Rabu, 25 April 2012

Neutrality and Integrity against Corruption



Nowadays, corruption in Indonesia is a hot issue. Many people get jail because this case. Corruption brings the negative effect for this nation. Corruption means that some people use their position to take the others rights for self interest. Why in Indonesia corruption can grow like today? I think there is a big problem, and that problem is about moral. Bad moral can make people do something bad too. For example, in this case, when you get a high position and then you have power to do something. If your moral is bad, maybe you can use your power to do something bad, you can take the others rights for yourself interest and in the other hands, people whose rights have been taken will get the pain. And you? You get a benefit from the others pain.

     In my academic background, I studying accounting in university and I think accounting is close with this problem. Accounting close with manipulation, mark up, even corruption if a accountant have no good moral.

     To be an accountant is a dilemmatic. Why? Accounting in corporation or in a company faces the dilemmatic problem. Accountant works to make a financial reporting about the company. Nowadays, corruption is the biggest issue in Indonesia. Accountant is the susceptible with corruption. As a company accountant, maybe an accountant has an order to make a financial reporting for company interest. For example if you are an accountant, your boss asks you to make a financial reporting with some manipulation or mark up to avoid big taxes, so the company has big profit. Faces a problem like that, what would accountant should do? Will you obey with your boss’ order to make some manipulation in financial reporting in the financial reporting, or you will ignore your boss’ order. That’s mean, you will make financial reporting and make it with no manipulation and you company will have the bigger taxes.

     In accounting principles, there a principle called neutrality. Neutrality in accounting means that a financial reporting must be neutral and present the financial reporting as it is. Also, there is no interest in that financial reporting. Neutrality and integrity are the most important for an accountant. If every accountant in this world have neutrality and integrity, corruption can be avoid in a company even in a country. Neutrality and integrity are the moral problem and interest problem.

     Kieso, Weygandt, and Warfield (2011:4) argued that neutrality means that a company cannot select information to favor one set of interest parties over another.  The concept of neutrality in accounting means that the financial statements must be neutral, in this case means the financial statements are not partial to anyone, either to investors companies, and other parties who have an interest in the financial statements. The concept of neutrality aims to avoid the manipulation of certain parties. Healthy financial statements should presents financial statements that it is in accordance with the financial situation of a company. If the concept of neutrality ignored, there will be a problem because if the financial statements are partial to one of the interested parties, there will be inequality of information and information about the circumstances causing the company to be biased.

Then with regard to the profession, as an accountant. Our neutrality is tested when there are people who want a manipulation of data. Back to the moral issue was, whether we are morally mature enough to deal with this kind of problem? A good accountant should be able to apply the concept of neutrality, despite pressure from other parties. In addition to the threat there is also a need to deal with the advantages offered by certain parties in order to presents the financial statements are not neutral. For example, people with an interest that give us money or other privileges. Corruption often occurs because the second reason, as an accountant in excess of normal benefits given that accountants were persuade to manipulate data in financial statements should be presented.

Integrity is more inclined to self and one’s conscience. An accountant who has high integrity will not be easy to do things contrary to conscience, in this case manipulate financial statements. Today, the integrity of the person being eroded, many people are more concerned with personal benefits than their conscience. In Indonesia, the clearer it is clearly visible with the rampant cases of corruption in Indonesia. Issue of integrity is the most difficult problem seems to built and repaired. Building a high integrity should begin early in childhood. The values of integrity and honesty must be nurtured along with increasing age. Integrity is not an instant, therefore it needs a long time so that a person can have high integrity. 

In many cases of corruption, many cases which occur due to low integrity of the perpetrators of corruption. People who do corruption more concerned in personal benefits than the interests of others or public interests. Integrity in its works also easily bought and sold with money so that he will do it for improper activities of money and personal benefit. For example, an accountant has an order from his boss to make a financial statement with mark up or manipulation so that the company does not have high taxes. If an accountant has high integrity, he would not do his boss’ order to make financial statements with manipulation or mark up. He still would present the actual financial statements without any manipulation. Then when the accountant has low integrity, he will do what is ordered by his boss to make.

From the discussion above, working as an accountant obviously facing though dilemma, between conscience and convenience provided. Convenience given for opposing the conscience or the conscience to obey that sometimes do not take comfort in the financial field. As a good accountant, not just an intellectual skill is needed, but a good conscience is also needed, so as not easily to persuade to do despicable things like corruption. Solution to minimize this problem can be done by the character education earlier to children so that when they are mature, they will continue to uphold the values of integrity and honesty. And hope that it can help our nation to reduce the corruption act.





Jumat, 20 April 2012

Akuntansi: Sebuah Studi Tentang Masa Lalu


Pernah denger yang namanya galau akademis? Sedikit asing kali ya karena istilah galau yang marak muncul di kalangan remaja berusia 15 tahun sampai 21 tahun pasti berhubungan dengan sesuatu yang berkaitan dengan masalah hati atau asmara. Nah, galau akademis hampir mirip sebenernya dengan galau-galau yang popular di kalangan abg dewasa ini. Faktor pembeda dari galau akademis adalah, dasar permasalahan yang menyebabkan hal ini terjadi bersumber dari hal-hal yang berbau akademis, bukan cinta ataupun asmara, dan kali ini bisa dibilang aku terjangkit oleh penyakit mematikan yang satu ini. Galau Akademis, ya, galau akademis….

Galau akademis….

Sekedar informasi saja, aku adalah mahasiswa yang baru menempuh semester kedua dalam dunia perkuliahan. Aku mengambil jurusan akuntansi di sebuah universitas negeri di kotaku, Yogyakarata. Dulu waktu masih SMA, aku memang sangat ingin menuntut ilmu disini(ilmu kok dituntut?salah apa dia?). Oke, back on track. Akuntansi merupakan pilihanku karena dulu aku memiliki ketertarikan dan minat yang besar di cabang ilmu itu, selain itu, bukannya bermaksud untuk memegahkan diri, aku memang dikaruniai bakat di bidang satu yang itu. Dari latar belakang itulah kemudian aku putuskan untuk memasuki jurusan akuntansi di universitasku sekarang ini.

Awal mula memasuki dunia perkuliahan, semuanya berjalan biasa aja, nothing special. Akuntansi yang aku pelajari di semester satu kemarin masih sama seperti materi yang aku pelajari saat aku duduk di bangku SMA dulu. Sampai akhirnya semuanya bermuara di detik ini. Belakangan ini, aku selalu mempertanyakan, ngapain aku masuk akuntansi? Ngapain kop masuk akuntansi???

Oke, akhir-akhir ini aku bisa dibilang kehilangan arah dan tujuan kenapa aku masuk akuntansi. Yang terjadi pada diriku sekarang ini adalah, aku lebih tertarik pada hal-hal yang berbau sosial kemasyarakatan dan hal tulis-menulis. Kenapa aku gak masuk jurusan sosiologi aja? Komunikasi mungkin? Atau masuk jurusan satra Indonesia mungkin? Itu semua berlarian di otakku, pertanyaan yang selalu memburuku, ngapain masuk akuntansi kop???

Aku mencoba menarik benang merah tentag akuntansi dan diriku. Sadar tidak sadar, akuntansi adalah studi tentang masa lau. Gak percaya? Oke, aku kasih overview singkat tentang keterkaitan ini. Dalam akuntansi, kita sebenernya ngapain sih? Selama ini yang aku tahu, akuntansi itu merupakan proses penyajian sebuah laporan keuangan berdasarkan pada periode masa lalu atau periode yang sudah berlalu. Akuntansi mencatat transaksi di masa lampau, membuat jurnal, posting, buku besar, sampai ke penyajian laporan keuangan, semuanya berdasarkan pada kejadian masa lampau.

Lantas apa hubungannya akuntansi yang aku tangkap seperti itu dengan hidupku yang seperti ini? Seperti yang aku jelaskan tadi, akuntansi berusaha menyediakan laporan keuangan yang berlandaskan pada kejadian masa lampau untuk bahan pertimbangan pengambilan keputusan di masa depan. Sekali lagi, berdasarkan kejadian masa lampau sebagai pertimbangan pengambilan keputusan di masa mendatang.

Menurutku, ini sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Banyak kejadian di masa lalu dalam hidup kita, entah itu baik maupun buruk. Semuanya itu kita catat dalam kenangan kita. Sebenernya kembali ke kita juga sih, apakah kejadian-kejadian itu mau kita biarkan berlalu begitu saja atau akan kita jadikan bahan sebagai “laporan keuangan” kita untuk bahan pertimbangan mengambil keputusan di masa depan? Seperti akuntansi, kejadian di masa lalu kita yang ceria maupun nestapa seharusnya bisa menjadi bahan bagi kita untuk berefleksi dan berkaca diri tentang kondisi kita selama ini. Refleksi yang terjadi pasti berdasarkan kejadian masa lampau bukan? Nah, setelah bisa berefleksi dan berkaca diri tentang hidup kita, dari sini lah seharusnya kita berpijak untuk melangkah. Tentu sebelumnya harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang semua apa yang telah kita lakukan. Berdasarkan pada refleksi tadi, kemudian kita dapat menyusun, hal-hal apa saja yang harus kita lakukan dan kita hindari supaya kehidupan kita menjadi jauh lebih baik. Setuju??

Perenungan tadi, tentang akuntansi, sebuah studi tentang masa lalu. Sangat erat bukan dengan kehidupan kita? Ada kejadian di maa lalu, kita refleksikan, dan kita tindak lanjuti. Ini memberikan aku semacam guide line untuk bertindak dalam hidupku. Apa yang terjadi dalam hidupku, baik suka maupun duka, harus aku refleksikan, dan kemudian dari refleksi tadi, harus ada tindak nyataku untuk hidup yang lebih baik.

Galau akademis tadi menutunku pada sebuah perenungan. Apa yang bisa aku dapat untuk hidupku sebagai bekal hidup diluar hal-hal akademis. Aku menemukan analogi di atas seperti yang sudah aku uraikan. Hampir sama seperti tulisanku tentang asal-usul nama “kopi” yang melekat pada diriku. Bidang studi yang aku ambil juga menjadi alarm bagiku untuk bertindak dalam hidupku. Kalau nama yang melekat padaku memberikan peringatan bahwa hidup tidak selamanya manis. Sekarang, studi yang aku ambil ini menjadi alarm bagiku bahwa aku harus berkaca dari kejadian masa lalu untuk mengambil tindakan apa yang harus dilakukan di masa depan….

Bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian menemukan bekal hidup kalian memalui studi kalian? Tentu saja bekal yang aku maksud di sini adalah bekal di luar hal akademis, walaupun itu terkandung dalam hal akademis….


Selamat merenungkan, berefleksi, dan beraksi….









Kamis, 19 April 2012

Garis Cakrawala


Aku akan merindukan percakapan kita....

Ya, sekarang itu terjadi. Entah kenapa aku sangat ingin kembali bertukar pikiran lagi denganmu, bercerita banyak bersama tentang apa saja....

Akhir-akhir ini waktu ku denganmu sering aku habiskan sendiri untuk mencelamu bahkan berusaha untuk melenyapkanmu dari setiap pikiran yang menyergapku. Aku senang melihatmu sekaliigus ada rasa benci yang mengalir mengiringi kehadiranmu..

Ya aku benci saat aku melihatmu karena saat aku melihatmu, aku hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuhmu, bahkan untuk menguatkan diriku sendiri pun aku tak mampu…

Sekarang seperti ada pagar yang tak alami di antara kita, entah pagar apa itu. Aku ingin melompati pagar itu, merobohkannya bila perlu supaya aku bisa kembali mengulang masa-masa kita dulu. Masa dimana kita sering duduk bersama membicarakan hal-hal yang kadang tak pernah terpikirkan oleh kita, datang begitu saja…

Mungkin kau bosan dengan apa yang ada padaku. Aku sendiri sebenarnya juga bosan dengan apa yang terjadi padaku terhadap dirimu. Tapi, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan mengapa aku betah berada pada kebosanan itu dan justru aku menikmati kebosanan itu. Aku bosan melihatmu seolah-olah pergi dariku, tapi aku tak pernah bosan melihatmu dan menemanimu saat kau datang padaku….

Aku selalu berharap kau akan datang padaku, entah nanti, besok, lusa, atau tak suatu haripun..

Aku terjebak di ssebuah pandangan yang sering kita sebut “harapan”. Harapan memang bisa menjadi sesuatu yang memotivasi dan memacu orang untuk terus berjuang supaya harapan itu menjadi nyata. Akan tetapi, harapan juga bisa membuat orang mati karenanya. Saat harapan kita hanya menggelantung tanpa kepastian seperti garis cakrawala…

Garis cakrawala, saat kita mencoba mendekati garis cakrawala 10 langkah, maka garis itu juga akan mundur 10 langkah. Saat kita menjauhi garis cakrawala 10 langkah, garis itu justru akan maju 10 langkah..

Seperti garis cakrawala mungkin harapku padamu sekarang. Saat aku mencoba mendekatimu 10 langkah, kau justru mundur 10 langkah. Saat aku menjauhimu 10 langkah, kau justru mendekatiku 10 langkah…

Aku tak ingin maju, dan aku tak ingin menjauhi garis cakrawala itu. Biarlah kau dan aku berada pada tempat kita masing-masing, saling memandang, menjaga jarak tanpa mendekati ataupun menjauhi….

Semakin mendekati, semakin menjauh garis itu…

Semakin menjauhi, semakin mendekat pula garis itu..

Ya, selalu seperti itu tanpa pernah bisa bertemu…

Kita….

Bukan aku…

Bukan kamu…

Tapi aku dan kamu….

Biarlah aku dan kamu, kita, berada pada tempatnya…..

Kamis, 12 April 2012

Arti Sebuah Nama




Udah lama bgt gak nulis tentang hal- hal sepele yang aneh, sori sebelumnya kalo akhir-akhir ini tulisanku banyak tentang kegalauan hahahaha
maklumlah, abg.... :D

Oke, aku terlahir dengan nama Oktavianto Adi Prasetyo seperti yang ada di akta kelahiranku, aku biasa dipanggil Okta atau Adi, tapi lebih sering aku dipanggil "kopi" sama temen-temenku. Gak ada nyangkut-nyangkutnya kan istilah "kopi" dengan nama asliku. Kenapa bisa dipanggil kopi? Akan aku ceritakan sedikit sejarah tentang "paraban" ku ini..

Aku pernah mengenyam pendidikan di bangku SMP. yaiyalah, mosok ya langsung SMA? bukan anak ajaib men haha

Di SMP dulu, aku sering dipanggil dengan nama adi, ya adi, itu sebenarnya nama indah pemberian orangtuaku sekaligus doa untukku. Tapi ya bukan salah orang tuaku juga sih punya harapan yang muluk-muluk tentang namaku. Adi itu dalam bahasa jawa artinya adalah sesuatu yang luhur dan tinggi. Mungkin orangtuaku berharap agar aku menjadi orang seperti itu. Tapi apa boleh buat? Aku justru tumbuh dan berkembang jadi orang yang bisa dibilang urakan dan seenak gue, jauh dari arti kata “adi” tadi (maaf ya pak,buk, anakmu sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ya tetep aja kayak gini --v)

Ya, itu tadi sekilas arti nama asli ku dan harapan yang terkandung di dalamnya. Kembali ke asal mula nama “kopi” yang melekat di diriku…

Aku dulu punya temen, namanya Adhi Pratama Kurniawan, di dipanggil adi juga, sama seperti aku. Nah, di sini ceritanya. Saat pelajaran bahasa Indonesia, guruku memanggil muridnya satu per satu untuk menceritakan tokoh idolanya di depan kelas. Lalu tiba giliran kami dipanggil, Adi atau Adhi. “adhi/adi, maju ke depan, ceritakan tokoh idolamu” perintah guruku. Seketika itu aku respon panggilan sang guru itu, “ adi yang mana pak?” “Kamu, yang kopi”, tambah guruku. Duuuueeeeerrrrr!!!!! Mulai detik itulah, nama kopi melekat di diriku selama kurang lebih hampir tujuh tahun ini(lama juga ya). 

Kalian tahu nasib temanku yang satunya si Adhi itu?Sampai sekarang nama “Susu” melekat padanya. Memang, “kopi” dan “susu”, kami kembar, hanya namanya saja, tapi penampakan kami jelas berbeda. Nama panggilan kami jelas merepresentasikan kami. Kopi, apa yang muncul di pikiran kalian? Item bukan? Ya, aku emang item, kecil, dan seperti itulah, bisa kalian bayangin sendiri mungkin hahah Lalu susu? Dia adalah sosok pria tampan, putih, dan tinggi hahahaha Kontras sekali bukan? Seperti warna kopi dan susu….

