Senin, 26 Maret 2012

Senja di Grha Sabha Pramana


Senja itu biasanya aku lalui sendiri atau bersama teman-temanku. Duduk merenung, bercanda, dan terkadang berdiskusi di antara keramaian orang yang juga turut mengantar sang matari sembunyi di garis cakrawala. Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada. Pada sore hari, tempat itu pasti ramai dengan aktifitas manusia. Banyak dari mereka yang berolah raga, bermain bersama peliharaanya, atau sekedar melepas penat di sore hari setalah menjalankan rutinitas seharian sambil memandang langit senja, seperti yang sering aku lakukan bersama teman-temanku atau sendiri. Di sana sering kuhabiskan waktu hanya untuk memandangi langit. Entah kenapa ini sudah menjadi semacam hobi baru untukku, duduk di tangga Grha Sabha Permana pada sore hari untuk sekedar memandang langit jingga dan berdiskusi dengan alam. Tentang hidup, tentang berbagai pertanyaan yang sampai sekarang pun belum kutemukan jawabannya. Senja di Grha Sabha Pramana, sebuah tempat baru untuk memandang makna hidup dan terus mempertanyakannya……

Sore ini berbeda dengan sore-sore sebelumya. Kau menunggu sendiri, duduk di bagian barat tangga GSP itu dengan menggenggam susu kotak dan alunan musik Sebastian Bach dari handphone mu. Janji kita telah terpenuhi sore ini, untuk pertama kalinya menikmati senja di Grha Sabha Pramana, bersama.
Awal kudekati tempatmu dengan langkah yang sedikit ragu, aku juga tak tahu kenapa aku ragu, seperti belakangan ini mungkin, seperti keadaan diantara kita, aku ragu. Sore ini akan kutuntut kepastian, entah dari mulutmu atau hanya sekedar dai sorot matamu. Masih ingatkah, ada backsound yang lebih menarik dari musik yang ada di hpmu? Sayup-sayup suara marching band mengiringi obrolan kita sore itu. Tiga lagu yang kita temukan pada sore itu, tahukah kamu sebenarnya lagu itu mewakili perasaanku padamu selama ini? Mungkin kau tak tahu, dan semoga tak tahu. 

Kau menghujat seorang mbak-mbak saat kau melihatnya berlarian naik tangga dan kelelahan. Kau ingin membuktikkan kalau kau mampu naik turun tangga 10x dan tidak akan lelah, kau pun melakukannya. Aku masih ingat, saat itu hanya tinggal kita berdua. Aku hanya melihatmu melakukan olahraga kecil sore itu. Tak tega sebenarnya melihatmu naik turun tangga dengan nafas terengah-engah. Ingin aku menolong dan menemanimu untuk naik turun tangga. Namun aku lebih suka melihat dan mengamatimu saja, seperti yang selalu kulakukan selama ini, gazing.

Senja di GSP itu, aku merasa lega walaupun juga sedikit getir saat tahu apa yang kau rasakan selama ini terhadapku. Aku tahu kau tak ingin kehilangan suatu apapun atau seseorangpun. Mungkin kau lebih senang dengan hidupmu sekarang, dan mau tak mau aku juga harus ikut bahagia karena aku temanmu, bener kan? Terang-terangan kau memintaku utnuk selalu ada saat kau membutuhkanku. Ada yang bilang padaku, jangan mau jadi boneka seperti itu. Namun apa tanggapku? Aku merasa senang bila dibutuhkan oleh seseorang, setidaknya aku di”orang”kan. Karena selama ini aku juga merasakan menjadi sesuatu yang tidak dianggap. Sekarang, walaupun sakit kenyataan yang kuterima, tapi masih ada kegembiraanku saat aku bersamamu, setidaknya aku masih bisa memandangi dan mengamatimu dari tempat yang terkadang kau tidak tahu. Dan aku merasa senang saat kamu membutuhkanku. Aku tak peduli apa kata orang karena yang aku tahu, aku bahagia saat bersamamu, entah bagaimana denganmu…

Mungkin kamu tahu bait yang dibawah ini, kita pernah menyusunnya bersama waktu itu….

Semoga kau tidak menjadi “mereka”…….

5 komentar:

  1. Tod! Di mata kami, kamu selalu kami anggap!

    BalasHapus
  2. maksudku di mata sesorang yang lain mar, kamu pasti yahulah siapa....thanks anyway sudah menganggap aku ini ada :)

    BalasHapus