Minggu, 29 Juli 2012

Impian Seekor Semut

Seekor semut berjalan perlahan mencari sebuah toples berisikan gula di dapur rumah. Antena nya menuntun langkah kecilnya sedikit demi sedikit. Tujuannya jelas. Sebuah toples berisi gula. Seekor semut laki-laki berjalan sendiri, berharap bertemu toples impiannya. Jalannya mantap, tak ada langkah yang diulang darinya. Langkah demi langkah, kecil, tak bersuara. Antena di kepalanya terus mengirim sinyal kepadanya tentang keberadaan toples impiannya. Sebuah toples yang berisi sebuah impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya. Saat berangkat dari lubangnya, Toki, semut hitam kecil ini sengaja tidak berpamitan kepada siapapun. Saat bertemu temannya, dia hanya mengatakan,"aku mau cari angin dulu bro, refreshing..hehehe". Jawaban begitu saja terlontar dari bibir kecilnya. Sebuah bibir yang selalu melemparkan senyum kepada siapapun yang ditemuinya.

Hari ini, Toki mencoba meraih impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya. Sebuah toples yang akan memberikan harapan hidup lebih panjang bagi sesamanya. Tak ada yang tahu tentang ini, hanya Toki dan Tuhan saja yang tahu, jika dia memang ber-tuhan. Toki sengaja merahasiakan hal ini. Tak ada yang tahu kemana dia akan pergi, tak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan. Semua bahasa seolah berkonspirasi untuk menyembunyikan misi agung ini. Semesta mendukung Toki untuk tetap diam dalam keheningan.

Toki berjalan riang dengan mata berbinar berisi impian besar. Langkahnya seperti derap langkah para pahlawan revolusi Prancis, berharap sebuah perubahan bagi bangsanya. Antenanya selalu siaga menangkap sinyal-sinyal keberadann toples penuh gula.

Setengah perjalanan telah dia lalui. "Tokiiiiiiiiiii.....", terdengar suara lengkingan seekor semut betina. Terlihat dari kejauhan, Toki memicingkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Tenyata benar, Nevi, seekor semut betina yang telah lama dikagumi oleh Toki. Nevi sedang berkumpul bersama teman-temannya saat Toki tak sengaja lewat di dekat mereka. "Mau kemana tok?pagi banget kok udah keluar lubang?", suara Nevi terdengar lembut mengetuk telinga dan hati Toki. Ya, Toki memang telah lama memendam rasa kepada Nevi, tapi sepertinya Nevi tak pernah tahu tentang perasaan Toki. Selama ini memang Toki tak pernah bicara tentang perasaanya pada Nevi. Toki hanya seekor semut pekerja biasa, setiap hari dia dan semut pekerja lainnya bekerja membuat lubang untuk bangsanya. Hal ini yang membuat Toki untuk selalu menahan perasaaannya kepada Nevi dan mati dalam kebisuannya. "Oh, mau cari angin Nev, jalan-jalan, bosen bikin lubang terus.. hahaha", jawaban Toki selalu diselingi dengan tawa. Toki selalu berusaha mematikan rasa sakitnya dengan tawanya, walaupun hal itu sudah seribu kali terbukti tidak mempan. "Ah Nev, mulut ini tak akan pernah bisa menyampaikan rasa, andai dulu aku bisa", sebuah penyesalan dalam hati yang selalu hadir menghampiri Toki bila ia bertemu atau memikirkan Nevi.

Toki berlalu meninggalkan Nevi, meninggalkan rasa yang tak akan pernah terungkapkan di belakang. Toki selalu ingin menoleh melihat wajah gadis impiannya, namun dia tak pernah mampu melakukannya.

Fokus Toki kembali teralihkan saat antenanya dengan sangat jelas mengangkap sinyal keberadaan toples impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya, mungkin juga impian Nevi. Semakin Toki berjalan dengan mantap,"Impianku di depan mata, aku ingin bangsaku tetap hidup dan tak kelaparan, aku harus bisa mendapatkannya".