Sekarang mulai masuk ke topik yang agak serius…

Tujuh tahun aku hidup dengan nama “kopi” melekat pada diriku. Tak pernah berkecil hati aku saat dianugerahi nama itu. Sampai sekarangpun, saat aku memperkenalkan diriku, pasti seperti ini,” Halo, aku kopi, nama aslinya okta, tapi panggil kopi aja”. Selalu seperti itu. Ya, itu identitasku, sesuatu yang merepresentasikan aku. Aku akan lebih mudah dikenal dengan nama kopi daripada adi atau okta. Bukannya aku tidak bangga dengan nama pemberian orangtuaku, jujur dari lubuk hatikupun aku ingin menjadi apa yang diharapkan oleh kedua orangtuaku dengan namaku tadi. Selama bertahun-tahun aku terima mentah- mentah nama kopi tanpa mencari-cari makna yang terkandung dalam nama itu.

Aku mulai menyadari makna apa yang terkandung dengan dalam namaku itu saat aku membaca salah satu kumpulan cerpennya Dewi Lestari atau yang sering dikenal dengan nama Dee, Filosofi Kopi, mungkin kalian juga pernah mendengarnya atau bahkan membacanya. Kopi, sebuah minuman yang nikmat bukan? Kopi, semanis apapun kopi yang kita minum, pasti ada sisi pahitnya yang akan kita rasakan, kira-kira seperti itu makna yang kutangkap dari Dee dalam Filosofi Kopi nya. Kopi, juga berkhasiat untuk menghilangkan kanutk karena kandungan kafein di dalamnya.

Dari situ, kutarik benang merah dengan nama dan hidupku. Semanis-manisnya hidup yang aku jalani dan hadapi, pasti ada sisi pahit yang harus kunikmati juga, sama ketika kita meminum kopi. Selama ini, aku sering mengeluh saat mengalami berbagai pengalaman buruk dan menyalahkan keadaan di sekitarku. Sekarang aku sadar, bahwa dalam hidup tidak selamanya indah, ada pahit dan getir yang harus dialami, itu justru akan membuat hidup kita lebih “nikmat” bukan? Bukan berarti menelan kepahitannya bulat- bulat, namun merefleksikan dahulu berbagai pengalaman pahit yang kita alami untuk bekal kehidupan kita di hari esok. Ya, kehidupan, ada baik dan ada buruk. Nama “kopi” yang melekat pada diriku sekarang bukan hanya identitas saja buatku, tapi juga menjadi semacam alarm saat aku sedang berada di kondisi yang buruk. Mengingatkan aku, bahwa hidup ini pasti ada sisi pahitnya.

Apalah arti sebuah nama? Pernah denger ungkapan ini kan?

Buatku, nama bukan hanya sebuah harapan dan doa orang tua kita untuk kehidupan anaknya. Buatku, nama bukan hanya sebuah identitas bagi empunya. Bagiku, nama juga sebuah peringatan yang akan selalu mengintakan kita saat kita mulai jatuh dalam hidup ini. Untuk bisa kembali berjalan dengan apa yang telah orangtua kita harapkan dan berjuang dalam hidup ini sesuai dengan identitas kita dan ciri khas kita masing-masing. Tidak perlu menjadi orang lain, karena cukup dengan menjadi diri kita sendiri, kita akan bisa menggali makna hidup kita di dunia ini.

Selamat merenungkan harapan, cita-cita, mimpi dan makna hidup…..

Sabtu, 07 April 2012

Buat Kamu

Sebenarnya, masih ingin bisa mengenalmu dn menemanimu, tapi sekarang sudah ada yang lebih layak untuk di sisimu.....
Aku hanyalah secuil pengalaman dalam hidupmu yang akan segera kau lupakan...
Tak ingin sebenarnya aku lakukan ini semua, tak ingin mencoba menghindar darimu...
Lebih baik tak usah kau cari aku, itu hanya akan menambah luka bagiku...
Tak usah kau coba menatap langit yang dulu sering kita tatap bersama, karena aku ingin menghabiskan semua langitku tanpamu....
Langit tak perlu tahu apa rasamu, biar rasaku saja yang dia tahu...

