Rabu, 10 April 2013

Sebuah Perjalanan Rasa

Pagi ini terasa lebih ringan. Siang tak pernah lagi terlalu terik, dan malam tak pernah lagi terlalu dingin. Kututup malam dengan sebuah senyum yang tersimpul rapi tanpa suara. Aku masih tak tahu kenapa sekarang semua menjadi begitu nyata. Semua khayal dan mimpi yang dulu tak pernah kusangka, kini menjadi hari-hari yang mengalir deras dalam gelora dada. 

Satu hal yang aku tahu, semua ini bermula dari sebuah perjumpaan biasa yang kemudian terukir menjadi pertemuan yang tak biasa. Sebuah tempat peraduan yang sering menampung jutaan rasa dan asa ku. Sebuah tempat dimana aku sering menghabiskan waktuku lebih banyak dibandingkan di bangku kelas ber-AC.

Hari itu, selembar kain berwarna coklat melindungi tubuhmu dari hiruk pikuk tempat peraduanku. Sebuah nama yang kemudian kudapat dari seorang teman. AVCM. Nama yang tak akan pernah menjadi biasa lagi. Siang itu entah apa yang terjadi. Siang yang mengantarkan aku sampai pada titik ini. Titik dimana tawa, canda, tangis, amarah, benci, suka, juga cinta mengiringi setiap perjumpaan dan pemaknaan dari sebuah perbedaan.

Sebuah proses yang menguras banyak tanya. Pertanyaan yang masih sama-sama "kita" cari jawabnnya. Ataukah sebuah pertanyaaan yang hanya akan terjawab dengan pertanyaan baru? Bukan hal yang asing lagi bagi aku dan kamu untuk selalu beradu pendapat tentang jawaban dari sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang masih kita cari jawabnya. Bersama. Kita akan mencari jawaban itu bersama, tidak lagi sendiri. Sebuah jalan panjang yang terpampang bukan lagi menjadi ketakutan karena aku tahu, baik aku ataupun kamu akan berada di jalan itu. Menjalaninya bersama. Aku percaya bila suatu saat aku lelah, akan ada kamu yang selalu menguatkan aku. Aku berjanji, bila suatu saat kau lelah, aku akan di sana menguatkanmu. 

Perjalanan ini menjadi semakin ringan saat kau di sini. Banyak perbedaan yang menghiasi perjalanan ini. Tapi, bukankah itu yang akan membuat petualangan ini semakin berwarna? 

Terimakasih untuk perjalanan selama ini, dan mari kita lanjutkan perjalanan di depan. Akan banyak tantangan yang menghadang, namun tenang. I won't give on us. AVCM, let's make it works :)


Rabu, 06 Februari 2013

Pendekar Bermodal Kenekatan dan Keingitahuan

Alfa masih terlalu putih untuk mengenal cinta. Kulitnya masih rentan terhadap cuaca malam. Sosoknya masih belum pantas untuk menerima kutukan yang dibingkai dengan senyuman. Satu hal yang dia tahu di dunia ini adalah alasan untuk tak menyerah. Alfa tak mau menyerah kepada ketakutan yang menghadang di pelupuk matanya. Dia adalah pendekar tanpa kedigdayaan yang bermodal kenekatan dan keingintahuan.

Keputusan besar telah diambil olehnya. Bermodal rasa dan asa, Alfa mulai mengayuh perahu kecilnya menyeberangi lautan asmara. Badai cinta membuatnya semakin penasaran. Ombak yang menggulung tak kenal ampun membuat perahunya terombang-ambing. Lambung perahunya hampir pecah. Alfa bukan nelayan yang paham ilmu kelautan atau perbintangan untuk menunjukkan arah. Alfa berdiri, memegang tiang layar dan menantang lautan. "Kalu kau memang pantas, telanlah aku. Aku akan membuatmu menyesal telah menelanku!". Suaraya lantang memecah kegelapan yang menyelimutinya di tengah lautan. Dasar pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan, bodoh. Dia tak tahu apa yang menantinya. Lautan bisa saja menelannya dan membuatnya hilang tanpa jejak, atau badai yang akan menghempaskannya sampai tubuhnya tak dapat lagi ditemukan. Impiannya bisa hilang bersamanya kala itu juga tanpa ada orang yang mengetahuinya.

Seratus empat puluh tiga hari sudah Alfa melewati lautan ganas itu.