Dapur Rumah Tuan Alka adalah gua harta karun Toki. Toki menyelinap masuk dari sebuah lubang di belakang kulkas di dapur itu. Antenanya mengarah ke sebuah rak di seberang kulkas. Toki semakin bersemangat. Dengan segera, semut kecil itu berjalan menyeberangi sebuah spasi antara kulkas dan rak tempat toples impiannya berada. Terbayang kebahagiaan orang tuanya saat dia pulang dengan kabar gembira, gambaran adik kecilnya, Tiki juga hadir di pikirannya, bangsanya bisa hidup dan tak kelaparan lagi. Tiba-tiba lamuanannya pecah saat Nevi juga hadir dalam imajinasinya. Nevi, rasa yang tak tersampaikan datang lagi. Toki segera mengusirnya, bayangan akan kebahagiaan bangsanya tetap menjadi impian terbesarnya. "Aku akan pulang dengan kabar gembira teman-teman", Toki tersenyum melihat toples impian di depannya. Buru-buru dia ambil langkah seribu untuk menghampiri impianya. "krreeeekkkk", seorang anak kecil setengah berlari menuju meja makan untuk mengambil kue brownies kesukaannya. Toki hilang dari jalan impiannya. Toki, dia menempel di bawah sepatu sang anak yang tak sengaja mengambil nyawanya dengan imutnya. Tubunya hancur, impiannya mati, dan tak ada siapapun yang tahu kemana dia pergi hari ini.

Senin, 16 Juli 2012

Segelas Air Putih

Segelas air putih tetap diam di depanku. Diam. Tak bergerak. Tak bersuara. Tak berwarna. Tenang. Bening. Makananku baru saja kuhabiskan, tapi tanganku serasa tak ingin bergerak saat otakku mengirim sinyal untuk mengambil gelas itu dan segera meminum isinya. Mataku lebih kuat untuk memberiku perintah agar aku mengamatinya, memandang, dan diam. Lihat gelas itu, diam, tak bergerak, tak bersuara. Air di dalamnya, diam, tak bergerak, tak bersuara. Malam itu ada kamu di depanku, tapi sepertinya aku lebih tertarik kepada gelas ini dan isinya. Matamu mulai resah karena tak lagi kuperhatikan. Kulihat kau mulai mengubah posisi dudukmu, tetapi semakin lama kuperhatikan gelas itu, semakin sering kau bergerak, mencoba mencari posisi yang paling pas untukmu, ataukah kau ingin aku memperhatikanmu karena tingkahmu?

Banyak kendaraan melewati tempat kita, bergantian meramaikan suasana di sekitar kita. Aku tak terusik oleh suara kendaraan yang mencoba memecah malam. Aku masih tak bergerak, begitupun air di dalam gelas itu. Kamu? Kamu selalu bergerak dan tak bisa diam. Kadang menoleh ke kanan, kadang ke kiri, entah apa saja yang kau lakukan, aku hanya bisa melihat dari ekor mataku. Tenggorakanku mulai berontak ingin dialiri sebuah cairan. Aku sadar ini menyiksaku, aku hanya memandang gelas yang berisi air putih, bening, tak berwarna. Kembali aku tersadar, ada kamu yang masih duduk di depanku. Kau marah padaku, kau minta pulang malam itu. Entah apa yang merasukiku,"ya, silahkan pulang kalau itu maumu, aku masih mau di sini bersama segelas air putih ini". Kau pun pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun padaku. Malam ini aku tak terkejut saat kau pergi. Kau pergi, dan tak pernah kembali sampai saat ini sejak malam itu. Ah, biarlah.

Hei gelas, apa kabarmu? Masih ada air di dalammu kan? Setidaknya, kau masih menjadi temanku malam ini. Sayang, kau tak dapat kuajak bicara. Kau diam, jernih, tanpa warna dan suara. Aku berada di teras sebuah rumah makan di pinggiran jalan bersama sebuah gelas dan isinya. 

Aku masih tak bergerak, masih diam saat tenggorokanku sudah tersiksa. Ah gelas, apa iya aku harus meminummu? Harus mengosongkanmu dan mulai mengisi tenggoranku? Rasanya, masih tak ingin aku mengosongkanmu dan mengisi tenggoranku. Aku masih ingin diam di sini. Gelas, kau bening jernih, begitupun dengan apa yang ada di dalammu, bening, bersih. Selama ini aku sadar, mungkin seperti ini rasaku padamu. Diam tak bergerak, jernih, tak bersuara. Maaf kau harus pulang dan pergi karena segelas air putih ini..

Ah, aku haus....



Kamis, 12 Juli 2012

Untuk Kalian Berdua

Semalem, hasil begadangku membuahkan sebuah hasil selain berhasil membuatku bangun jam 13.30 hahaha Semalem pas aku mau tidur, aku gak sengaja kesangkut sama film di RC*I, judulnya "The Savages". Singkatnya nih, tuh film nyritain tentang seorang kakak beradik yang punya seorang ayah. Ayahnya itu udah tua banget, udah masuk usia jompo gitulah. Jadi ceritanya, waktu si istri ayahnya ini meninggal, ayahnya ini di usir secara halus sama keluarga pihak istrinya, nah bingung deh itu si kakak beradik. Pokoknya di cerita itu, kakak beradik ini ngrasa galau berat waktu mau ngurus ayahya. Mereka berdua sama-sama punya kesibukan masing-masing. Bisa bayangin kan gimana rasanya pas tiba-tiba harus ngrawat ayahnya yang udah jompo dan gak bisa apa-apa.

