Senin, 19 November 2012

Akuntansi: Sebuah Displin Ilmu Penuh Manipulasi

Aku dan beberapa teman SMA ku terlibat pembicaraan yang cukup hangat di sebuah warung burjo. Guyuran hujan tak mampu menjinakkan semangat kami untuk beropini dan memaparkan kegundahan kami masing-masing atas disiplin ilmu yang kami ambil pribadi lepas pribadi. Setelah melepas rindu kepada almamater SMA kami di sebuah ajang lomba basket lah kami berkumpul malam itu.

Obrolan berangkat dari kegalaun salah satu teman kami, sebut saja M. Dia bercerita tentang kebingungan yang menghampiri dirinya untuk memilih topik skripsi yang akan dia tulis. M adalah mahasiswa semester 7 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja. Awalanya, aku hanya mendengarkan sambil sedikit-sedikit mencoba memahami persoalan yang ada. Percakapan cukup menarik karena masing-masing di antara kami hampir menuangkan kegelisahannya terhadap disiplin ilmu yang mereka geluti masing-masing. Mulai dari Ilmu Komunikasi, Ekonomi Pembangunan, Hubungan Internasional, sampai Jurnalis Fotografer yang menjadi minat salah satu teman kami. Aku mulai tergelitik dengan bidang ilmuku sendiri, yaitu AKUNTANSI. Ya, akan ada banyak kisah dibalik bidang studiku ini. Kali ini bidang studi ku ini membuat ku gelisah karena ada beberapa hal dari disiplin ilmuku ini yang bertentangan dengan nuraniku.

Memang, pengetahuanku tentang akuntansi dan seluk beluknya masih dibilang dangkal dan baru sebatas kulitnya saja. Akan tetapi, aku tak takut untuk sekedar bertanya karena rasa penasaranku. Oke, kegelisahanku ini aku dapati saat aku mengikuti perkuliahan mata kuliah Cost Accounting atau Akuntansi Biaya. Bukan Cost Accounting yang akan kubahas di sini, tetapi sebuah pengantar tentang akuntansinya.

Dalam akuntansi, seorang akuntan harus mampu membuat dan menyediakan Laporan Keuangan yang dibutuhkan. Nah, dalam pembuatannya ini, terdapat metode yang berbeda-beda tergantung kepada tujuan dan pada siapa laporan untuk akan digunakan.

Pertama, Laporan Keuangan untuk Internal Perusahaan
Tidak ada standar pasti yang digunakan untuk mebuat laporan keuangan bagi internal perusahaan ini. Setiap perusahaan terserah memakai metode dan standar apapun yang dianggap paling sesuai dan mencerminkan keadaan perusahaannya sendiri.

Kedua, Laporan Keuangan untuk Pemerintah
Dalam laporan keuangan untuk pemerintah ini, atau sering digunakan untuk keperluan membayar pajak perusahaan bagi pemerintah, ada suatu standar tertentu yang disebut dengan GAAP.

Ketiga, Laporan Keuangan untuk Investor/ Pemegang Kepentingan
Laporan keuangan yang digunakan bagi pemegang kepentingan ini jga memiliki standar yang berbeda dari yang telah saya uraikan diatas, Biasanya, bagi para investor, laporan keuangan akan dibuat "semenarik" mungkin supaya investor mau menyuntikkan dananya dan berinvestasi disana.

Lalu, apa yang salah? Memang tidak ada yang salah dari ketiga hal di atas, karena semuanya itu memang dibenarkan dalam disiplin ilmu akuntansi. Pembuatan Laporan yang berbeda-beda semacam itu memang hal yang wajar dan tidak melanggar hukum dalam ilmu akuntansi, walaupun akan masih terdapat banyak celah yang memungkinkan terjadinya peneyelewengan seperti dalam kasus ENRON.

Kalau tidak ada yang salah, mengapa saya harus "galau" dengan disiplin ilmu saya?

Menurut saya, akuntansi seperti dua buah mata pisau. Saat ilmu ini berada di tangan yang tepat, akuntansi akan menjadi sangat berguna. Akan tetapi, bila berada di tangan yang salah, justru penyelewengan lah yang akan banyak terjadi dan merugikan orang lain. 

Satu hal lagi yang membuat saya bertanta-tanya, mengapa kita harus melaporkan hal yang sejatinya sama ke dalam bentuk yang berbeda? Sebagai contoh, perusahaan kita laba 10 juta rupiah menurut laporan bagi internal perusahaan. Kemudian, dalam laporan keuangan bagi pemerintah untuk keperluan pajak, laba kita yang tercantum sebesar 8juta rupiah, hal ini rasional karena perusahaan pasti menghindari pajak yang tinggi. Setelah itu, laporan keuangan bagi investor, laba kita tampak 12 juta rupiah, jelas laba dibuat besar supaya perusahaan terlihat memiliki performa yang lebih baik.

Sejauh ini, inilah yang saya tangkap dari apa itu akuntansi. Bahwa pembuatan laporan yang berbeda tergantung tujuannya walaupun sejatinya sama itu bukanlah sesuatu yang salah. Tentu saja akan banyak koreksi mungkin setelah ini karena saya sendiri hanya mahasiswa yang masih berada pada semester 3 dunia perkuliahan. 

Dunia akuntansi memang sangat dekat dengan manipulasi, kita tidak dapat menutup mata akan itu. Akan tetapi, semuanya kembali lagi kepada usernya. Saat usernya memiliki integritas yang baik, maka manipulasi tidak akan terjadi, begitu pula sebaliknya.

Bagi saya, sejauh ini saya memegang prinsip bahwa apa yang sedang saya pelajari sekarang akan menjadi sebatas disiplin ilmu saya, bukan cara pandang apalagi pedoman hidup saya.

Semoga masyarakat kita semakin bijak menyikapi segala celah yang ada. Sebuah celah untuk diperbaiki, bukan jusrtu untuk dimasuki.