Minggu, 25 Maret 2012

Kalo Nggak Naik, Kayak Bom Waktu....

Ini opini saya tentang isu yang cukup panas baru-baru ini, hanya opini...

Rencana pemerintah untukmenaikkan hargaa BBM bersubsidi per 1 April 2012 besok telah menuai pro dan kontra. Berbagai aksi penolakan rencana pemerintah ini menuai banyak protes dan pertentangan karena dinilai akan semakin menyengsarakan rakyat. Selama ini harga BBM bersubsidi sebesar RP4.500,- per liter akan dinaikkan sebesar RP1.500,- per liter, atau menjadi Rp6.000,- per liter. Kenaikan harga BBM bersubsidi ini tentu akan berdampak pada naiknya harga barang dan jasa lainnya. Dalam berbagai media kita sering menyaksikan banyaknya aksi demonstrasi mengecam rencana pemerintah untuk menaikkan BBM bersubsidi. Bahkan tidak jarang aksi demonstrasi yang digelar di jalan berakhir dengan ricuh. 

Memakai kacamata masyarakat golongan menegah ke bawah, tentu saja hal ini sangat memberatkan mereka. Ketika harga kebutuhan hidup merangkak naik namun kondisi perekonomian tetap saja kurang mendukung. Kenaikan BBM tentu saja akan semakin menyengsarakan mereka. Akan tetapi, pernahkah kita menyempatkan waktu barang sedikit saja untuk sekdear iseng, coba-coba menjadi pemerintah. Mengurus ratusan juta warga negara Indonesia dari latar belakang yang berbeda, termasuk latar belakang sosial ekonominya. Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi pasti juga melalui pertimbangan yang sangat sulit.

Salah satu alasan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi ini adalah untuk menjaga APBN supaya tidak jebol. Pada tahun 2011, subsidi BBm sudah melampaui batas kewajaran. Tahun 2011, pemerintah menetapakan anggaran subsidi BBM sebesara Rp129,7 triliun, namun realisasinya mencapai RP160 triliun. Hal tersebut diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan naiknya harga minyak dunia yang juga terus merangkak naik. Apabila harga BBM tersebut benar akan dinaikkan, hal ini dinilai bahwa akan mambwa penghematan bagi APBN dalam subsidi BBM. 

Lantas, apa yang salah selama ini? Selama ini, BBM bersubsidi justru salah sasaran karena tidak diberikan pada kelompok masyarakat tertentu tetapi malah menjadi barang yang bisa didapatkan oleh siapa saja. Follow up dari kenaikan BBM ini, pemerintah berencana untuk menggiatkan program beasiswa bagi masyarakat yang kurang mampu. Kemudian juga mengintesifkan program raskin bagi masyarakat kurang mampu. Serta untuk memperbaiki sarana transportasi umum.

Jika kita mau melihat dari sisi rasionalitas konsumen, saat harga suatu barang itu tinggi, seharusnya konsumen berpikir untuk menghemat penggunaan barang itu. Namun apa yang terjadi dalam masyarakat kita? Penggunann BBM besrsubsidi justru terus meningkat. Melalui kenaikan harga BBM bersubsidi ini sebenarnya dapat digunakan oleh masyarakat utnuk berlatih berpikir secara rasinal supaya bisa menghemat penggunaan BBM ini. 


Selalu ada sisi yang baik dan buruk dalam nmengambil sebuah keputusan. Keputusan pemrintah untuk menaikkan harga BBM bersubidi memiliki sisi positf yaitu untuk menyelamatak APBN kita dari "kejebolan" dan mengalokasikan dana subsidi utnuk hal lainnya seperti untuk sektor pendidikan, infrastruktur termasuk transportasi umu dan laiinnya. Akan tetapi hal ini juga membawa dampak yang negatif bagi masyarakat gologan menegah karena hidup mereka akan semakin sulit.Begitu pula jika pemerintah mengambil keputusan utnuk tidak menaikkan harag BBM bersubsidi kita. Tentu saja rakyat tidak tambah sengsara dan hidup menjadi normal layaknya sekarang ini. Namun apa yang terjadi dengan APBN kita? APBN kita bisa jebol dan defisit negara bisa menumpuk seperti fenomena gunung es yang lama kelamaan bisa menjadi bom waktu bagi negara kita, Indonesia.

Intinya,selalu ada sisi positf dan negatif dalam pengambilan keputusan. Dan yang dilakukan adalah mengambil keputusan yang mengandung resiko paling kecil....

Lebih baik berat diawal daripada meladak dibelakang seperti jaman ORBA dulu, bangsa kita maju dengan segala macam infrastrukturnya, apa-apa murah, namu ternyata hutang yang selangit menumpuk dan menghauntui kita, bahkan anak cucu kita...

Semoga lebih baik, Indonesia, semoga....

 

9 komentar:

  1. Kata'kenaikan' yang dipakai untuk menggambarkan kejadian ini sebenernya kurang pas, menurutku kata yang pas itu 'normalisasi', karena bbm selama ini bisa dibandrol Rp 4500,-/liter karena adanya subsidi, pemerintah mengurangi subsidi itu sehingga harga BBM jadi Rp 6500,-/liter. Pengurangan subsidi kan berarti harga BBM mendekati harga normal (harga tanpa subsidi). Kalo diliat dari bengkaknya anggaran subsidi tahun 2011, sebenernya pengurangan subsidi bisa jadi langkah yang bener. Sebenernya dengan adanya kebijakan ini masyarakat harusnya terpacu untuk lebih produktif supaya pendapatan mereka bisa mengimbangi kebutuhan energi ini. Coba dijajal sek lah kebijakane, nek ra masuk kan tambah subsidi meneh iso, koyo hurung tau ono masalah koyo ngene wae ah. CMIIW

    BalasHapus
  2. Bener banget ben, opini publik yang selama ini terkonstruksi ini karena hanya meliahat level harganya saja. Naik atau turun tanpa mau melihat apa yang sebenernya terjadi. Nice brooo :D

    BalasHapus
  3. Kalo tingkat pengeluaran masyarakat dinaikkan, seharusnya para bos-bos itu juga harus naikin tingkat pendapatan pegawainya. Kalo mau maju ya harus mau nerima perubahan kayak gini. Negara kita kaya raya, mentalnya aja yang mental kere.

    BalasHapus
  4. Yah setuju sama kamu Kop... tapi coba liat, selama ini memang pemerintah bilang ÄPBN kita harus diselamatakan" dan katanya APBN kita itu jebol. Tapi pernahkah pemerintah membuktikan sedikitnya ke rakyat bahwa APBN kita jebol?... Dari sisi lain juga malah muncul orang orang yang menentang kalau APBN kita jebol, malah surplus dari BBM ini. Dan orang orang ini juga memberikan sedikit fakta ( walau belum dibuktikan kebenarannya ), cukup jelas juga.

    Mungkin pemerintah menurut pendapat saya tidak cukup kuat untuk meyakinkan kita bahwa saat ini kita sedang 'krisis', karena itu mungkin banyak menuai protes, dan pemerintah ketika tahu bahwa ini krisis tidak mengimbangkan antara solusi menaikkan BBM dengan solusi lain lainnya ( tentunya menaikkan BBM akan berakibat pada banyak sektor di Indonesia ini )

    BalasHapus
  5. Ironisnya, sekarang masyarakat merasa bahwa subsidi BBM yang mereka dapatkan itu merupakan "hak" mereka, bukan "pemberian pemerintah". Di samping itu, kenaikan harga BBM itu ga selamanya negatif. Pemerintah akan dapat mengendalikan demand barang-barang dengan adanya kenaikan harga BBM. Inflasi pun menurun :)

    On the other hand, pemerintah harus konsekuen. Kalau memang subsidi BBM akan ditarik, pemerintah harus bisa menjamin bahwa dana tersebut disalurkan ke hal yang lebih positif.. Jangan ditelen sendiri :)

    BalasHapus
  6. thanks buat wiloiam, memang selama ini pemerintah belim dapat "memberikan" bukti secara nyata kepada masyarakat selain melalui data APBN nya....
    bener banget mar, kalopun ntr subsidi BBm dikurangi, sudah selayaknya dana tersebut dialokasikan untuk hal lainnya seperti peerbaikan sarana transportasi umum dan sektor pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu.. :D

    BalasHapus
  7. http://antoniusdian.blogspot.com/2012/04/ekspresi-rakyat.html iki demo BBM di jogja kop..

    BalasHapus