Pas nonton film itu, aku sempet kepikiran. Gimana ya besok kalo aku dan adekku udah kerja, udah punya keluarga sendiri gitu terus orang tuaku udah tua, harus dibantu orang lain untuk melakukan kegiatannya.

Orang tua kita yang ngelahirin kita, nggedein kita, nyekolahin kita sampai sekarang dengan penuh kasih sayang dan tanpa pamrih. Sekarang gimana kondisinya kalo dibalik? Suatu hari nanti, kita yang notabene adalah buah cinta dari kedua orang tua kita dihadapkan pada masalah yang sama yang dialami oleh Savage bersaudara ini. Apakah kita akan menitipkan orangtua kita di panti jompo? Ataukah kita akan merawat mereka? Merawat mereka seperti mereka yang setia merawat kita.

Entah apa yang bisa aku lakukan untuk orangtuaku besok. Di saat mereka membutuhkanku, apakah aku akan benar-benar ada di samping mereka untuk menemani hari tua mereka? Ataukah aku akan menjadi anak yang tidak mau tahu dan menitipkan orangtua ku di panti jompo? Aku harap aku tidak menjadi yang kedua.

Aku tidak bisa menjajikan apa-apa untuk kedua orangtuaku, ayah dan ibuku. Siapa tahu besok pagi, lusa, atau sebulan kemudian aku harus pergi dari dunia ini? Aku akan sangat menyesal saat aku pergi tanpa bisa memberikan sesuatu yang berharga bagi mereka. Mereka yang tak kenal lelah untuk menghidupi aku, mereka yang selalu ada saat aku jatuh, mereka yang mengajariku berjalan diatas bumi ini, mereka yang mengenalkan aku pada seribu kata yang ada di dunia ini. Mereka yang mencintaiku saat aku selalu membantah segala nasihatnya.

Ayah, ibu, aku tahu aku sangat berdosa kepada kalian.
Bila aku pergi lebih awal nanti
Jangan ada air mata yang keluar dari mata kalian
Sudah cukup semua air mata kalian bagiku
Aku ingin kalian tersenyum melihat anakmu ini
Jangan lagi kau teteskan airmata lagi
Aku tak ingin melihat kalian menagisi anak durhaka ini


Aku sayang kalian Ayah, Ibu...
Maafkan bila aku belum pernah membahagiakan kalian...

Aku sayang kalian....

Senin, 09 Juli 2012

T.U.H.A.N.(?)

Aku hanya manusia biasa, setuju?
Manusia biasa yang pasti punya kelemahan.

Aku hidup di sebuah negara yang katanya sih punya tingkat toleransi yang tinggi dalam hal beragama. Di negaraku, sepertinya beragama bukanlah menjadi hak bagi warga negaranya, di negaraku, beragama lebih menjadi kewajiban bagi para warga negranya. Singkatnya, kalo kalian gak beragama, kalian gak bisa jadi warga negara ini, karena pas kalian mau bikin KTP, kalian harus ngisi  kolom "agama". Jadi, agama bukan lagi menjadi hak, tapi menjadi sebuah kewajiban. Agama, menurut pemahanku, agama itu cuma alat deh. Alat atau sarana untuk mengaktualisasi iman kita, katanya sih, tapi sampai sekarang aku juga belum bisa tahu banget tentang agama dan iman. Aku orangnya emang gak mau ambil pusing sama hal beginian. Aku bukan tipe orang yang sensitif dan fanatik buat hal yang beginian. Kayaknya, kepribadianku yang kayak gini, yang sedikit apatis sama yang beginian ini, sempet bikin aku stres berat.