Apa yang harus kutuangkan lagi dari hatiku?
Aku rasa sudah tak akan ada yang harus aku tuangkan karena semuanya telah tertuang untukmu....

Semua waktuku, semua dari diriku, untukmu...
Ada waktu dan diri orang lain kini untukmu...
Waktu dan diri yang mulai kini akan menemani langahmu kemanapun kau pergi...

Aku memilih untuk mati

Hidup itu pilihan..
Aku memilih untuk terjun dalam jurang itu...
Dua kemungkinan ada di depanku...
Selamat.... dan....


Mati...


Aku mati.....
















Mati bukan berarti hilang.....
Mati hanya raga, bukan jiwa...




Jiwaku masih di sini....
Di sekitar semua apa yang ada....




Belari bersama angin mencoba menggapai mentari,hari,diri,mati.....






Mati......

Jumat, 06 April 2012

Asaku


Dua hari ini aku lewati dengan menghabiskan sore berdua bersamamu. Rinduku terobati saat kita kembali memandang langit yang sama di tempat itu. Sayang, mendung sore itu sempat membuatku takut . Takut bila sore ini berlalu terlalu cepat untuk kita lewati. Kau sibuk dengan perkerjaanmu menyelesaikan tugasmu, sedangkan aku sibuk dengan bacaan di tanganku kala itu, Kau tahu? Pikiran dan hatiku lebih sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya ada dalam hati dan pikiranmu. Mungkinkah hati dan pikiranmu membaca hati dan pikiranku? Mungkinkah hati dan pikiranmu bersepakat kepada hati dan pikiranku?

Bahagia saat aku bisa bersamamu, menjadi tempat untukmu berbagi dengan segala macam keluh kesah, suka, dan dukamu. Bahagia saat kau ijinkan aku hadir untukmu barang sekejap saja. Rasa ini masih sama, tapi apa rasa mu sama dengan rasaku? Harapku padamu memang jauh dari nyata. Asaku padamu memang terlalu jauh dari ada….

Parkiran bersama Fakultas Filsafat dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada……

Mungkin salahku mengartikan semua ini, tapi apakah salah bila aku masih memendam rasa ini? Memendam rasa kepada seorang yang mungkin tak pernah memiliki rasa padaku. Akankah kesempatan itu masih ada untukku? Kau bercerita tentang semua apa yang kau alami akhir-akhir ini, dan aku mendengarkan, berharap ada sesuatu tentang diriku yang kau ceritakan dan menumbuhkan asaku kembali…..

Warung makan pinggir jalan di depan GKJ Gondokusuman….

Aku memang tidak bisa memberimu bunga, memberimu coklat, dan mungkin memberimu sticky note. Aku hanya bisa memberikan diriku dan waktuku. Diriku untuk sekedar tempat bercerita saat kau ingin bercerita, berkeluh kesah, berbagi, dan terkadang meminta opini. Waktuku yang kuberikan saat kau datang….

Dua hari lagi, apakah asaku akan masih ada dan menyala? Dua hari lagi, apakah aku akan masih ada? Dua hari lagi, semuanya ada padamu. Bukan hanya untuk dia, tapi juga untukku….

Aku selalu berharap untuk bisa terus bersamamu. Aku selalu berharap untuk selalu bisa menjadi tempatmu menuangkan semua cerita dan keluh kesahmu, bahagiamu, sedihmu dan mungkin juga sukamu…..

Tanganku ingin meraih tanganmu saat kita berhadapan dan dibatas oleh dua piring lele bakar di atas meja itu, Seperti hatiku ingin meraih hatimu. Tanganku ingin menggenggam erat tangamu, sama seperti hatiku ingin menggenggam erat hatimu. Tanganku tak pernah ingin melepaskan tanganmu, sama seperti hatiku ingin menggenggam hatimu dan takkan pernah mau melepaskanmu……


Sebuah sms…

Lg tdr kop….

Maaf udah ganggu tidurmu….

Mungkin sama seperti semua ini…

Maaf udah ganggu hidupmu…