Minggu, 29 Juli 2012

Impian Seekor Semut

Seekor semut berjalan perlahan mencari sebuah toples berisikan gula di dapur rumah. Antena nya menuntun langkah kecilnya sedikit demi sedikit. Tujuannya jelas. Sebuah toples berisi gula. Seekor semut laki-laki berjalan sendiri, berharap bertemu toples impiannya. Jalannya mantap, tak ada langkah yang diulang darinya. Langkah demi langkah, kecil, tak bersuara. Antena di kepalanya terus mengirim sinyal kepadanya tentang keberadaan toples impiannya. Sebuah toples yang berisi sebuah impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya. Saat berangkat dari lubangnya, Toki, semut hitam kecil ini sengaja tidak berpamitan kepada siapapun. Saat bertemu temannya, dia hanya mengatakan,"aku mau cari angin dulu bro, refreshing..hehehe". Jawaban begitu saja terlontar dari bibir kecilnya. Sebuah bibir yang selalu melemparkan senyum kepada siapapun yang ditemuinya.

Hari ini, Toki mencoba meraih impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya. Sebuah toples yang akan memberikan harapan hidup lebih panjang bagi sesamanya. Tak ada yang tahu tentang ini, hanya Toki dan Tuhan saja yang tahu, jika dia memang ber-tuhan. Toki sengaja merahasiakan hal ini. Tak ada yang tahu kemana dia akan pergi, tak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan. Semua bahasa seolah berkonspirasi untuk menyembunyikan misi agung ini. Semesta mendukung Toki untuk tetap diam dalam keheningan.

Toki berjalan riang dengan mata berbinar berisi impian besar. Langkahnya seperti derap langkah para pahlawan revolusi Prancis, berharap sebuah perubahan bagi bangsanya. Antenanya selalu siaga menangkap sinyal-sinyal keberadann toples penuh gula.

Setengah perjalanan telah dia lalui. "Tokiiiiiiiiiii.....", terdengar suara lengkingan seekor semut betina. Terlihat dari kejauhan, Toki memicingkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Tenyata benar, Nevi, seekor semut betina yang telah lama dikagumi oleh Toki. Nevi sedang berkumpul bersama teman-temannya saat Toki tak sengaja lewat di dekat mereka. "Mau kemana tok?pagi banget kok udah keluar lubang?", suara Nevi terdengar lembut mengetuk telinga dan hati Toki. Ya, Toki memang telah lama memendam rasa kepada Nevi, tapi sepertinya Nevi tak pernah tahu tentang perasaan Toki. Selama ini memang Toki tak pernah bicara tentang perasaanya pada Nevi. Toki hanya seekor semut pekerja biasa, setiap hari dia dan semut pekerja lainnya bekerja membuat lubang untuk bangsanya. Hal ini yang membuat Toki untuk selalu menahan perasaaannya kepada Nevi dan mati dalam kebisuannya. "Oh, mau cari angin Nev, jalan-jalan, bosen bikin lubang terus.. hahaha", jawaban Toki selalu diselingi dengan tawa. Toki selalu berusaha mematikan rasa sakitnya dengan tawanya, walaupun hal itu sudah seribu kali terbukti tidak mempan. "Ah Nev, mulut ini tak akan pernah bisa menyampaikan rasa, andai dulu aku bisa", sebuah penyesalan dalam hati yang selalu hadir menghampiri Toki bila ia bertemu atau memikirkan Nevi.

Toki berlalu meninggalkan Nevi, meninggalkan rasa yang tak akan pernah terungkapkan di belakang. Toki selalu ingin menoleh melihat wajah gadis impiannya, namun dia tak pernah mampu melakukannya.

Fokus Toki kembali teralihkan saat antenanya dengan sangat jelas mengangkap sinyal keberadaan toples impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya, mungkin juga impian Nevi. Semakin Toki berjalan dengan mantap,"Impianku di depan mata, aku ingin bangsaku tetap hidup dan tak kelaparan, aku harus bisa mendapatkannya".

Dapur Rumah Tuan Alka adalah gua harta karun Toki. Toki menyelinap masuk dari sebuah lubang di belakang kulkas di dapur itu. Antenanya mengarah ke sebuah rak di seberang kulkas. Toki semakin bersemangat. Dengan segera, semut kecil itu berjalan menyeberangi sebuah spasi antara kulkas dan rak tempat toples impiannya berada. Terbayang kebahagiaan orang tuanya saat dia pulang dengan kabar gembira, gambaran adik kecilnya, Tiki juga hadir di pikirannya, bangsanya bisa hidup dan tak kelaparan lagi. Tiba-tiba lamuanannya pecah saat Nevi juga hadir dalam imajinasinya. Nevi, rasa yang tak tersampaikan datang lagi. Toki segera mengusirnya, bayangan akan kebahagiaan bangsanya tetap menjadi impian terbesarnya. "Aku akan pulang dengan kabar gembira teman-teman", Toki tersenyum melihat toples impian di depannya. Buru-buru dia ambil langkah seribu untuk menghampiri impianya. "krreeeekkkk", seorang anak kecil setengah berlari menuju meja makan untuk mengambil kue brownies kesukaannya. Toki hilang dari jalan impiannya. Toki, dia menempel di bawah sepatu sang anak yang tak sengaja mengambil nyawanya dengan imutnya. Tubunya hancur, impiannya mati, dan tak ada siapapun yang tahu kemana dia pergi hari ini.

1 komentar:

  1. WAJINGAN GALAU TENAN KLIMAKSE COCOTE!!!!!!
    RIP Toki. Semangatmu akan selalu kami kenang.

    BalasHapus