Semalem, aku, nandi, beny, jati, cacing, vico, naik ke kaliurang. Pemuda-pemuda yang kurang kerjaan banget kan? Jam 9 malem, kita mulai jalan dari jogja, naik ke kaliurang cuma buat nongkrong di pocinan!! Tahu kan kalian kaliurang itu apa? Lereng Merapi, dinginnya gak ketulungan, tapi tetep aja kita naik dan gak peduli sama suhu yang bakal nusuk tulang di atas ntar. Awalnya, di perjalanan sampai beberapa saat nongkrong di pocinan, aku fine-fine aja. Cengar-cengir gak jelas, ketawa-ketiwi bareng temen-temenku. Tapi gak tahu kenapa, tiba-tiba tadi malem aku jadi diem banget. Aku cuma duduk, ngadep ke Gunung Merapi sambil kadang-kadang nengok ke belakang buat liat lampu-lampu kota jogja. Tapi di situ aku ngrasa kayak ditinggal sama sesuatu. Aku ngrasa sendirian. Bukan gara-gara manusia, ini lebih parah, aku ngrasa ditinggal sama yang punya ni dunia. Aku ngrasa ditinggal sama Tuhan. Parah banget kan? Sebelumnya aku minta maaf ya Tuhan. (Tuhan, setelah ini akan aku ganti jadi "bro" biar penyebutan dan penulisannya lebih gampang, kata orang Tuhan itu juga temen kita kan?).

Bisa dibilang sekarang aku lagi bener-bener berada di titik nadirku. Aku bisa bilang kalo diriku sendiri ini, seorang kopi ini, meragukan eksistensMu bro. Sorry banget sebelumnya, aku gak pernah ada niat buat kayak gini, aku cuma mau nyampein apa yang aku alamin, dan Kamu pasti tahu kan yang aku alamin, karena Kau kan Tuhan. Banyak orang yang bilang, Kau maha segalanya, gak usah aku sebutin satu persatu karena kalian pasti juga udah tahu. Kenapa aku bisa sampe titik ini? Entah ini kekecewaanku, aku yang masih kayak anak kecil, atau aku terlalu dalem mikirnya, aku juga gak tahu.  Kau kan Tuhan bro, yang ciptain segala macem isi dunia ini dan temen-temenya. Kata orang, Kau juga yang merencanakan segala macam sesuatu buat setiap ciptaanMu, termasuk juga aku mungkin? 

Terus pertanyaan besarku, kenapa Kau tega bikin hidup salah satu ciptaanMu ini sampai sebegini stresnya. Kenapa Kau, yang notabene Tuhan, kayaknya diem aja gak ngapa-ngapain? Mungkin jawaban klisenya gini, biar aku bisa belajar dan terus berharap dala ketidakmampuanku, tapi mau sampai kapan Bro? Tolongin kek, aku udah gak kuat sama masalah yang kayak gini terus Bro. Kau kan Tuhan, tahu dong dimana batas toleransi kemampuanku? Aku ngrasa udah gak mampu, kenapa masih Kau hajar terus pake masalah beginian? Kamu ngapain aja Bro? Aku capek ni lho, aku pengen masalah ini ilang. Apa Kamu bakal jawab, " Aku memberi apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan". Iya, aku juga tahu, tapi kakyanya aku gak butuh masalah yang ini. Where are  You Brader?


godisnowhere

Sorry banget, kalo suruh baca kata diatas, kayaknya sekarang aku bacanya

god is no where

Mungkin kalian yang lagi "beruntung" bisa deket banget sama si Mas Bro ini, kalian bakal bacanya

god is now here

Sekali lagi, sorry bnaget, aku cuma bingung Bro. Ada yang bilang kalo Tuhan itu, katanya cuma bentuk pelarian dari ketidakmampuan manusia. Jadi kalo manusia udah ngrasa gak bisa apa-apa, mereka lari ke Kamu Bro. Kayak yang aku lakuin sekarang, aku ngrasa gak bisa apa-apa, aku ngrasa lemah banget, makanya aku lari ke Kamu bro. Toh kamu juga pernah bilang kan? "Datanglah padaKu kalian yang letih, lesu, dan berbeban berat". Nah lo, Kamu sendiri lho yang bilang kayak gittu. Ya, aku minta maaf kalo kesannya Kamu jadi kayak tempat samapah, menampung jutaan mungkin triliyunan keluhan manusia, termasuk aku. Maaf banget ya Tuhan? Tapi kayak yang aku bilang tadi, aku lagi kritis nih.

Jujur, aku kayaknya bukan generasi yang cukup percaya tanpa harus melihat. Aku kayaknya emang harus melihat supaya aku percaya. Emang, aku orangnya kayak gini, kan Kamu juga kan yang nyiptain aku?

Sorry banget ya Bro, aku masih percaya kok sama Kamu, tapi aku lagi gak bisa melihat karyaMu di hidupku. Aku cuma manusia yang Kau beri kemampuan untuk bertanya, dan sekarang aku hanya bertanya akan eksistensMu, apa itu salah? Oh iya, aku bukan atheis lho, aku masih theis kok, percaya akan adanya Tuhan, aku hanya sedang galau ketuhanan, mungkin.

