Rabu, 26 Desember 2012

Beristirahatlah Kau Mimpi

Merajut mimpi sekaligus bercermin diri kadang menciutkan ekspetasi. Banyak yang bilang mimpi itu ajaib. Ya, memang ajaib. Bagiku, semakin ajaib saat aku tak ingin bangun dan terus saja menyerahkan takdirku pada mimpiku. Menyerahkan, menyerah, pasrah. Mimpi kadang membuat kita terlalu nyaman untuk sekedar beranjak. Bagaimana mau beranjak saat mimpi itu benar-benar indah? Pernah suatu ketika aku terbangun saat mimpi sedang memasuki dunia nyataku. Akupun segera ingin menidurkan diriku untuk bisa kembali kepada mimpi itu. Mataku kupaksa untuk terpejam dan larut supaya mimpi kembali menjemputku ke alam yang penuh dengan imajinya. Tapi sayang, aku tak bisa kembali kesana. Mataku terlanjur terbuka, ragaku telah terjaga, dan hasratku tak pernah menghilang. Hmmm.....Mimpi terkadang justru membunuh kita saat kita tak bisa menerima bahwa dia hanya sekedar bunga di alam sana...

Apa kau tahu? Bunga di alam sana tak akan pernah layu. Tak perlu air untuk membuatnya tetap segar. Dia akan menjaga sendiri hidupnya tanpa kita. Bunga itu akan tetap disana. Akarnya selalu bergerak memecah bebatuan keras yang menghalangi jalannya. Mahkotanya akan selalu berganti sekalipun panas mengeringkannya dan hujan badai merontokkannya. 

Yaa...
Biarlah segala impian, harapan, dan kau tetap disana. Kau akan tetap hidup tanpa ada aku. Kau sendiri yang memelihara hidupmu.

Tahukah kamu? Hidupmu menyalakan setitik pelita bagi orang di dalam gua kehampaan. Orang yang selalu mencari-cari aalsan untuk keluar dari kegelapan. Sekalipun tak ada jalan keluar, kau tetap memberi terang dan harapan.

Aku terjebak di sebuah tempat bernama mimpi dan realita. Aku seakan-akan berada di tengahnya. Kedua saling menarik dari masing-masing kutubnya. Mencoba memberi berbagai alsan supaya aku berkata," Ya!! aku mau di sini!!".

Mimpi memang indah. Aku bermimpi bisa kembali ke sebuah kota yang hening tanpa suara. Hening sampai seekor tupai pun bisa mendengar kata hati yang tersembunyi entah dimana.

Realita terkadang membuatku menyerah pada mimpi. Sebuah suasana dimana aku tak bisa lagi mendengar suara haitku sendiri sekalipun enam miliar manusia di bumi ini moksa.


Kakiku sudah lelah untuk berjalan tanpa arah. Kakiku hanya dua organ dinamis yang menerima perintah dari apa yang kita kenal dengan otak. Aku tak ingin terus melangkah karena perintah otakku. Sekali waktu, aku ingin melangkah dengan hati sekalipun itu akan membuatku masuk ke sebuah onak berduri. 

Mungkin sekarang aku akan memberi kesempatan untuk semua mimpiku beristirahat. Beristirahatlah kau mimpi. Aku tahu kau lelah ku kejar. Sekarang aku berhenti disini. Aku hanya berteduh di bawah sebuah pohon rindang dan mengaliri tengorokanku dengan cairan. Hei mimpi, kini kau bisa sedikit meringankan bebanmu karena tak lagi aku mengejarmu. Aku lelah, kaupun pasti juga lelah, aku tahu.

Hei mimpi, aku tak akan pergi, aku hanya beristirahat sejenak. Mungkin kali ini aku akan memberimu kesempatan untuk menghampiriku sekali waktu, menengokku. Menanyakan kepadaku, apakah aku masih bermimpi tentang mu atau tidak?

Kita lihat saja,

"Hei mimpi...", aku memanggilmu. Aku di sini, hanya beristirahat :)