Entah bagaimana dia bisa bertahan. Menurut cerita orang, dia membunuh seekor monster lautan berkepala lima dan berutubuh naga dengan jarinya. Tapi itu hanya kabar burung. Alfa telah berteman dengan banyak makhluk laut, ikan terutama. Kalian tahu? Teman-teman barunya berakhir di perut pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan itu. Kejam. Begitulah hidup.

Cinta membuat Alfa berjalan sejauh ini. Dia tidak peduli kata orang akan dirinya. Alfa hanya tahu bahwa cinta harus diperjuangkan sekalipun dunia terbelah menjadi enam atau bahkan delapan. Ya, dia memang belum tahu apa-apa. Alfa masih terlalu putih. Namun, segera dia berubah menjadi sosok kelam karena impiannya sendiri telah membawanya kesini. Kulitnya mulai meranggas, bulu di sekitar wajahnya mulai menjelma seperti rimba belantara, entah makhluk apa Alfa sekarang. Dia lebih mirip seperti orang bodoh yang menggantungkan hidupnya pada impian. Tapi tunggu, dia selangkah lebih baik dari orang bodoh karena Alfa mau memperjuangkannya. Memperjuangkan kematiannya untuk lebih dekat padanya.

Seratus enam puluh empat hari.

Alfa tiba di sebuah garis pantai tak berpenghuni, sepi, hanya dedaunan nyiur menyambutnya tanpa suara. Terkadang beberapa ekor kepiting pantai menyapanya. Dua ekor kepiting melintas di depan jari kaki Alfa. "Siapa orang bodoh ini?", seekor kepiting melempar tanya kepada temannya. "Entahlah, yang jelas orang ini terlalu tolol untuk datang ke pulau ini", teman kepiting melihat mata Alfa dengan tatapan sinis. Sadar perutnya sedang kosong, Alfa menyambar dua makhluk kecil itu dengan tangannya dan mulai mengunyahnya. Mentah-mentah!! Tak ada api untuk membakarnya.

Alfa mulai risau. Pulau itu telah dia jelajahi. Tak ada manusia, hanya tumbuhan dan hewan yang terkadang berakhir di perutnya. Pulau ini sudah menjadi rumah baru bagi Alfa. Rumah baru yang semakin tak bersahabat. Pohon-pohon dengan segera menyembunyikan buahnya saat melihat sosok pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan melintas. Hewan-hewan serta merta menghilang entah kemana. Banyak diantara mereka yang memilih menenggelamkan diri ke lautan dan mati daripada harus berakhir sebagai santapan Alfa.

Kini Alfa hanya sendiri. 

Tidak, dia tak sendiri. Alfa belakangan menemukan teman baru. Sebuah kotak kayu tua yang dia bawa dari rumahnya. Kotak kayu yang entah darimana pernah bisa dia buka. Sekarang, kotak kayu itu tak sudi membuka dirinya. Alfa masih ingat betul cara membuka kotak kayu itu. Hanya saja, kotak itu tak mau dibuka. Alfa membawa kotak kayu kemanapun ia melangkah. Saat malam datang kotak itu berubah menjadi sebuah benda yang nyaman dalam pelukannya.

Ada yang bilang, isi kotak itu adalah impian Alfa. Dulu, saat Alfa masih putih, banyak orang yang melihat Alfa bermain dengan kotak itu. Kotak itu pernah membuat Alfa penuh warna. Hidup Alfa terasa penuh harapan dan impian saat kotak itu terbuka untuknya, dulu.

Kotak kayu itu hanya bisu sekarang. Alfa tak tahu harus berbuat apa. Seorang sahabat berkata padanya bahwa di pulau ini ada seorang pintar yang dapat membantunya membuka kotak kayu Alfa. Sayang, orang pintar itu telah hilang. Hanya tengkorak bisu yang dia temukan di sebuah pondok di tengah hutan.

Kini Alfa hanya bisa memeluk kotak kayu itu. Impian dan asa nya telah membawanya ke pulau tak berpenghuni ini. Lautan badai dan gulungan ombak dia tempuh untuk bertemu dengan impiannya. Tekad dan keingintahuannya membawanya terperosok dalam kesunyian dan kesendirian. Lahir dan batin di kesepian di pulau mati ini. Perahunya hancur, Alfa tak bisa kembali ke titik dimana ia mengawali perjalanannya.

Tiga ratus dua puluh tujuh hari. 

Alfa tertidur lelap berselimut bintang dan beralas pasir pantai. Kotak kayu itu tetap terjaga dalam pelukannya. Impiannya ia dekap erat. Impiannya membawanya ke fase ini.

Tiga ratus dua puluh delapan hari.

