Kamis, 12 April 2012

Arti Sebuah Nama




Udah lama bgt gak nulis tentang hal- hal sepele yang aneh, sori sebelumnya kalo akhir-akhir ini tulisanku banyak tentang kegalauan hahahaha
maklumlah, abg.... :D

Oke, aku terlahir dengan nama Oktavianto Adi Prasetyo seperti yang ada di akta kelahiranku, aku biasa dipanggil Okta atau Adi, tapi lebih sering aku dipanggil "kopi" sama temen-temenku. Gak ada nyangkut-nyangkutnya kan istilah "kopi" dengan nama asliku. Kenapa bisa dipanggil kopi? Akan aku ceritakan sedikit sejarah tentang "paraban" ku ini..

Aku pernah mengenyam pendidikan di bangku SMP. yaiyalah, mosok ya langsung SMA? bukan anak ajaib men haha

Di SMP dulu, aku sering dipanggil dengan nama adi, ya adi, itu sebenarnya nama indah pemberian orangtuaku sekaligus doa untukku. Tapi ya bukan salah orang tuaku juga sih punya harapan yang muluk-muluk tentang namaku. Adi itu dalam bahasa jawa artinya adalah sesuatu yang luhur dan tinggi. Mungkin orangtuaku berharap agar aku menjadi orang seperti itu. Tapi apa boleh buat? Aku justru tumbuh dan berkembang jadi orang yang bisa dibilang urakan dan seenak gue, jauh dari arti kata “adi” tadi (maaf ya pak,buk, anakmu sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ya tetep aja kayak gini --v)

Ya, itu tadi sekilas arti nama asli ku dan harapan yang terkandung di dalamnya. Kembali ke asal mula nama “kopi” yang melekat di diriku…

Aku dulu punya temen, namanya Adhi Pratama Kurniawan, di dipanggil adi juga, sama seperti aku. Nah, di sini ceritanya. Saat pelajaran bahasa Indonesia, guruku memanggil muridnya satu per satu untuk menceritakan tokoh idolanya di depan kelas. Lalu tiba giliran kami dipanggil, Adi atau Adhi. “adhi/adi, maju ke depan, ceritakan tokoh idolamu” perintah guruku. Seketika itu aku respon panggilan sang guru itu, “ adi yang mana pak?” “Kamu, yang kopi”, tambah guruku. Duuuueeeeerrrrr!!!!! Mulai detik itulah, nama kopi melekat di diriku selama kurang lebih hampir tujuh tahun ini(lama juga ya). 

Kalian tahu nasib temanku yang satunya si Adhi itu?Sampai sekarang nama “Susu” melekat padanya. Memang, “kopi” dan “susu”, kami kembar, hanya namanya saja, tapi penampakan kami jelas berbeda. Nama panggilan kami jelas merepresentasikan kami. Kopi, apa yang muncul di pikiran kalian? Item bukan? Ya, aku emang item, kecil, dan seperti itulah, bisa kalian bayangin sendiri mungkin hahah Lalu susu? Dia adalah sosok pria tampan, putih, dan tinggi hahahaha Kontras sekali bukan? Seperti warna kopi dan susu….

Sekarang mulai masuk ke topik yang agak serius…

Tujuh tahun aku hidup dengan nama “kopi” melekat pada diriku. Tak pernah berkecil hati aku saat dianugerahi nama itu. Sampai sekarangpun, saat aku memperkenalkan diriku, pasti seperti ini,” Halo, aku kopi, nama aslinya okta, tapi panggil kopi aja”. Selalu seperti itu. Ya, itu identitasku, sesuatu yang merepresentasikan aku. Aku akan lebih mudah dikenal dengan nama kopi daripada adi atau okta. Bukannya aku tidak bangga dengan nama pemberian orangtuaku, jujur dari lubuk hatikupun aku ingin menjadi apa yang diharapkan oleh kedua orangtuaku dengan namaku tadi. Selama bertahun-tahun aku terima mentah- mentah nama kopi tanpa mencari-cari makna yang terkandung dalam nama itu.

Aku mulai menyadari makna apa yang terkandung dengan dalam namaku itu saat aku membaca salah satu kumpulan cerpennya Dewi Lestari atau yang sering dikenal dengan nama Dee, Filosofi Kopi, mungkin kalian juga pernah mendengarnya atau bahkan membacanya. Kopi, sebuah minuman yang nikmat bukan? Kopi, semanis apapun kopi yang kita minum, pasti ada sisi pahitnya yang akan kita rasakan, kira-kira seperti itu makna yang kutangkap dari Dee dalam Filosofi Kopi nya. Kopi, juga berkhasiat untuk menghilangkan kanutk karena kandungan kafein di dalamnya.

Dari situ, kutarik benang merah dengan nama dan hidupku. Semanis-manisnya hidup yang aku jalani dan hadapi, pasti ada sisi pahit yang harus kunikmati juga, sama ketika kita meminum kopi. Selama ini, aku sering mengeluh saat mengalami berbagai pengalaman buruk dan menyalahkan keadaan di sekitarku. Sekarang aku sadar, bahwa dalam hidup tidak selamanya indah, ada pahit dan getir yang harus dialami, itu justru akan membuat hidup kita lebih “nikmat” bukan? Bukan berarti menelan kepahitannya bulat- bulat, namun merefleksikan dahulu berbagai pengalaman pahit yang kita alami untuk bekal kehidupan kita di hari esok. Ya, kehidupan, ada baik dan ada buruk. Nama “kopi” yang melekat pada diriku sekarang bukan hanya identitas saja buatku, tapi juga menjadi semacam alarm saat aku sedang berada di kondisi yang buruk. Mengingatkan aku, bahwa hidup ini pasti ada sisi pahitnya.

Apalah arti sebuah nama? Pernah denger ungkapan ini kan?

Buatku, nama bukan hanya sebuah harapan dan doa orang tua kita untuk kehidupan anaknya. Buatku, nama bukan hanya sebuah identitas bagi empunya. Bagiku, nama juga sebuah peringatan yang akan selalu mengintakan kita saat kita mulai jatuh dalam hidup ini. Untuk bisa kembali berjalan dengan apa yang telah orangtua kita harapkan dan berjuang dalam hidup ini sesuai dengan identitas kita dan ciri khas kita masing-masing. Tidak perlu menjadi orang lain, karena cukup dengan menjadi diri kita sendiri, kita akan bisa menggali makna hidup kita di dunia ini.

Selamat merenungkan harapan, cita-cita, mimpi dan makna hidup…..

2 komentar:

  1. "Tidak perlu menjadi orang lain, karena cukup dengan menjadi diri kita sendiri"

    Siiiip

    BalasHapus