Minggu, 19 Agustus 2012

Pecah

Ratusan hari telah kuhabiskan tanpa kehadiranmu. Akupun belajar untuk terbiasa dengan itu. Terbiasa menghadapi dunia baruku yang tanpa kamu, lagi. Memang berat dan tak mudah. Semua terasa berbeda, untukku. Untukmu? Kurasa kau tak rasakan perubahan berarti dalam hidupmu setelah kita tak bersama lagi. Ya memang, tak akan ada perubahan berarti dalam hidupmu setelah kau mengusirku pergi dari hidupmu malam itu. Malam itu tak pernah sekalipun kuinginkan, terbersit dipikiranku pun tak pernah. Bodohku malam itu, kenapa aku hanya diam dan tak coba melawan? Ah siapa bilang, aku sudah melawan tapi kau malas mendegar. Tak ada guna kan? Ya, berbusa mulut ini tak akan menyurutkan niatmu untuk pergi dan mendepakku dari hidupmu. Kau pun juga tak peduli aku datang di tengah malam yang dingin. Kau pasti juga sama sekali tak peduli aku datang dengan sepasang sandal jepit di kakiku. Dingin, asal kau tahu. Sekarang? Dingin, kau pasti sudah tahu.

Kisah itu telah lama berlalu. Malam itu, mungkin aku sudah lupa setiap detailnya. Saat aku datang. Saat kau tak mau keluar, kemudian tetap keluar. Saat kita duduk bersama. Aku di kiri, kau di kanan. Saat air mata keluar dan bumi yang dingin terbasahi. Ah, aku lupa kejadiannya. Hanya saja, aku tak pernah lupa rasanya.

Aku lupa kejadiannya. Hanya saja, aku tak pernah lupa rasanya.

Malam ini otakku melawan saat kularang kembali kepadamu. Kembali mengingatmu, kembali kepada wanita yang pernah selalu menuntut otak ini bekerja untuk memikirkannya. Yah, tak apalah asalkan hanya otakku saja yang bekerja malam ini untuk sekedar mengingat kejadian di masa lampau. Otakku memang sudah tak sesegar dulu. Dia sering mengalami disfungsi karena terlalu sering bekerja. Otakku sering melupakan kejadian di masa lampau dan tak sanggup lagi mengingatnya. 

Tunggu dulu!! Bagian tubuhku yang lain meronta dan tak terima. Hatiku meracau dan gelisah saat otakku bekerja mengingatmu. Hatiku memang tak pernah ingat kejadian di masa lampau, tapi dia tak akan pernah lupa rasanya.

Aku tahu hatiku bekerja ekstra keras untuk menentang otakku. Akhir-akhir ini otak dan hatiku memang sering bertengkar. Otakku bekerja, hatiku menolak. Otakku ingin kembali, hatiku ingin berlari. Terkadang juga justru hatiku yang ingin kembali, dan lagi, otakku bergantian menolaknya dan mengirim perintah untuk melangkah maju, bukan mundur.

Tubuhku serasa ingin pecah dan menghambur ke segala arah saat dua organ ini beradu. Tak ada yang ingin mengalah, semuanya maracau dan bertingkah. Indah, tapi juga membuat resah.

Sudahlah, hentikan saja. Berhenti berdetak mungkin akan selesai.


Selasa, 14 Agustus 2012

Pergi Untuk, Bukan Pergi Dari

Pergi terkadang bukan hanya meninggalkan. Pergi juga untuk menuju sebuah tujuan. Bukan hanya pergi dari, tapi juga pergi untuk. Terkadang aku ingin pergi untuk sesuatu. Akan tetapi, semakin hari semakin aku menyadari bahwa selama ini yang aku lakukan hanyalah pergi dari. Pergi dari sesuatu yang tak kuingini. Mencoba menghindar dari segala sesuatu yang ingin kuhindari. Melangkah demi melupakan sesuatu yang pernah disinggahi. Segala aktifitas yang merujuk pada hal yang ingin ditinggalkan. Pergi dari sesuatu di belakang, bukan pergi untuk sesuatu yang di depan.

Semakin aku pacu langkah untuk pergi dari, semakin berat pula langkahku mencoba pergi. Seakan semuanya bersatu dan bersorak dalam keheningan yang tiada habisnya. Menghina dan mencekal segala daya upaya untuk pergi dari. Langkah semakin berat karena tanpa sadar semuanya justru terjebak pada sebuah titik di masa lalu yang ingin kutinggalkan. Selama ini nurani terperangkap untuk pergi menjauh tanpa tujuan. Hanya pergi dan menjauh tanpa arah. Tak ada kepastian yang ingin dituju. Semua nya semata-mata hanya karena ingin pergi, menjauh, hilang, dan semoga tak akan pernah kembali. Pernahkah kalian rasakan itu? Rasa dimana kita lelah untuk menghindar? Rasa dimana kita letih untuk berlari? Rasa saat kita ingin bersandar pada sebuah tujuan yang pasti?Sebuah tujuan, bukan menghindar. Bukan pergi dari, aku ingin pergi untuk sebuah tujuan yang pasti.

Kuikat tali sepatuku erat. Kukencangkan ikat pinggangku. Kurapatkan tas ransel yang melekat di punggungku dengan segala macam perbekalannya. Sekarang, aku ingin pergi untuk sebuah tujuan, bukan lagi pergi dari sesuatu di belakang. Aku ingin berlari melesat menembus segala macam udara bersama partikelnya. Menerobos semak beserta seluruh rasa perih dari onaknya. Aku tak akan takut basah karena dinginnya hujan. Aku tak akan takut gersang karena matari terlalu terik bersinar. Aku ingin semua terpusat menjadi mesin jetku, menjadi cambukku yang akan terus membuatku berlari menuju sebuah tujuan. Membuatku pergi karena aku tahu ada yang aku tuju. Aku tak ingin lagi pergi dari sesuatu yang telah menyakitiku karena itu hanya akan menambah setiap percikan darah keluar dari mata dan semua pori-pori di permukaan kulitku. Pergi untuk sebuah tujuan akan membuatku sejuk di tengah gurun dan membuatku hangat di tengah badai salju.

Sekarang, biarlah aku berlari menuju sebuah oase yang ada di padang gurun. Berlari berharap langkah ini menemukan angin yang tak akan pernah lelah menyejukkan jiwa dan ragaku.

Mulai detik ini, aku akan pergi..

Pergi Untuk...

bukan lagi

Pergi dari...