Rabu, 30 Januari 2013

Konspirasi Nada dan Semesta

Gak sengaja kemarin nemu nih buku pas lagi jalan-jalan ke sebuah toko buku di sudut perempatan kotaku. Oke juga nih bukunya, jadi pengen nulis arti lagu buat diri ku sendiri hehehe...


Lagu punya kekuatan mistis dalam merekayasa kenangan dan memori dari jutaan syaraf di otak kita. Lagu, ibarat sistem pemerintahan adalah sistem pemerintahan diktatorial. Diktatorial penuh lagu dapat menyeret alam bawah sadar kita pada sebuah reka peristiwa apapun, bahkan bisa menenggelamkan kita pada sebuah memori di dasar ingatan yang tak mau kita jamah. Saat lagu melakukan tugasnya, upaya kita untuk melawannya justru sia-sia, atau malah semakin menjerumuskan kita ke alam rekaannya. Lagu bisa menjadi inspirasi atau mungkin bencana yang ingin kita hindari.

Beberapa playlistku memang sering membuatku terbenam dalam indahnya imaji yang dihasilkan oleh susunan nada-nada yang entah bagaimana caranya bisa berkolaborasi apik dengan konspirasi kata dalam setiap baitnya. Seolah-olah lagu memiliki asisten pribadi yang bernama semesta. Mereka berdua bahu membahu dengan berbagai macam teori konspirasinya untuk membuat seorang anak manusia larut dalam kenangan menyenangkan bahkan memilukan, atau mungkin juga perpaduan antara keduanya.

Deretan kata yang indah ataupun rancu dipadu dengan segelintir nada yang pas, akan mulai mengantarkan kita pada perjalanan batin dan logika tanpa perlu mengenal asa. Sebuah lagu cukup menjadi cambuk bahkan tembok batu berduri.

Aku sendiri punya sebuah lagu yang selalu menjelma menjadi cairan arsenik yang terlanjur larut dalam segelas es soda gembira, dan dengan indahnya tersedia di tengah padang gurun saat aku disana. Nikmat tapi mematikan. Mengerikan. Ironis. Tragis. Mistis.

Sebenarnya, lirik dalam lagu ini tidak banyak menyiratkan apa yang aku alami. Tapi entah kenapa, alunan nadanya menyeretku larut ke sebuah kenangan yang ingin kulupakan. Lagi- lagi semesta berkonspirasi membuat seorang anak manusia tak berdaya. 

Dinginnya, sejuknya, panasnya, getirnya, wangi rambutnya, harum tubuhnya, bajunya, celananya, sepatunya, matanya, tahi lalatnya yang terpaku di pelipisnya. Nada-nada itu mengantarkan jutaan sel di otakku seolah-olah bisa kembali menyentuhnya. Alam seakan berbalik dan mengijinkan sensor gerak di ujung tangan ini merasakan halus dan kasarnya kulit dua insan manusia yang pernah dirundung hujan asam bercampur cinta.


we’ve get along together

i should have known

you’re the best that i can love
till now it’s hard for me to face it
why didn’t we meet each other soon



i left them all behind you, only for you

would you believe me

i put my trust on you
but deep inside i realize
that i can’t, no i can’t



Sebuah penggalan lirik dari album pertama D'Cinnamons bertajuk "Good Morning" yang diberi judul "So Would You Let Me Be". Entah kenapa lagu ini serasa memiliki daya magis untuk membuka ruang gelap di dalam memori untuk muncul merasakan hangatnya sinar matari. Memori yang tak diijinkan oleh pemiliknya untuk keluar, menjadi tercabut ke permukaan begitu saja.

Sebuah alunan melodi yang berkolaborasi dengan deretan kata memang bisa menyimpan kenangan di belakang. Bukan berarti sebuah lagu memaksa waktu untuk kembali berputar dan merekayasa semesta di masa lalu menjadi di masa sekarang. Lagu bukanlah lini masa di media sosial yang bisa dilihat siapa saja dan dapat dinikmati ratusan pembacanya atau penikmatnya. Lagu memiliki intreprestasi berbeda. Biarlah alam dan semesta yang merangkai arti bagi sebuah kombinasi alam yang unik ini. 

Lagu menyimpan sedikit ruang untuk sekedar bernostalgia dan memelihara rasa tanpa tendensi untuk merekayasa kenangan di memori kita menjadi nyata.