Kamis, 12 Juli 2012

Untuk Kalian Berdua

Semalem, hasil begadangku membuahkan sebuah hasil selain berhasil membuatku bangun jam 13.30 hahaha Semalem pas aku mau tidur, aku gak sengaja kesangkut sama film di RC*I, judulnya "The Savages". Singkatnya nih, tuh film nyritain tentang seorang kakak beradik yang punya seorang ayah. Ayahnya itu udah tua banget, udah masuk usia jompo gitulah. Jadi ceritanya, waktu si istri ayahnya ini meninggal, ayahnya ini di usir secara halus sama keluarga pihak istrinya, nah bingung deh itu si kakak beradik. Pokoknya di cerita itu, kakak beradik ini ngrasa galau berat waktu mau ngurus ayahya. Mereka berdua sama-sama punya kesibukan masing-masing. Bisa bayangin kan gimana rasanya pas tiba-tiba harus ngrawat ayahnya yang udah jompo dan gak bisa apa-apa.

Pas nonton film itu, aku sempet kepikiran. Gimana ya besok kalo aku dan adekku udah kerja, udah punya keluarga sendiri gitu terus orang tuaku udah tua, harus dibantu orang lain untuk melakukan kegiatannya.

Orang tua kita yang ngelahirin kita, nggedein kita, nyekolahin kita sampai sekarang dengan penuh kasih sayang dan tanpa pamrih. Sekarang gimana kondisinya kalo dibalik? Suatu hari nanti, kita yang notabene adalah buah cinta dari kedua orang tua kita dihadapkan pada masalah yang sama yang dialami oleh Savage bersaudara ini. Apakah kita akan menitipkan orangtua kita di panti jompo? Ataukah kita akan merawat mereka? Merawat mereka seperti mereka yang setia merawat kita.

Entah apa yang bisa aku lakukan untuk orangtuaku besok. Di saat mereka membutuhkanku, apakah aku akan benar-benar ada di samping mereka untuk menemani hari tua mereka? Ataukah aku akan menjadi anak yang tidak mau tahu dan menitipkan orangtua ku di panti jompo? Aku harap aku tidak menjadi yang kedua.

Aku tidak bisa menjajikan apa-apa untuk kedua orangtuaku, ayah dan ibuku. Siapa tahu besok pagi, lusa, atau sebulan kemudian aku harus pergi dari dunia ini? Aku akan sangat menyesal saat aku pergi tanpa bisa memberikan sesuatu yang berharga bagi mereka. Mereka yang tak kenal lelah untuk menghidupi aku, mereka yang selalu ada saat aku jatuh, mereka yang mengajariku berjalan diatas bumi ini, mereka yang mengenalkan aku pada seribu kata yang ada di dunia ini. Mereka yang mencintaiku saat aku selalu membantah segala nasihatnya.

Ayah, ibu, aku tahu aku sangat berdosa kepada kalian.
Bila aku pergi lebih awal nanti
Jangan ada air mata yang keluar dari mata kalian
Sudah cukup semua air mata kalian bagiku
Aku ingin kalian tersenyum melihat anakmu ini
Jangan lagi kau teteskan airmata lagi
Aku tak ingin melihat kalian menagisi anak durhaka ini


Aku sayang kalian Ayah, Ibu...
Maafkan bila aku belum pernah membahagiakan kalian...

Aku sayang kalian....

4 komentar:

  1. nunut nangis huhu haha nunut ngguyu

    setuju kop, terutama dengan ketidaktahuan kita tentang apa yang akan kita lakukan dalam suatu skenario yang bersifat esok. Pertanyaan "what if" selalu punya jawaban yang bersifat kemungkinan, dan ketika sang "if" menghilang dari klausa "what if" baru kita bisa melihat sebuah jawab.

    nek adewe dadi wong tuwo piye yo? haha rokenrol

    BalasHapus
  2. ho'o jon, yang bisa kita lakuin sekarang ya memberikan apa yang ada pada kita saat ini kepada orangtua kita haha

    BalasHapus
  3. hai kakop ;)
    pada zaman dulu, ada suatu bangsa di belahan dunia sana yang memiliki suatu kebudayaan unik.
    Begini kira-kira,adalah suatu kebiasaan masyarakat disana, jika orang tua mereka sudah tua dan tidak bisa apa-apa lagi, anak mudanya boleh meletakkan orang tua mereka di dalam hutan dan ditinggalkan begitu saja..

    Lalu suatu ketika, ada seorang pemuda.. ibunya sudah renta..
    dan menurut kebudayaan, dia boleh dan bisa meninggalkan ibunya sendirian di hutan. Pada suatu malam, dia pun menggendong ibunya.. Ibunya sudah tau bahwa dia akan dibawa ke hutan.
    Sepanjang perjalanan, ibunya pun menarik ranting-ranting pohon yg mereka lewati dan menjatuhkan ranting-ranting tersebut di tanah.

    Lalu, tibalah mereka di tengah hutan. si anak pun menurunkan ibunya. Mereka pun mengucapkan salam perpisahan. Sebelum si anak pergi, si ibu berkata, "Nak, sudah malam.. Ikutilah ranting-ranting di tanah agar kamu tidak tersesat.. Ibu td telah menjatuhkan ranting-ranting tsb di sepanjang jalan yg kita lewati."

    Mendengar kata-kata tersebut, pemuda tsb pun menangis. Dia mengangkat ibunya dan menggendong ibunya kembali. Dia membawa ibunya pulang dan merawat ibunya sampai akhir.

    Semenjak saat itu, tradisi pada bangsa tsb pun sudah berubah,.

    Mari kita renungkan amanat dari kisah ini .. ;)

    BalasHapus
  4. wah, dek cyn, merinding aku baca kisah mu itu :')

    BalasHapus