknya masih belum pantas untuk menerima kutukan yang dibingkai dengan senyuman. Satu hal yang dia tahu di dunia ini adalah alasan untuk tak menyerah. Alfa tak mau menyerah kepada ketakutan yang menghadang di pelupuk matanya. Dia adalah pendekar tanpa kedigdayaan yang bermodal kenekatan dan keingintahuan.

Keputusan besar telah diambil olehnya. Bermodal rasa dan asa, Alfa mulai mengayuh perahu kecilnya menyeberangi lautan asmara. Badai cinta membuatnya semakin penasaran. Ombak yang menggulung tak kenal ampun membuat perahunya terombang-ambing. Lambung perahunya hampir pecah. Alfa bukan nelayan yang paham ilmu kelautan atau perbintangan untuk menunjukkan arah. Alfa berdiri, memegang tiang layar dan menantang lautan. "Kalu kau memang pantas, telanlah aku. Aku akan membuatmu menyesal telah menelanku!". Suaraya lantang memecah kegelapan yang menyelimutinya di tengah lautan. Dasar pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan, bodoh. Dia tak tahu apa yang menantinya. Lautan bisa saja menelannya dan membuatnya hilang tanpa jejak, atau badai yang akan menghempaskannya sampai tubuhnya tak dapat lagi ditemukan. Impiannya bisa hilang bersamanya kala itu juga tanpa ada orang yang mengetahuinya.

Seratus empat puluh tiga hari sudah Alfa melewati lautan ganas itu.

Entah bagaimana dia bisa bertahan. Menurut cerita orang, dia membunuh seekor monster lautan berkepala lima dan berutubuh naga dengan jarinya. Tapi itu hanya kabar burung. Alfa telah berteman dengan banyak makhluk laut, ikan terutama. Kalian tahu? Teman-teman barunya berakhir di perut pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan itu. Kejam. Begitulah hidup.

Cinta membuat Alfa berjalan sejauh ini. Dia tidak peduli kata orang akan dirinya. Alfa hanya tahu bahwa cinta harus diperjuangkan sekalipun dunia terbelah menjadi enam atau bahkan delapan. Ya, dia memang belum tahu apa-apa. Alfa masih terlalu putih. Namun, segera dia berubah menjadi sosok kelam karena impiannya sendiri telah membawanya kesini. Kulitnya mulai meranggas, bulu di sekitar wajahnya mulai menjelma seperti rimba belantara, entah makhluk apa Alfa sekarang. Dia lebih mirip seperti orang bodoh yang menggantungkan hidupnya pada impian. Tapi tunggu, dia selangkah lebih baik dari orang bodoh karena Alfa mau memperjuangkannya. Memperjuangkan kematiannya untuk lebih dekat padanya.

Seratus enam puluh empat hari.

Alfa tiba di sebuah garis pantai tak berpenghuni, sepi, hanya dedaunan nyiur menyambutnya tanpa suara. Terkadang beberapa ekor kepiting pantai menyapanya. Dua ekor kepiting melintas di depan jari kaki Alfa. "Siapa orang bodoh ini?", seekor kepiting melempar tanya kepada temannya. "Entahlah, yang jelas orang ini terlalu tolol untuk datang ke pulau ini", teman kepiting melihat mata Alfa dengan tatapan sinis. Sadar perutnya sedang kosong, Alfa menyambar dua makhluk kecil itu dengan tangannya dan mulai mengunyahnya. Mentah-mentah!! Tak ada api untuk membakarnya.

Alfa mulai risau. Pulau itu telah dia jelajahi. Tak ada manusia, hanya tumbuhan dan hewan yang terkadang berakhir di perutnya. Pulau ini sudah menjadi rumah baru bagi Alfa. Rumah baru yang semakin tak bersahabat. Pohon-pohon dengan segera menyembunyikan buahnya saat melihat sosok pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan melintas. Hewan-hewan serta merta menghilang entah kemana. Banyak diantara mereka yang memilih menenggelamkan diri ke lautan dan mati daripada harus berakhir sebagai santapan Alfa.

Kini Alfa hanya sendiri. 

Tidak, dia tak sendiri. Alfa belakangan menemukan teman baru. Sebuah kotak kayu tua yang dia bawa dari rumahnya. Kotak kayu yang entah darimana pernah bisa dia buka. Sekarang, kotak kayu itu tak sudi membuka dirinya. Alfa masih ingat betul cara membuka kotak kayu itu. Hanya saja, kotak itu tak mau dibuka. Alfa membawa kotak kayu kemanapun ia melangkah. Saat malam datang kotak itu berubah menjadi sebuah benda yang nyaman dalam pelukannya.

Ada yang bilang, isi kotak itu adalah impian Alfa. Dulu, saat Alfa masih putih, banyak orang yang melihat Alfa bermain dengan kotak itu. Kotak itu pernah membuat Alfa penuh warna. Hidup Alfa terasa penuh harapan dan impian saat kotak itu terbuka untuknya, dulu.

Kotak kayu itu hanya bisu sekarang. Alfa tak tahu harus berbuat apa. Seorang sahabat berkata padanya bahwa di pulau ini ada seorang pintar yang dapat membantunya membuka kotak kayu Alfa. Sayang, orang pintar itu telah hilang. Hanya tengkorak bisu yang dia temukan di sebuah pondok di tengah hutan.

Kini Alfa hanya bisa memeluk kotak kayu itu. Impian dan asa nya telah membawanya ke pulau tak berpenghuni ini. Lautan badai dan gulungan ombak dia tempuh untuk bertemu dengan impiannya. Tekad dan keingintahuannya membawanya terperosok dalam kesunyian dan kesendirian. Lahir dan batin di kesepian di pulau mati ini. Perahunya hancur, Alfa tak bisa kembali ke titik dimana ia mengawali perjalanannya.

Tiga ratus dua puluh tujuh hari. 

Alfa tertidur lelap berselimut bintang dan beralas pasir pantai. Kotak kayu itu tetap terjaga dalam pelukannya. Impiannya ia dekap erat. Impiannya membawanya ke fase ini.

Tiga ratus dua puluh delapan hari.

Alfa tak pernah bangun dari tidurnya sejak malam itu. Impiannya membunuhnya.

Alfa masih terlalu putih untuk mati.