Postingan buat Tuhan

Kan Kamu Tuhan, bisa internetan juga kan pasti?



Rabu, 04 Juli 2012

Tujuan Hidup, sekedar opini...

Hmmmm....
Boleh lah iseng-iseng nulis buat ngusir kebosanan....

Hari-hari gak produktif dateng lagi ni bro. Sebagai mahasiswa, harusnya aku seneng kalo liburan gini udah dateng. Tapi kali ini beda bro. Liburan dateng, gak ada kerjaan, bangun tidur siang banget, malem klayapan gak jelas bareng temen-temen. Gak produktif banget deh pokoknya. Beda ya sama euforia lagu "libur tlah tiba" nya tasya. Seneng banget gitu kayaknya kalo liburan dateng. Ini kebalik bro, emang sih awalnya seneng, tapi lama kelamaan bosen juga nih gak ada kerjaan. Biasanya ni ya, kalo pas hari-hari ngampus, keseharianku layaknya mahasiswa pada umumnya. Pagi-pagi kuliah, rajin bro, walau ntar di kelas juga cuma tidur waktu ndengerin dosen curhat. Habis itu, langsung ada panggilan rapat ini, rapat itu. Riweuh deh pokoknya kalo kuliah, gak kayak sekarang. Nganggur, "ketap-ketip" di rumah, mantengin TL twitter yang gak jalan-jalan, iseng-iseng cari gebetan yang gak dapet-dapet juga. Bosenlah pokoknya.

Tiap di kampus ni, berasa kura-kura. Kuliah rapat-kuliah rapat. Emang negara berkembang ni kampusku, adanya rapat mulu, kayak Indonesia, rapat mulu anggota dewannya hahaha Tapi gak papalah, paling gak ada kerjaan, bisa ketemu si itu si ini, sukur ketemu yang bening-bening haha Tapi ya itu tadi, ada interaksi, ada kerjaan. Emang sih kadang aku sering ngeluh karena kerjaan yang buanyak banget itu. Kuliah di tempatku, gak berasa kuliah bro. Aku kuliah di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, tapi yang ada, di sana malah berasa kuliah di Fakultas Event Organizer. Kerjaannya ngevent mulu. Tapi seru, banyak kenalan, ada kesibukan, paling nggak mengurangi resiko terserang galau dadakan #eeeeaaaaa

Sebenernya aku juga bingung, ngapain aku nulis hal beginian di blogku. Ya itu tadi, dampak dari nganggurku ini. Blog ini udah kayak temenku yang demen banget nemenin aku. Pas galau lah, pas seneng, pas sedih. Bener-bener udah kayak temen sendirilah. Tapi bedanya, kalo aku curhat gak jelas di sini, dia gak bakal protes :p Blog ini bener-bener pengertianlah pokoknya. Mau aku nyampah gak jelas, cerita ini itu, dia gak pernah protes bro. Sayang sekali kamu blog, coba kamu bisa protes, bisa ngambeg kali ya kamu karena keseringan dapet sampah dari aku.

Hari-hari makin gak jelas. Kayak idupku aja nih yang makin gak jelas. Sampai sekarang bisa dibilang aku masih hidup tanpa orientasi dan tujan. Jujur ni ya, sampai sekarang aku masih gak tahu besok mau jadi apa? Sampai sekarang, aku masih bingung.

Apa itu tujuan hidup? Apa tujuan hidupmu?

Kenapa aku bisa ngomong gini? Ini berawal pas liburan semester kemaren, aku nongkrong di burjo tingkat daerah kocoran, namanya "Sami Asih". Aku nongkrong di sana sama temenku yang lagi pulang dari perantauan di ibukota. Biasalah, kita ngobrol ngalor ngidul gak jelas. Sok sok mikir kritis tentang hidup tapi seringnya malah kebablasan. Tapi ada yang menarik waktu aku ngobrol sama temenku itu. Obrolan kita sempet berhnti di suatu topik, yaitu

Tujuan Hidup


Tujuan hidup itu senernya udah ditentuin sama si pembuat idup, atau kita sendiri yang nentuin. 

Kalo nih misalanya udah ditentuin sama si pembuat idup. Gimana kita bisa tahu kalo itu tujuan idup kita? Contohnya ni, semisal aku punya tujuan idup, simpel deh, aku pengen jadi orang sukses, indikatornya, aku jadi dokter spesialis penyakit dalam,misalnya. Itu tujuan idup yang aku tentuin. Terus gimana dong sama tujuan hidup yang di tentuin sama si pembuat idup tadi? Tujuan hidupku pengen jadi dokter, tapi yang di atas, udah nentuin kalo tujuan hidupku ini bukan jadi dokter, tapi jadi pilot.Trus gimana dong kalo kayak gitu? Itu yang bikin aku sama temenku bingung dan ngobrol ngalor ngidul nyari-nyari jawaban dari misteri hidup tadi..

Terus, ni ada pemikiran yang muncul. Gimana kalo ternyata, manusia itu emang gak akan pernah tahu tentang tujuan hidupnya? Menurut pemahamanku, tujuan hidu itu bukan buat diri kita sendiri. Kita hidup di dunia ini bukan buat diri kita. Kita hidup di dunia ini untuk orang lain. Tujuan hidup, bukan sebuah pencapaian yang pengen kita capai di suatu hari kelak. Buatku, tujuan hidup lebih dari itu. Lebih dari jadi dokter, lebih dari jadi pilot, lebih dari jadi apapun. 

Menurut pemahamanku, jelas, kita hidup di dunia ini bukan buat diri kita sendiri. Tapi buat orang lain, orang-orang di sekitar kita. Jadi orang sukses, jadi pilot, jadi dokter, dan jadi apapun itu, itu hanya sebagai alat untuk mewujudkan tujuan hidup kita. Alat untuk berguna bagi orang lain. Man for Others.

Jadi menurutku, dan ini sekedar opininku. Si pembuat hidup udah netapin tujuan hidup buat semua manusia di bumi ini. Mereka diadakan untuk bisa saling berbagi dan berguna bagi orang lain. Perkara mau jadi apa dia nanti, itu hanya alat dan sarana untuk mencapai tujuan hidupnya. Berguna bagi orang lain.Jadi, gak usah sedih, galau, dan semacamnya kalau kalian belum bisa dapet yang kalian pengen, karena sekali lagi, apa yang kalian pengen, itu adalah alat dan sarana untuk mencapai tujuan hidup kalian. Jangan pernah nyerah dan  coba keluar dari kotak untuk mulai nyari alat dan sarana baru itu untuk tujuan hidup kalian.

Oh iya, satu lagi, jangan jadi males-malesan juga karena tujuan hidupmu udah di tentuin, kamu harus cari alat yang paling cocok buat kamu untuk dapetin tuh tujuan hidupmu. Gak mungkin kan kamu bajak sawah pake garpu?hahaha

Keep fighting guys :D

Hidup Seperti Bulan




Tiga hari ini kipas angin di rumahku rusak. Terus? Emang gak penting sih, tapi justru karena kipas angin rusak ini aku menemukan sebuah kejadian. Pas kipas angin di rumahku masih sehat, aku biasa ngrokok di dalam rumah, sama hal nya seperti ayahku. Kami berdua memang pasangan ayah dan anak yang sama-sama punya kebiasaan yang sama. Merokok. Untungnya, aku dan ayahku sama-sama mengonsumsi rokok yang sama. Sebut saja rokok itu Gud*ng Gar*m. Terus apa hubungannya rokok dengan kipas angin rusak tadi? Beberapa hari kemarin sebelum kipas angin itu rusak, aku dan ayahku biasa ngrokok di dalam rumah. Asap rokok yang ngepul di dalam rumah bisa melayang menghilang berkat si kipas angin itu. Sekarang, kipas angin itu rusak, karena dia selalu bekerja tanpa lelah mungkin. Tiga hari ini, ibuku ngasi ultimatum ke ayahku dan tentu saja kepadaku. Neg udud mbok neng jaba. Kalo ngrokok di luar aja. Seperti itulah kira-kira bila kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Memang, ultimatum ini beralasan. Adik ku adalah seorang penderita asma atau sesak napas. Tentu saja, bisa kambuh tu asma kalo “keplepek” asap rokok. Selama ini, kipas angin satu-satunya di rumahku itu menjadi pangeran gagah yang melindungi adikku dari serangan asam rokok yang dilancarkan olehku dan ayahku. Bisa ngebayangin kan gimana hebatnya kipas angin itu di mata adikku?

Oke, malam ini nggak kayak malam biasanya. Biasanya aku hisap beberapa batang rokok sendirian atau kadang berjamaah bersama di ayahku di ruang tamu rumahku. Hisapan demi hisapan menemani hariku bila aku kebetulan sedang di rumah. Entah sebagai teman nonton tv atau teman bermalas-malasan. Malam ini sengaja aku duduk di teras rumahku sekedar untuk meghabiskan rokok dan menikmati udara malam. Asap rokok mulai membumbung saat mataku tak sengaja melihat bulan tepat di depanku. Bulan malam ini memang indah, bulat, kuning kemerah-merahan, penuh dengan segala daya pikatnya. Entah kenapa mataku terus melihat bulan yang sedang mentatap balik kepadaku. Pernah dulu, seorang teman berkata kepadaku,” Kop, mukamu indah e, kayak bulan”. Wah, asik juga nih dapet pujian macam ini. Kapan lagi ada orang bilang ni muka kayak bulan hhahaha. Tapi ternyata, temenku belum selesai ngomong bro, masih ada lanjutannya. “Iya, kayak bulan, bopeng-bopeng”. Siiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuuuuuuuu langsung lemes deh hahaha Muka keren gini (kata ayah ibu sih) haha di bilang bopeng-bopeng. Sakit berooooooowww hahaha

Bukan di situ sih intinya. Bener juga tuh kata temenku. Bulan ternyata bopeng-bopeng. Coba deh kalian lihat dan amati. Ada semacam pola di bulan yang bentuknya kayak kelinci kan? Katanya sih, itu kawah-kawah yang ada di permukaan bulan gitu. Jadi, kalo buat cewek-cewek nih, jangan malah seneng pas cowok kalian bilang kalo wajah kalian bagaikan bulan :p Tapi sadar gak sih? Bulan emang bopeng-bopeng, tapi manusia-manusia di bumi ini banyak kan yang mengagumi keindahannya? Padahal udah jelas-jelas, B-O-P-E-N-G, BOPENG! Trus kenapa masih indah ya?

Waktu liat tuh bulan, aku sok-sok an aja bikin analogi. Analogi tentang bulan dan hidup, tsaaaaaaaaaahhh kurang kerjaan banget ni aku haha Tapi gak papa lah, iseng-iseng cari falsafah hidup :D

Jadi gini, bulan yang indah banget itu punya bopeng-bopeng, ya kan? Tapi, walau bopeng-bopeng gitu, tetep, bulan itu indah berooow, setuju? Emang, kalo kata guruku dulu, bulan itu gak ngluarin cahayanya sendiri, tapi dia mantulin cahaya benda-benda langit lain, kayak matahari dan bintang, kalo gak salah. Kesimpulannya, bulan, dengan begitu banyak kebopengannya, dia tetep teguh berdiri di kolong langit menatap jutaan makhluk di bumi tanpa ngrasa minder karena ada benda-benda langit di skitarnya yang membantunya untuk menjadi indah.


Pertama nih, masalah B-O-P-E-N-G

Jadi, kalo boleh aku sama-samain, bopeng di bulan itu, sama halnya dengan kekurangan yang ada di diri kita. Kekurangan, entah banyak entah dikit, secara sadar atau gak sadar, selalu kita tutupin supaya kita keliatan gak ada kurangnya. Supaya kita ini kelihatan hebat, tanpa kekurangan. Kelebihan doang deh yang ada di diri kita. Malam ini, aku sedikit belajar dari si bulan yang punya bopeng-bopeng itu. Liat tuh bulan, dia punya banyak bopeng, tapi gak di tutupin. Dia gak malu bro sama kekurangannya. Jadi nih, buat hidup kita. Gak usah malu bro sama kekurangan kita. Gak usah kita tutup-tutupi. Tapi bukan berarti juga ditunjuk-tunjukkin. Maksudku, kita gak perlu malu punya kekurangan. Misalnya nih, diriku sendiri deh. Aku ini item, pendek, kriting, miskin kalo kata temen-temenku, pokoknya jauh deh dari tipe-tipe yang dicari para wanita hahahaha Tapi aku gak mau bro terlarut dalam kekuranganku itu, dalam bopengku itu. Gak perlulah aku make over biar jadi putih dan ganteng. Gak perlu juga aku ngepet gitu biar jadi kaya raya.

Just be yourself brooooo


Lanjut deh, yang kedua, masalah benda-benda angkasa lain.

Bulan, nggak akan bisa bercahaya indah kayak gitu kalo nggak ada benda-benda lain. Kenapa? Kayak yang udah aku bilang tadi. Bulan itu benda langit yang emang nggak bisa ngeluarin cahaya sendiri. Dia mantulin cahaya dari matahari dan bintang biar bisa bersinar terang kayak yang tadi barusan aku liat. Buat aku, matahari dan bintang-bintang itu adalah orang-orang di sekitarku. Ibuku, ayahku, adikku, semua temen-temenku, dan orang-orang lain yang pernah datang dan pergi di hidupku. Buatku, mereka semua adalah sumber cahaya. Cahaya yang besok bakal aku pantulin dan aku bagi ke orang lain supaya orang lain bisa menikmati hidup yang lebih baik. Kayak bulan yang ngasih cahaya buat orang-orang yang menderita dalam kegelapan tsssssaaaaaaaaaahhhhhhh hahaha. Intinya bro, kita dalam hidup, jangan pernah nglupain jasa-jasa orang di sekitar kita. Orang-orang di sekitar kita juga punya peran atas apa yang ada pada hidup kita. Mereka udah ngasih cahaya ke kita. Sekarang giliran kita buat ngebagi tu cahaya ke orang lain J



Gara-gara kipas angin rusak, aku bisa mengambil sedikit pelajaran dari si bulan. Pelajaran untuk ngejalanin ni hidup tanpa rasa minder karena kekurangan kita. Pelajaran buat nggak nglupain jasa orang-orang di sekitar kita. Pelajaran yang semoga bisa membuat ni hidup jadi lebih baik J









Senin, 02 Juli 2012

Hanya Sebuah Cerita (?)



Sepertinya hari baru akan segera tiba. Entah hanya perasaanku saja atau memang seperti itu adanya. Memang, dalam hatiku selalu kudambakan hari baru tiba, hari baru yang datang menawarkan sejuta cerita untuk ditelusuri. Cerita, ya cerita. Selalu ada cerita dibalik semua suasana dan kisah yang mengiringi perjalanan hidup kita.


Ketika aku masih kecil, sering kakekku menceritakan berbagai cerita kepadaku sebelum aku tidur. Cerita si kancil yang legendaries itu, cerita pewayangan, sampai tak jarang cerita-cerita mistis. Semua cerita yang selalu ingin kudengarkan sebelum kuakhiri hariku dengan menutup mata. Saat aku mendengarkan sebuah cerita, aku merasa sangat menikmati cerita itu. Seolah aku ingin terlibat dan mengambil peran dalam setiap bagian cerita yang kudengarkan. Aku ingin menjadi tokoh utama yang ada di cerita-cerita itu. Tokoh utama yang selalu menjadi pemenang di akhir cerita, tokoh utama yang membunub naga raksasa, tokoh utama yang hidup bahagia selamanya, tokoh utama yang membuat para penikmat ceritanya terkesan oleh kisah hidupnya.



Bila hidup ini diibaratkan dengan selembar kertas putih. Aku ingin hari-hariku tercatat di kertas itu. Setiap kisah, cerita, suka, duka, tercatat di sebuah lembaran kehidupan. Sebuah lembar kehidupan yang kelak saat aku tak sanggup lagi menghiasi kertas putih itu, aku bisa membacanya dan menikmati ceritaku. Cerita tentang hidupku, cerita tentang semua orang di sekitarku. Cerita yang akan aku nikmati sebelum aku menutup hariku. Seperti halnya ketika aku masih tak mengerti persoalan hidup yang membungkus setiap cerita anak manusia.


Semakin hari, akan semakin bertambah lembaran cerita hidup kita. Setiap manusia memiliki cerita yang berbeda. Kalaupun sama, pasti akan ada perbedaan diantaranya. Cerita hidup bukanlah dongeng si kancil ataupun cinderella. Cerita hidup adalah catatan pergolakan hidup manusia. Endingnya tak selalu berakhir indah seperti dalam cerita-cerita fantasi. Endingnya juga tak dapat diprediksi seperti halnya dongeng kancil yang pasti bisa ditebak. Cerita hidup manusia, tak akan ada yang tahu bagaimana akhirnya dan kapan berhentinya.


Semua goresan tinta dalam hidup ini seharusnya memiliki makna bagi penulisnya. Syukur bisa memberi makna bagi orang lain yang membacanya atau bagi mereka yang ikut terlibat dalam cerita hidup si empunya. Hidup ini bukan beban dan bukan panggung sandiwara menurut pemahamanku. Memang kita memainkan peran dalam dunia ini. Akan tetapi, diri kita sendirinlah yang mengatur sebagaia apa kita dalam cerita ini. Bisa menjadi stage manager dan sutradara sekaligus lakon dalam hidup ini. “Dia” yang transedens, yang kita kenal dengan “Tuhan” adalah produser yang memberi kita kebebabsan untuk menyelesaikan cerita kita.



Cerita hidup kita…
Cerita orang-orang di sekitar kita…
Cerita segala macam upaya anak manusia mengalahkan permasalahan dunia…





Hanya sebuah cerita?