Alfa tak pernah bangun dari tidurnya sejak malam itu. Impiannya membunuhnya.

Alfa masih terlalu putih untuk mati.


Rabu, 30 Januari 2013

Konspirasi Nada dan Semesta

Gak sengaja kemarin nemu nih buku pas lagi jalan-jalan ke sebuah toko buku di sudut perempatan kotaku. Oke juga nih bukunya, jadi pengen nulis arti lagu buat diri ku sendiri hehehe...


Lagu punya kekuatan mistis dalam merekayasa kenangan dan memori dari jutaan syaraf di otak kita. Lagu, ibarat sistem pemerintahan adalah sistem pemerintahan diktatorial. Diktatorial penuh lagu dapat menyeret alam bawah sadar kita pada sebuah reka peristiwa apapun, bahkan bisa menenggelamkan kita pada sebuah memori di dasar ingatan yang tak mau kita jamah. Saat lagu melakukan tugasnya, upaya kita untuk melawannya justru sia-sia, atau malah semakin menjerumuskan kita ke alam rekaannya. Lagu bisa menjadi inspirasi atau mungkin bencana yang ingin kita hindari.

Beberapa playlistku memang sering membuatku terbenam dalam indahnya imaji yang dihasilkan oleh susunan nada-nada yang entah bagaimana caranya bisa berkolaborasi apik dengan konspirasi kata dalam setiap baitnya. Seolah-olah lagu memiliki asisten pribadi yang bernama semesta. Mereka berdua bahu membahu dengan berbagai macam teori konspirasinya untuk membuat seorang anak manusia larut dalam kenangan menyenangkan bahkan memilukan, atau mungkin juga perpaduan antara keduanya.

Deretan kata yang indah ataupun rancu dipadu dengan segelintir nada yang pas, akan mulai mengantarkan kita pada perjalanan batin dan logika tanpa perlu mengenal asa. Sebuah lagu cukup menjadi cambuk bahkan tembok batu berduri.

Aku sendiri punya sebuah lagu yang selalu menjelma menjadi cairan arsenik yang terlanjur larut dalam segelas es soda gembira, dan dengan indahnya tersedia di tengah padang gurun saat aku disana. Nikmat tapi mematikan. Mengerikan. Ironis. Tragis. Mistis.

Sebenarnya, lirik dalam lagu ini tidak banyak menyiratkan apa yang aku alami. Tapi entah kenapa, alunan nadanya menyeretku larut ke sebuah kenangan yang ingin kulupakan. Lagi- lagi semesta berkonspirasi membuat seorang anak manusia tak berdaya. 

Dinginnya, sejuknya, panasnya, getirnya, wangi rambutnya, harum tubuhnya, bajunya, celananya, sepatunya, matanya, tahi lalatnya yang terpaku di pelipisnya. Nada-nada itu mengantarkan jutaan sel di otakku seolah-olah bisa kembali menyentuhnya. Alam seakan berbalik dan mengijinkan sensor gerak di ujung tangan ini merasakan halus dan kasarnya kulit dua insan manusia yang pernah dirundung hujan asam bercampur cinta.


we’ve get along together

i should have known

you’re the best that i can love
till now it’s hard for me to face it
why didn’t we meet each other soon



i left them all behind you, only for you

would you believe me

i put my trust on you
but deep inside i realize
that i can’t, no i can’t



Sebuah penggalan lirik dari album pertama D'Cinnamons bertajuk "Good Morning" yang diberi judul "So Would You Let Me Be". Entah kenapa lagu ini serasa memiliki daya magis untuk membuka ruang gelap di dalam memori untuk muncul merasakan hangatnya sinar matari. Memori yang tak diijinkan oleh pemiliknya untuk keluar, menjadi tercabut ke permukaan begitu saja.

Sebuah alunan melodi yang berkolaborasi dengan deretan kata memang bisa menyimpan kenangan di belakang. Bukan berarti sebuah lagu memaksa waktu untuk kembali berputar dan merekayasa semesta di masa lalu menjadi di masa sekarang. Lagu bukanlah lini masa di media sosial yang bisa dilihat siapa saja dan dapat dinikmati ratusan pembacanya atau penikmatnya. Lagu memiliki intreprestasi berbeda. Biarlah alam dan semesta yang merangkai arti bagi sebuah kombinasi alam yang unik ini. 

Lagu menyimpan sedikit ruang untuk sekedar bernostalgia dan memelihara rasa tanpa tendensi untuk merekayasa kenangan di memori kita menjadi nyata.