Rabu, 30 Mei 2012

Extraordinary crime: Titip Absen


Ada sebuah fenomena unik yang aku amati sekitar 9 bulan aku mengenyam pendidikan di dunia perkuliahan. Bagi kita yang beruntung mengenyam bangku perkuliahan pasti tidak asing dengan fenomena "TA" atau "titip absen". Oke, bagi sebagian orang mungkin fenomena ini sudah menjadi hal yang wajar dan mendapat pemakluman diantara kita. Jujur, bagiku pribadi sampai sekarang, fenomena “TA” ini menjadi semaca extraordinary crime. Fenomena titip absen ini bagiku merupakan sebuah hal yang tidak dapat ditolerir oleh nuraniku.

Oke, bagi yang belum tahu tentang titip absen, akan aku beri sedikit gambaran tentang hal ini. Saat kelas dimulai, akan ada presensi yang diedarkan kepada seluruh mahasiswa. Presensi tersebut ditujukan bagi mahasiswa yang memang mengikuti kegiatan perkuliahan di kelas berlangsung. Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tersebut berhak untuk menandatangani presensi tersebut. Nah, titip absen ini berarti bahwa seorang mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan perkuliahan “meminta tolong” kepada temannya yang sedang mengikuti perkuliahan untuk menandatangani presensinya. Begitulah gambaran singkatnya.

Kemudian apa yang salah di sini? Berangkat dari kawah candradimuka dimana aku pernah digembleng untuk memaknai hidup, salah satunya adalah tentang kejujuran. Saat aku mengenyam pendidikan di SMA ku dulu, SMA Kolese De Britto. Kejujuran benar-benar ditekankan pada pendidikan kami di sana. Kejujuran bukan lagi menjadi sebuah kewajiban, namun merupakan sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging bagi kami para peserta pendidikan di kawah candradimuka ini.

Saat aku menginjakan kaki di dunia perkuliahan, ternyata hal yang aku uraikan di atas tentang kejujuran semakin susah untuk aku jumpai, apalagi aku bertemu dengan fenomena unik ini, fenomena titip absen. Orang bisa dengan mudah mengingkari nuraninya demi mendapatkan keuntungan pribadi tanpa mau melakukan kewajibannya. Biasanya, mahasiswa melakukan titip absen ini karena takut kepada kuota presensi minimal yang diterapkan oleh fakultas. Di fakultas saya, setiap mahasiswa diberi kuota presensi minimal sebesar 75% kehadiran atau bisa tidak hadir dalam perkuliahan sebanyak 3 kali dalam 14 kali pertemuan. Apabila kita mau melihat lebih jauh, saat mahasiswa tidak mengikuti perkuliahan, berarti mahasiswa itu akan kehilangan presensinya itu. Namun, mahasiswa kebanyakan tidak mau kehilangan presensinya itu sehingga ia melakukan titip absen ini demi melindungi kuota minimal presensinya. Padahal sudah jelas, ketika mahasiswa tidak hadir dalam dunia perkuliahan, berarti sudah semestinya dia kehilangan presensinya. Lebih baik menerima kehilangan itu daripada harus terus menutupinya dengan kebohongan.

Selama ini, aku sendiri, bukannya bermaksud tinggi hati atau apapun itu. Aku masih memegang teguh prinsipku untuk tidak titip absen. Apabila memang aku tidak masuk, yasudah, tidak akan aku tutupi kealphaan ku itu dengan titip absen kepada temanku. Saat aku tidak datang, ya konsekuensinya tidak akan ada tanda tanganku yang mendarat di kertas presensi itu.

Sebuah prinsip yang akan terus tergerus jaman apabila mental anak bangsa tidak dibenahi sejak dini. Belajar menutupi kesalahan dengan kebohongan, bisa bayangkan apa yang terjadi 20 tahun kelak bila masih terus seperti ini mental calon penerus bangsa kita?



Sebuah sumbangan bagi keprihatinan……..

Senin, 07 Mei 2012

Manusia Hebat Dalam Hidupku


Pernahkah kalian memiliki manusia-manusia yang sangat berarti dalam hidup kalian? Manusia yang tidak akan kalian tukar dengan apapun di dunia ini. Manusia yang selalu menemani kalian. Manusia yang dengan sukarela mau menampung semua air mata yang keluar dari mata kita. Manusia yang mau menyumbangkan senyumnya dalam hidup kita. Manusia yang selalu berada bersama kita saat manusia yang lain bahkan dunia ini mulai pergi meninggalkan kita. Manusia yang setia menemani setiap dinamika kehidupan kita.

Aku punya…

Mereka adalah manusia-manusia luar biasa dalam hidupku. Pertemuanku dengan manusia-manusia ini terjadi dengan sangat sederhana. Aku menemukan mereka di sebuah tempat pergulatan hidup para remaja. SMA. Ya, aku menemukan mereka di SMA.

Entah sudah berapa ribu keluh kesahku kutumpahkan pada mereka. Entah berapa ribu tawaku berjalan beriringan bersama mereka. Manusia yang tak akan kutukar dengan apapun di dunia ini. Teman-temanku, sahabatku, saudaraku. Kalian memberiku kekuatan untuk tetap menatap api di depan, memacuku untuk selalu melangkah, menamparku saat aku terlelelap dalam nikmatnya dunia. Kalian selalu ada untukku.

Pernah aku berpikir, apakah aku siap bila kalian semua hilang dalam hidupku? Jujur, aku tak akan pernah siap untuk kehilangan teman seperti kalian. Aku tak akan pernah siap untuk melihat kalian tidak ada lagi menemani tangis dan tawaku.

Aku sadar, apa yang aku berikan kepada kalian, hanyalah sebagian kecil dari apa yang kalian berikan dalam hidupku. Kalian, saudaraku walau kita berasal dari rahim yang berbeda….
.
.
.
.
.
.
 Suatu malam di sebua burjo, Palm Kuning tepatnya…

Di sana, aku habiskan malam bersama manusia-manusia hebat dalam hidupku. Bertukar cerita, bertukar pikiran, bertukar es teh, bertukar rokok, bertukar segala macam apa yang ada pada diri kita masing-masing. Obrolan kecil yang kemudian tanpa sadar terfokus kepadaku. Kalian dengan sukarela mendegarkan ceritaku yang masih sama. Cerita yang sudah kalian dengar dan kalian genapi dengan celotehan bermakna dari kalian. Pernah aku bertanya dalam hatiku, apakah kalian tidak bosan dengan ceritaku yang selalu sama?

Aku tak peduli bosan tau tidak kalian dengan semua ocehanku, tapi yang aku tahu, kalian tetap ada saat mulutku tetap bekerja nenelurkan cerita yang sama, masalah hidup yang sepertinya hanya itu-itu saja….

Terimakasih teman kalian mau menemani segala macam apa yang terjadi dalam hidupku.
Teman berbagi, bercerita, melangkah….

Manusia luar biasa..
Manusia yang tak akan pernah aku tukar dengan apapun…




Kalian….
Manusia-manusia hebat dalam hidupku….

Terimakasih kawan….