Senin, 16 Juli 2012

Segelas Air Putih

Segelas air putih tetap diam di depanku. Diam. Tak bergerak. Tak bersuara. Tak berwarna. Tenang. Bening. Makananku baru saja kuhabiskan, tapi tanganku serasa tak ingin bergerak saat otakku mengirim sinyal untuk mengambil gelas itu dan segera meminum isinya. Mataku lebih kuat untuk memberiku perintah agar aku mengamatinya, memandang, dan diam. Lihat gelas itu, diam, tak bergerak, tak bersuara. Air di dalamnya, diam, tak bergerak, tak bersuara. Malam itu ada kamu di depanku, tapi sepertinya aku lebih tertarik kepada gelas ini dan isinya. Matamu mulai resah karena tak lagi kuperhatikan. Kulihat kau mulai mengubah posisi dudukmu, tetapi semakin lama kuperhatikan gelas itu, semakin sering kau bergerak, mencoba mencari posisi yang paling pas untukmu, ataukah kau ingin aku memperhatikanmu karena tingkahmu?

Banyak kendaraan melewati tempat kita, bergantian meramaikan suasana di sekitar kita. Aku tak terusik oleh suara kendaraan yang mencoba memecah malam. Aku masih tak bergerak, begitupun air di dalam gelas itu. Kamu? Kamu selalu bergerak dan tak bisa diam. Kadang menoleh ke kanan, kadang ke kiri, entah apa saja yang kau lakukan, aku hanya bisa melihat dari ekor mataku. Tenggorakanku mulai berontak ingin dialiri sebuah cairan. Aku sadar ini menyiksaku, aku hanya memandang gelas yang berisi air putih, bening, tak berwarna. Kembali aku tersadar, ada kamu yang masih duduk di depanku. Kau marah padaku, kau minta pulang malam itu. Entah apa yang merasukiku,"ya, silahkan pulang kalau itu maumu, aku masih mau di sini bersama segelas air putih ini". Kau pun pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun padaku. Malam ini aku tak terkejut saat kau pergi. Kau pergi, dan tak pernah kembali sampai saat ini sejak malam itu. Ah, biarlah.

Hei gelas, apa kabarmu? Masih ada air di dalammu kan? Setidaknya, kau masih menjadi temanku malam ini. Sayang, kau tak dapat kuajak bicara. Kau diam, jernih, tanpa warna dan suara. Aku berada di teras sebuah rumah makan di pinggiran jalan bersama sebuah gelas dan isinya. 

Aku masih tak bergerak, masih diam saat tenggorokanku sudah tersiksa. Ah gelas, apa iya aku harus meminummu? Harus mengosongkanmu dan mulai mengisi tenggoranku? Rasanya, masih tak ingin aku mengosongkanmu dan mengisi tenggoranku. Aku masih ingin diam di sini. Gelas, kau bening jernih, begitupun dengan apa yang ada di dalammu, bening, bersih. Selama ini aku sadar, mungkin seperti ini rasaku padamu. Diam tak bergerak, jernih, tak bersuara. Maaf kau harus pulang dan pergi karena segelas air putih ini..

Ah, aku haus....



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar