Rabu, 26 Desember 2012

Beristirahatlah Kau Mimpi

Merajut mimpi sekaligus bercermin diri kadang menciutkan ekspetasi. Banyak yang bilang mimpi itu ajaib. Ya, memang ajaib. Bagiku, semakin ajaib saat aku tak ingin bangun dan terus saja menyerahkan takdirku pada mimpiku. Menyerahkan, menyerah, pasrah. Mimpi kadang membuat kita terlalu nyaman untuk sekedar beranjak. Bagaimana mau beranjak saat mimpi itu benar-benar indah? Pernah suatu ketika aku terbangun saat mimpi sedang memasuki dunia nyataku. Akupun segera ingin menidurkan diriku untuk bisa kembali kepada mimpi itu. Mataku kupaksa untuk terpejam dan larut supaya mimpi kembali menjemputku ke alam yang penuh dengan imajinya. Tapi sayang, aku tak bisa kembali kesana. Mataku terlanjur terbuka, ragaku telah terjaga, dan hasratku tak pernah menghilang. Hmmm.....Mimpi terkadang justru membunuh kita saat kita tak bisa menerima bahwa dia hanya sekedar bunga di alam sana...

Apa kau tahu? Bunga di alam sana tak akan pernah layu. Tak perlu air untuk membuatnya tetap segar. Dia akan menjaga sendiri hidupnya tanpa kita. Bunga itu akan tetap disana. Akarnya selalu bergerak memecah bebatuan keras yang menghalangi jalannya. Mahkotanya akan selalu berganti sekalipun panas mengeringkannya dan hujan badai merontokkannya. 

Yaa...
Biarlah segala impian, harapan, dan kau tetap disana. Kau akan tetap hidup tanpa ada aku. Kau sendiri yang memelihara hidupmu.

Tahukah kamu? Hidupmu menyalakan setitik pelita bagi orang di dalam gua kehampaan. Orang yang selalu mencari-cari aalsan untuk keluar dari kegelapan. Sekalipun tak ada jalan keluar, kau tetap memberi terang dan harapan.

Aku terjebak di sebuah tempat bernama mimpi dan realita. Aku seakan-akan berada di tengahnya. Kedua saling menarik dari masing-masing kutubnya. Mencoba memberi berbagai alsan supaya aku berkata," Ya!! aku mau di sini!!".

Mimpi memang indah. Aku bermimpi bisa kembali ke sebuah kota yang hening tanpa suara. Hening sampai seekor tupai pun bisa mendengar kata hati yang tersembunyi entah dimana.

Realita terkadang membuatku menyerah pada mimpi. Sebuah suasana dimana aku tak bisa lagi mendengar suara haitku sendiri sekalipun enam miliar manusia di bumi ini moksa.


Kakiku sudah lelah untuk berjalan tanpa arah. Kakiku hanya dua organ dinamis yang menerima perintah dari apa yang kita kenal dengan otak. Aku tak ingin terus melangkah karena perintah otakku. Sekali waktu, aku ingin melangkah dengan hati sekalipun itu akan membuatku masuk ke sebuah onak berduri. 

Mungkin sekarang aku akan memberi kesempatan untuk semua mimpiku beristirahat. Beristirahatlah kau mimpi. Aku tahu kau lelah ku kejar. Sekarang aku berhenti disini. Aku hanya berteduh di bawah sebuah pohon rindang dan mengaliri tengorokanku dengan cairan. Hei mimpi, kini kau bisa sedikit meringankan bebanmu karena tak lagi aku mengejarmu. Aku lelah, kaupun pasti juga lelah, aku tahu.

Hei mimpi, aku tak akan pergi, aku hanya beristirahat sejenak. Mungkin kali ini aku akan memberimu kesempatan untuk menghampiriku sekali waktu, menengokku. Menanyakan kepadaku, apakah aku masih bermimpi tentang mu atau tidak?

Kita lihat saja,

"Hei mimpi...", aku memanggilmu. Aku di sini, hanya beristirahat :)

Senin, 19 November 2012

Akuntansi: Sebuah Displin Ilmu Penuh Manipulasi

Aku dan beberapa teman SMA ku terlibat pembicaraan yang cukup hangat di sebuah warung burjo. Guyuran hujan tak mampu menjinakkan semangat kami untuk beropini dan memaparkan kegundahan kami masing-masing atas disiplin ilmu yang kami ambil pribadi lepas pribadi. Setelah melepas rindu kepada almamater SMA kami di sebuah ajang lomba basket lah kami berkumpul malam itu.

Obrolan berangkat dari kegalaun salah satu teman kami, sebut saja M. Dia bercerita tentang kebingungan yang menghampiri dirinya untuk memilih topik skripsi yang akan dia tulis. M adalah mahasiswa semester 7 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja. Awalanya, aku hanya mendengarkan sambil sedikit-sedikit mencoba memahami persoalan yang ada. Percakapan cukup menarik karena masing-masing di antara kami hampir menuangkan kegelisahannya terhadap disiplin ilmu yang mereka geluti masing-masing. Mulai dari Ilmu Komunikasi, Ekonomi Pembangunan, Hubungan Internasional, sampai Jurnalis Fotografer yang menjadi minat salah satu teman kami. Aku mulai tergelitik dengan bidang ilmuku sendiri, yaitu AKUNTANSI. Ya, akan ada banyak kisah dibalik bidang studiku ini. Kali ini bidang studi ku ini membuat ku gelisah karena ada beberapa hal dari disiplin ilmuku ini yang bertentangan dengan nuraniku.

Memang, pengetahuanku tentang akuntansi dan seluk beluknya masih dibilang dangkal dan baru sebatas kulitnya saja. Akan tetapi, aku tak takut untuk sekedar bertanya karena rasa penasaranku. Oke, kegelisahanku ini aku dapati saat aku mengikuti perkuliahan mata kuliah Cost Accounting atau Akuntansi Biaya. Bukan Cost Accounting yang akan kubahas di sini, tetapi sebuah pengantar tentang akuntansinya.

Dalam akuntansi, seorang akuntan harus mampu membuat dan menyediakan Laporan Keuangan yang dibutuhkan. Nah, dalam pembuatannya ini, terdapat metode yang berbeda-beda tergantung kepada tujuan dan pada siapa laporan untuk akan digunakan.

Pertama, Laporan Keuangan untuk Internal Perusahaan
Tidak ada standar pasti yang digunakan untuk mebuat laporan keuangan bagi internal perusahaan ini. Setiap perusahaan terserah memakai metode dan standar apapun yang dianggap paling sesuai dan mencerminkan keadaan perusahaannya sendiri.

Kedua, Laporan Keuangan untuk Pemerintah
Dalam laporan keuangan untuk pemerintah ini, atau sering digunakan untuk keperluan membayar pajak perusahaan bagi pemerintah, ada suatu standar tertentu yang disebut dengan GAAP.

Ketiga, Laporan Keuangan untuk Investor/ Pemegang Kepentingan
Laporan keuangan yang digunakan bagi pemegang kepentingan ini jga memiliki standar yang berbeda dari yang telah saya uraikan diatas, Biasanya, bagi para investor, laporan keuangan akan dibuat "semenarik" mungkin supaya investor mau menyuntikkan dananya dan berinvestasi disana.

Lalu, apa yang salah? Memang tidak ada yang salah dari ketiga hal di atas, karena semuanya itu memang dibenarkan dalam disiplin ilmu akuntansi. Pembuatan Laporan yang berbeda-beda semacam itu memang hal yang wajar dan tidak melanggar hukum dalam ilmu akuntansi, walaupun akan masih terdapat banyak celah yang memungkinkan terjadinya peneyelewengan seperti dalam kasus ENRON.

Kalau tidak ada yang salah, mengapa saya harus "galau" dengan disiplin ilmu saya?

Menurut saya, akuntansi seperti dua buah mata pisau. Saat ilmu ini berada di tangan yang tepat, akuntansi akan menjadi sangat berguna. Akan tetapi, bila berada di tangan yang salah, justru penyelewengan lah yang akan banyak terjadi dan merugikan orang lain. 

Satu hal lagi yang membuat saya bertanta-tanya, mengapa kita harus melaporkan hal yang sejatinya sama ke dalam bentuk yang berbeda? Sebagai contoh, perusahaan kita laba 10 juta rupiah menurut laporan bagi internal perusahaan. Kemudian, dalam laporan keuangan bagi pemerintah untuk keperluan pajak, laba kita yang tercantum sebesar 8juta rupiah, hal ini rasional karena perusahaan pasti menghindari pajak yang tinggi. Setelah itu, laporan keuangan bagi investor, laba kita tampak 12 juta rupiah, jelas laba dibuat besar supaya perusahaan terlihat memiliki performa yang lebih baik.

Sejauh ini, inilah yang saya tangkap dari apa itu akuntansi. Bahwa pembuatan laporan yang berbeda tergantung tujuannya walaupun sejatinya sama itu bukanlah sesuatu yang salah. Tentu saja akan banyak koreksi mungkin setelah ini karena saya sendiri hanya mahasiswa yang masih berada pada semester 3 dunia perkuliahan. 

Dunia akuntansi memang sangat dekat dengan manipulasi, kita tidak dapat menutup mata akan itu. Akan tetapi, semuanya kembali lagi kepada usernya. Saat usernya memiliki integritas yang baik, maka manipulasi tidak akan terjadi, begitu pula sebaliknya.

Bagi saya, sejauh ini saya memegang prinsip bahwa apa yang sedang saya pelajari sekarang akan menjadi sebatas disiplin ilmu saya, bukan cara pandang apalagi pedoman hidup saya.

Semoga masyarakat kita semakin bijak menyikapi segala celah yang ada. Sebuah celah untuk diperbaiki, bukan jusrtu untuk dimasuki.















Selasa, 25 September 2012

Lampu Kuning di Ruang Tamu

Cinta dan Luka- Club 80's
Pernah kukira ini tentang cinta, oh ternyata hanya sahabat setia
Pernah kau minta bunuh cintaku, kau membisu takkan pernah jawabku

Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjain kisah cinta nyata


Lampu kuning di ruang tamu masih tergantung pada tempatnya. Pancarannya menarik dengan segala daya pikatnya. Sinarnya cukup memberikan terang bagi gelap di sekelilingnya. Indah memang, sebuah cahaya diantara malam. 

Aku anak kecil yang selalu takut saat matahari mulai menyelinap pergi dari cakrawala. Mencari celah untuk sekedar bersembunyi. Malam selalu menakutkan bagiku, bagi anak kecil yang tak akan kuat diterpa angin malam. Selalu kupercepat langkah kecilku untuk memasuki rumahku, berharap mendapat seribu satu perlindungan dari ganasnya malam. Aku takut gelap dan aku butuh terang.

Lampu kuning tergantung di atas kepalaku. Aku anak kecil. Ingin aku meraih lampu itu dengan sejuta sinarnya. Tak akan aku lepas saat aku bisa membawanya masuk ke dalam kamarku untuk menemaniku dari gelapnya malam. Sebuah terang yang pasti akan menjadi pelindungku saat gelap datang. Seperti orang gila aku melompat-lompat di bawahnya. Tanganku bergerak seperti ingin meraih bintang dalam pekat malam. Aku mencoba menggapai lampu itu. Aku lelah, tapi aku tak menyerah. Setiap malam datang, sekitar dua jam waktuku kuhabiskan di bawah temaram lampu ruang tamuku. Kakiku sering linu karena aku selalu berlompatan. Keringatku selalu deras membasahi kening dan pipiku.

Kuambil kursi untuk membantuku meraih lampu itu. Aku berlompatan di atas kursi kayu. Tiga kali aku melompat dan aku terpelanting jatuh ke lantai. Badanku bersatu dengan dinginnya lantai pada malam itu. Sejenak aku tersadar, aku makin dihantui oleh gelap malam. Lampu itu harapanku untuk bisa bertahan. Aku harus bisa mendapatkannya. Harapanku satu-satunya.

Belum selesai aku berdiskusi dengan asaku. Aku tersadar, harapan yang selama ini membuatku sakit, lelah, bahkan terjatuh dari kursi hanya untuk mengusir rasa takutku. Harapan yang justru menenggelamkan aku, bukan membangkitkan aku. 

Aku ambil kursiku, aku kembalikan di tempatnya, di sebuah sudut ruang tamuku dengan gelap yang teramat sangat. Entah apa yang merasukiku,aku anak kecil yang takut gelap, berani melangkah tanpa cahaya di sekitarku. Aku menerobos malam tanpa rasa takut sedikitpun.

Aku mati rasa. Aku tak peduli dengan harapan.

Harapan yang selama ini kudambalan justru membuatku semakin tak bisa merasakan indahnya sebuah impian. Harapan yang selama ini membuatku melompat tak kenal lelah, membuat kakiku linu, bahkan membuat aku jatuh dari kursiku.

.............................................................................................................................................


Aku adalah orang yang sudah tak bisa percaya dengan harapan. Atau mungkin sedang tak bisa percaya dengan harapan. Harapan selama ini membawa aku pada kekecewaan. aku adalah orang yang mati rasa, atau sedang mati rasa. Alasannya klise, CINTA

Cinta, aku sedang tak bisa merasakannya, atau sedang tak mau berurusan dengannya. Aku memang sedang jatuh cinta atau aku baru saja jatuh cinta. Ya, sudah lama rasanya aku tak merasakan hal seperti ini. Rasa dimana aku ingin segera bertemu lagi saat baru saja aku keluar dari pintu gerbang sebuah rumah. Rasa dimana aku aku sama sekali tak peeduli dengan topik pembicaraan dua insan manusia. Saat aku hanya merasa senang ketika bisa menghabiskan waktu bersama. Itu semua lampu kuning di ruang tamuku.

Aku terjatuh dari kursiku. Harapan yang tergantung di ruang tamuku tak akan pernah aku dapatkan. Setinggi apapun aku melompat, sekeras apapun aku mencoba. Itu tak akan mengubah apapun. 

Memang, rasa antipati terhadap apa yang disebut cinta sekarang sedang muncul di hidupku. Terlalu sering jatuh mungkin yang membuatku menjadi seperti ini. Ini bukan kemarahan, ini hanya ketidakmampuanku memahami dinamika kehidupan.

Aku sedang berada pada titik dimana aku tak ingin atau sedang tak ingin percaya dengan harapan terutama cinta. Semoga ini bisa membuatnya bahagia.



Selasa, 18 September 2012

Cinta Dalam Tempurung

Kali ini aku pengen sedikit cerita tentang cinta.

Tunggu dulu, ekspetasi kalian pasti udah kemana-mana kan? Tenang, kali ini gak ada sesi galau-galauannya kok. Cinta yang pengen aku ceritain di sini bukan cinta pada lawan jenis, ataupun sesama jenis hehehe Oke, aku pengen cerita tentang cinta kita terhadap sesuatu. Bisa cinta kepada hewan peliharaan, hobi, minat, passion, atau apapun itu.

Jadi gini, kenapa aku pengen cerita tentang cinta yang satu ini? Beberapa hari yang lalu, aku sempet ngobrol dikit sama temenku. Obrolanku cukup singkat, tapi padat dan menarik. Aku kenal temenku ini sekitar enam bulanan yang lalu, bahkan aku ketemu dia baru tiga kali mungkin. Dua kali di kantin kampus, sekali di pensi SMA ku dulu. Obrolan kami cuma semalem. Aku cukup tertarik dengan topik kami malem itu. Kami ngobrol tentang kecintaan temenku itu terhadap sesuatu. Rasanya aku udah bisa nangkep overview ceritanya walaupun kami cuma ngobrol via short message service a.k.a. sms.

Temenku yang satu ini sebenernya minat banget sama yang namanya bisnis dan psikologi. Dulu sebelum dia kuliah di jurusannya yang sekarang, dia pengen banget masuk di jurusan bisnis atau psikologi itu. Sebenernya sebelum ketrima di universitasnya yang sekarang, dia udah ketrima di dua universitas dengan jurusan yang dia pengen. Terus apa masalahnya? Nah, sayangnya dia kurang didukung dan justru disaranin untuk coba snmptn dan ngambil jurusan yang sekarang dia tempuh. Selama ini dia ternyata kurang suka dan kurang ada minat untuk belajar sastra prancis di universitasnya. Kalo aku boleh bikin analogi sih ya, mungkin kayak gini analoginya. Temenku itu jatuh cinta banget sama yang namanya bisnis dan psikologi tapi dia terlanjur menikah dengan sastra prancis. Nangkep gak sama analogi ini? Bisa bayangin kan kalian? Kalian nikah sama sesuatu yang gak kalian cintai sama sekali, dan kalian harus hidup dengan hal itu. Hidup sama sesuatu yang gak pernah kalian bayangin bakal jadi temen hidup kalian. Rasanya pasti tersiksa banget dan gak ada nikmat-nikmatnya kan?

Solusinya? Ada dua solusi, I told her,"kamu harus belajar mencintai sesuatu yang gak kamu cintai sama sekali" atau "kamu berani berjuang demi sesuatu yang kamu cintai itu". Emang, ngomong itu gampang, tapi aku juga tahu kalo hal ini emang gak mudah dan sangat sulit buat diwujud nyatakan. Aku berharap dia mau nglakuin yang kedua sih, kenapa? Berdasarkan pengalamanku, "do something that i love is better than love something that i do". Selama ini sih aku selalu nyaman melakukan apa yang aku cintai ketimbang aku harus mencintai apa yang aku lakukan. Mungkin ini terdengar egois, tapi ya inilah prinsipku. Selama aku gak ngrepotin dan nyakitin orang lain, rasanya fine fine aja. Temenku ini juga bilang. "everyone deserves to get everything that can make them happy as long as it doesn't bother or hurt someone else". Bener juga kan kata temenku? Kita berhak kok atas kebahagiaan kita, termasuk cinta kita mungkin. Tentu saja cinta dalam bentuk apapun.

Nah, apa hubungannya sama cinta cinta tadi? Temenku bilang, kenapa hal ini bisa sampai terjadi, katanya karena dulu dia belum cukup berani untuk berjuang buat apa yang dia pengen ataupun yang dia cintai, yaitu bisnis dan psikologi. Dampaknya, dia sekarang harus hidup dengan sesuatu yang sama sekali gak dia cintai. 

Cinta, apapun bentuknya, gak akan datang sendiri tanpa kita mau berjuang untuk mewujudkannya. Kalo kita suka sama sesuatu, cinta sama sesuatu, do something to get it. Never ever give up to make your dreams come true. Emang kadang butuh keberanian untuk bisa melakukan yang seharusnya kita lakukan demi cinta itu. Ada yang bilang kan kalo cinta itu butuh pengorbanan?hehe Mungkin ini ada benernya juga kali ya...

Jangan pernah nyerah untuk menggapai mimpi dan cintamu...
Sekecil apapun itu.
sesimpel apapun itu, bila itu emang berarti buat kamu, perjuangakanlah! :D

"Everyone deserves to get everything that can make them happy as long as it doesn't bother and hurt someone elese"- seorang teman




Minggu, 19 Agustus 2012

Pecah

Ratusan hari telah kuhabiskan tanpa kehadiranmu. Akupun belajar untuk terbiasa dengan itu. Terbiasa menghadapi dunia baruku yang tanpa kamu, lagi. Memang berat dan tak mudah. Semua terasa berbeda, untukku. Untukmu? Kurasa kau tak rasakan perubahan berarti dalam hidupmu setelah kita tak bersama lagi. Ya memang, tak akan ada perubahan berarti dalam hidupmu setelah kau mengusirku pergi dari hidupmu malam itu. Malam itu tak pernah sekalipun kuinginkan, terbersit dipikiranku pun tak pernah. Bodohku malam itu, kenapa aku hanya diam dan tak coba melawan? Ah siapa bilang, aku sudah melawan tapi kau malas mendegar. Tak ada guna kan? Ya, berbusa mulut ini tak akan menyurutkan niatmu untuk pergi dan mendepakku dari hidupmu. Kau pun juga tak peduli aku datang di tengah malam yang dingin. Kau pasti juga sama sekali tak peduli aku datang dengan sepasang sandal jepit di kakiku. Dingin, asal kau tahu. Sekarang? Dingin, kau pasti sudah tahu.

Kisah itu telah lama berlalu. Malam itu, mungkin aku sudah lupa setiap detailnya. Saat aku datang. Saat kau tak mau keluar, kemudian tetap keluar. Saat kita duduk bersama. Aku di kiri, kau di kanan. Saat air mata keluar dan bumi yang dingin terbasahi. Ah, aku lupa kejadiannya. Hanya saja, aku tak pernah lupa rasanya.

Aku lupa kejadiannya. Hanya saja, aku tak pernah lupa rasanya.

Malam ini otakku melawan saat kularang kembali kepadamu. Kembali mengingatmu, kembali kepada wanita yang pernah selalu menuntut otak ini bekerja untuk memikirkannya. Yah, tak apalah asalkan hanya otakku saja yang bekerja malam ini untuk sekedar mengingat kejadian di masa lampau. Otakku memang sudah tak sesegar dulu. Dia sering mengalami disfungsi karena terlalu sering bekerja. Otakku sering melupakan kejadian di masa lampau dan tak sanggup lagi mengingatnya. 

Tunggu dulu!! Bagian tubuhku yang lain meronta dan tak terima. Hatiku meracau dan gelisah saat otakku bekerja mengingatmu. Hatiku memang tak pernah ingat kejadian di masa lampau, tapi dia tak akan pernah lupa rasanya.

Aku tahu hatiku bekerja ekstra keras untuk menentang otakku. Akhir-akhir ini otak dan hatiku memang sering bertengkar. Otakku bekerja, hatiku menolak. Otakku ingin kembali, hatiku ingin berlari. Terkadang juga justru hatiku yang ingin kembali, dan lagi, otakku bergantian menolaknya dan mengirim perintah untuk melangkah maju, bukan mundur.

Tubuhku serasa ingin pecah dan menghambur ke segala arah saat dua organ ini beradu. Tak ada yang ingin mengalah, semuanya maracau dan bertingkah. Indah, tapi juga membuat resah.

Sudahlah, hentikan saja. Berhenti berdetak mungkin akan selesai.


Selasa, 14 Agustus 2012

Pergi Untuk, Bukan Pergi Dari

Pergi terkadang bukan hanya meninggalkan. Pergi juga untuk menuju sebuah tujuan. Bukan hanya pergi dari, tapi juga pergi untuk. Terkadang aku ingin pergi untuk sesuatu. Akan tetapi, semakin hari semakin aku menyadari bahwa selama ini yang aku lakukan hanyalah pergi dari. Pergi dari sesuatu yang tak kuingini. Mencoba menghindar dari segala sesuatu yang ingin kuhindari. Melangkah demi melupakan sesuatu yang pernah disinggahi. Segala aktifitas yang merujuk pada hal yang ingin ditinggalkan. Pergi dari sesuatu di belakang, bukan pergi untuk sesuatu yang di depan.

Semakin aku pacu langkah untuk pergi dari, semakin berat pula langkahku mencoba pergi. Seakan semuanya bersatu dan bersorak dalam keheningan yang tiada habisnya. Menghina dan mencekal segala daya upaya untuk pergi dari. Langkah semakin berat karena tanpa sadar semuanya justru terjebak pada sebuah titik di masa lalu yang ingin kutinggalkan. Selama ini nurani terperangkap untuk pergi menjauh tanpa tujuan. Hanya pergi dan menjauh tanpa arah. Tak ada kepastian yang ingin dituju. Semua nya semata-mata hanya karena ingin pergi, menjauh, hilang, dan semoga tak akan pernah kembali. Pernahkah kalian rasakan itu? Rasa dimana kita lelah untuk menghindar? Rasa dimana kita letih untuk berlari? Rasa saat kita ingin bersandar pada sebuah tujuan yang pasti?Sebuah tujuan, bukan menghindar. Bukan pergi dari, aku ingin pergi untuk sebuah tujuan yang pasti.

Kuikat tali sepatuku erat. Kukencangkan ikat pinggangku. Kurapatkan tas ransel yang melekat di punggungku dengan segala macam perbekalannya. Sekarang, aku ingin pergi untuk sebuah tujuan, bukan lagi pergi dari sesuatu di belakang. Aku ingin berlari melesat menembus segala macam udara bersama partikelnya. Menerobos semak beserta seluruh rasa perih dari onaknya. Aku tak akan takut basah karena dinginnya hujan. Aku tak akan takut gersang karena matari terlalu terik bersinar. Aku ingin semua terpusat menjadi mesin jetku, menjadi cambukku yang akan terus membuatku berlari menuju sebuah tujuan. Membuatku pergi karena aku tahu ada yang aku tuju. Aku tak ingin lagi pergi dari sesuatu yang telah menyakitiku karena itu hanya akan menambah setiap percikan darah keluar dari mata dan semua pori-pori di permukaan kulitku. Pergi untuk sebuah tujuan akan membuatku sejuk di tengah gurun dan membuatku hangat di tengah badai salju.

Sekarang, biarlah aku berlari menuju sebuah oase yang ada di padang gurun. Berlari berharap langkah ini menemukan angin yang tak akan pernah lelah menyejukkan jiwa dan ragaku.

