Selasa, 25 September 2012

Lampu Kuning di Ruang Tamu

Cinta dan Luka- Club 80's
Pernah kukira ini tentang cinta, oh ternyata hanya sahabat setia
Pernah kau minta bunuh cintaku, kau membisu takkan pernah jawabku

Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjain kisah cinta nyata


Lampu kuning di ruang tamu masih tergantung pada tempatnya. Pancarannya menarik dengan segala daya pikatnya. Sinarnya cukup memberikan terang bagi gelap di sekelilingnya. Indah memang, sebuah cahaya diantara malam. 

Aku anak kecil yang selalu takut saat matahari mulai menyelinap pergi dari cakrawala. Mencari celah untuk sekedar bersembunyi. Malam selalu menakutkan bagiku, bagi anak kecil yang tak akan kuat diterpa angin malam. Selalu kupercepat langkah kecilku untuk memasuki rumahku, berharap mendapat seribu satu perlindungan dari ganasnya malam. Aku takut gelap dan aku butuh terang.

Lampu kuning tergantung di atas kepalaku. Aku anak kecil. Ingin aku meraih lampu itu dengan sejuta sinarnya. Tak akan aku lepas saat aku bisa membawanya masuk ke dalam kamarku untuk menemaniku dari gelapnya malam. Sebuah terang yang pasti akan menjadi pelindungku saat gelap datang. Seperti orang gila aku melompat-lompat di bawahnya. Tanganku bergerak seperti ingin meraih bintang dalam pekat malam. Aku mencoba menggapai lampu itu. Aku lelah, tapi aku tak menyerah. Setiap malam datang, sekitar dua jam waktuku kuhabiskan di bawah temaram lampu ruang tamuku. Kakiku sering linu karena aku selalu berlompatan. Keringatku selalu deras membasahi kening dan pipiku.

Kuambil kursi untuk membantuku meraih lampu itu. Aku berlompatan di atas kursi kayu. Tiga kali aku melompat dan aku terpelanting jatuh ke lantai. Badanku bersatu dengan dinginnya lantai pada malam itu. Sejenak aku tersadar, aku makin dihantui oleh gelap malam. Lampu itu harapanku untuk bisa bertahan. Aku harus bisa mendapatkannya. Harapanku satu-satunya.

Belum selesai aku berdiskusi dengan asaku. Aku tersadar, harapan yang selama ini membuatku sakit, lelah, bahkan terjatuh dari kursi hanya untuk mengusir rasa takutku. Harapan yang justru menenggelamkan aku, bukan membangkitkan aku. 

Aku ambil kursiku, aku kembalikan di tempatnya, di sebuah sudut ruang tamuku dengan gelap yang teramat sangat. Entah apa yang merasukiku,aku anak kecil yang takut gelap, berani melangkah tanpa cahaya di sekitarku. Aku menerobos malam tanpa rasa takut sedikitpun.

Aku mati rasa. Aku tak peduli dengan harapan.

Harapan yang selama ini kudambalan justru membuatku semakin tak bisa merasakan indahnya sebuah impian. Harapan yang selama ini membuatku melompat tak kenal lelah, membuat kakiku linu, bahkan membuat aku jatuh dari kursiku.

.............................................................................................................................................


Aku adalah orang yang sudah tak bisa percaya dengan harapan. Atau mungkin sedang tak bisa percaya dengan harapan. Harapan selama ini membawa aku pada kekecewaan. aku adalah orang yang mati rasa, atau sedang mati rasa. Alasannya klise, CINTA

Cinta, aku sedang tak bisa merasakannya, atau sedang tak mau berurusan dengannya. Aku memang sedang jatuh cinta atau aku baru saja jatuh cinta. Ya, sudah lama rasanya aku tak merasakan hal seperti ini. Rasa dimana aku ingin segera bertemu lagi saat baru saja aku keluar dari pintu gerbang sebuah rumah. Rasa dimana aku aku sama sekali tak peeduli dengan topik pembicaraan dua insan manusia. Saat aku hanya merasa senang ketika bisa menghabiskan waktu bersama. Itu semua lampu kuning di ruang tamuku.

Aku terjatuh dari kursiku. Harapan yang tergantung di ruang tamuku tak akan pernah aku dapatkan. Setinggi apapun aku melompat, sekeras apapun aku mencoba. Itu tak akan mengubah apapun. 

Memang, rasa antipati terhadap apa yang disebut cinta sekarang sedang muncul di hidupku. Terlalu sering jatuh mungkin yang membuatku menjadi seperti ini. Ini bukan kemarahan, ini hanya ketidakmampuanku memahami dinamika kehidupan.

Aku sedang berada pada titik dimana aku tak ingin atau sedang tak ingin percaya dengan harapan terutama cinta. Semoga ini bisa membuatnya bahagia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar