Senin, 18 Juni 2012

Sebuah Kota


Mataku masih terlalu sungkan untuk kuajak menutup pelupuknya. Kantukku masih terlalu muda untuk kuperintahkan meyerangku. Malam ini pikiranku melayang ke sebuah tempat saat dimana pernah kulakukan hal yang gila bersama dua orang temanku. Entah kenapa ingatan satu tahun yang lalu itu belum juga beranjak dari tempatnya. Dia masih bergelayutan manja di pikiranku sambil sekali-sekali bermain petak umpet. Ya, ingatan tentang hal yang itu-itu saja, ingatan tentang hal yang tentu saja kau sudah tahu. Aku dengar kau sudah sukses, menyentuh negeri seberang dengan kaki kecilmu dan hati besarmu. Aku turut bahagia akan itu.

Jumat, 18 Juni 2011.

Tepat satu tahun yang lalu ditanganku telah kupegang sebuah tiket kereta api kelas ekonomi dengan tujuan sebuah kota di sebelah barat pulau ini. Sebuah kota dimana jarak pernah memisahkan aku dan kamu. Sekarang, tidak  hanya jarak yang sangat bahagia karena telah memisahkan kita, mungkin juga waktu, angin, asa, matahari, rasa. Masih teringat jelas, jadwal kereta api kelas ekonomi itu berangkat dari kota ini pukul 20.20 WIB. Akan tetapi, seperti biasa yang terjadi di Indonesia, kereta besi itu tetap terlambat menjemputku untuk menemuimu di kota itu. Sebuah peta kota B telah diam dan tersembunyi di ransel hitam itu. Sebuah peta yang menjadi saksi petualangan kita waktu itu, sebuah peta konvesional dari kertas yang kemudian beradu dengan gps yang ada di telepon genggammu, waktu itu. Tekadku sudah bulat untuk pergi menemuimu apa yang aku perjuangkan waktu itu. Menemuimu di kota yang sama sekali belum pernah aku datangi.

Kereta besi beranjak pergi meninggalkan Stasiun Lempuyangan, dengan langkah kecil merayap diatas besi menuju ke sebuah stasiun kecil di kota B, Stasiun Kiara Condong. Bersama dua orang temanku, kuhabiskan malam dengan berpuluh-puluh batang rokok dan beberapa gelas kopi yang kami jumpai. Berhimpit-himptan di sebuah gerbong tanpa tempat duduk, hanya beralaskan koran seadanya yang dijual di dalam gerbong itu tidak menyurutkan niatku untuk menemuimu di kota itu. Kota yang pernah menjadi saksi secuil kisah hidupmu.

Saat matahari mulai malu menampakkan sinarnya, aku tersadar, kota yang kutuju sudah dekat, kamu sudah dekat, sebentar lagi, ya sebentar lagi aku akan menemuimu, dahulu.

Udara dingin mulai menyapaku saat kaki ini kulangkahkan keluar dari gerbong yang telah mengantarkan aku dan asaku sampai di kota B. Sebuah pesan singkat kuterima di telepon selulerku yang intinya, aku harus memberi kabar kepadamu bila aku sudah sampai di kota B. Tanpa kupedulikan suara kereta besi yang menderu-deru, kukirim pesan singkat padamu, mengabarkan bahwa raga dan jiwaku sudah ada di kota B, atau mungkin jiwaku sudah sampai duluan karena telah kau bawa saat kepergiaanmu malam itu di sebuah stasiun kota kita, mungkin.

Minggu, 20 Juni 2011

Pagi ini, peta konvesionalku telah siap, ranselku juga telah siap walaupun tak berisi apa-apa. Entah siap untuk apa. Aku pun tak kalah siapnya. Siap untuk menemuimu di sebuah wisma di kota B. Wisma yang terletak di Jalan K….. no. 10. Kutinggalkan tiga orang temanku yang masih asik bermalas-malasan. Beny, Cacicng, Murti, aku pamit dulu, kalian pasti tahu hendak menemui siapa aku hari ini. Terimakasih teman kalian bersedia menemani perjalanan ini. Kakiku mulai melangkah di trotoar jalan protocol kota itu. Berbekal peta konvesionalku, kutelusuri jalanan kota yang sangat asing bagiku itu untuk menemukanmu. Kaki ini tak akan pernah terasa lelah untuk melangkah, melangkah menghampiri sesutau yang di cintai dulu. Jalan Lembong, lalu Jalan Veteran, sejenak kubuka peta itu, memastikan rute yang kutempuh adalah rute yang benar. Memang benar, aku sudah dekat. Kupercepat langkahku, tak sabar ingin aku temui seorang gadis yang mungkin memang sedang menunggu di sana, mingkin.
Saat langkahku mulai dekat dengan mulut wisma  K itu, kulihat kau muncul dengan kaos hitammu, celana jeans putih ke abu-abuamu, dan tas coklatmu, serta sepatu barumu yang kau beli di sebuah mal di kota itu. Entah perasaan apa yang ada di hatiku saat mataku menangkapmu. 

Perjalanan 333km dari kota ternyata tak sia sia…

Setelah itu, biarkan semuanya hanya aku dan kamu yang tahu…

Kenangan yang pernah menghiasi hariku dulu….

Terimakasih….