Mulai detik ini, aku akan pergi..

Pergi Untuk...

bukan lagi

Pergi dari...


Minggu, 29 Juli 2012

Impian Seekor Semut

Seekor semut berjalan perlahan mencari sebuah toples berisikan gula di dapur rumah. Antena nya menuntun langkah kecilnya sedikit demi sedikit. Tujuannya jelas. Sebuah toples berisi gula. Seekor semut laki-laki berjalan sendiri, berharap bertemu toples impiannya. Jalannya mantap, tak ada langkah yang diulang darinya. Langkah demi langkah, kecil, tak bersuara. Antena di kepalanya terus mengirim sinyal kepadanya tentang keberadaan toples impiannya. Sebuah toples yang berisi sebuah impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya. Saat berangkat dari lubangnya, Toki, semut hitam kecil ini sengaja tidak berpamitan kepada siapapun. Saat bertemu temannya, dia hanya mengatakan,"aku mau cari angin dulu bro, refreshing..hehehe". Jawaban begitu saja terlontar dari bibir kecilnya. Sebuah bibir yang selalu melemparkan senyum kepada siapapun yang ditemuinya.

Hari ini, Toki mencoba meraih impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya. Sebuah toples yang akan memberikan harapan hidup lebih panjang bagi sesamanya. Tak ada yang tahu tentang ini, hanya Toki dan Tuhan saja yang tahu, jika dia memang ber-tuhan. Toki sengaja merahasiakan hal ini. Tak ada yang tahu kemana dia akan pergi, tak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan. Semua bahasa seolah berkonspirasi untuk menyembunyikan misi agung ini. Semesta mendukung Toki untuk tetap diam dalam keheningan.

Toki berjalan riang dengan mata berbinar berisi impian besar. Langkahnya seperti derap langkah para pahlawan revolusi Prancis, berharap sebuah perubahan bagi bangsanya. Antenanya selalu siaga menangkap sinyal-sinyal keberadann toples penuh gula.

Setengah perjalanan telah dia lalui. "Tokiiiiiiiiiii.....", terdengar suara lengkingan seekor semut betina. Terlihat dari kejauhan, Toki memicingkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Tenyata benar, Nevi, seekor semut betina yang telah lama dikagumi oleh Toki. Nevi sedang berkumpul bersama teman-temannya saat Toki tak sengaja lewat di dekat mereka. "Mau kemana tok?pagi banget kok udah keluar lubang?", suara Nevi terdengar lembut mengetuk telinga dan hati Toki. Ya, Toki memang telah lama memendam rasa kepada Nevi, tapi sepertinya Nevi tak pernah tahu tentang perasaan Toki. Selama ini memang Toki tak pernah bicara tentang perasaanya pada Nevi. Toki hanya seekor semut pekerja biasa, setiap hari dia dan semut pekerja lainnya bekerja membuat lubang untuk bangsanya. Hal ini yang membuat Toki untuk selalu menahan perasaaannya kepada Nevi dan mati dalam kebisuannya. "Oh, mau cari angin Nev, jalan-jalan, bosen bikin lubang terus.. hahaha", jawaban Toki selalu diselingi dengan tawa. Toki selalu berusaha mematikan rasa sakitnya dengan tawanya, walaupun hal itu sudah seribu kali terbukti tidak mempan. "Ah Nev, mulut ini tak akan pernah bisa menyampaikan rasa, andai dulu aku bisa", sebuah penyesalan dalam hati yang selalu hadir menghampiri Toki bila ia bertemu atau memikirkan Nevi.

Toki berlalu meninggalkan Nevi, meninggalkan rasa yang tak akan pernah terungkapkan di belakang. Toki selalu ingin menoleh melihat wajah gadis impiannya, namun dia tak pernah mampu melakukannya.

Fokus Toki kembali teralihkan saat antenanya dengan sangat jelas mengangkap sinyal keberadaan toples impiannya, impian keluarganya, impian bangsanya, mungkin juga impian Nevi. Semakin Toki berjalan dengan mantap,"Impianku di depan mata, aku ingin bangsaku tetap hidup dan tak kelaparan, aku harus bisa mendapatkannya".

Dapur Rumah Tuan Alka adalah gua harta karun Toki. Toki menyelinap masuk dari sebuah lubang di belakang kulkas di dapur itu. Antenanya mengarah ke sebuah rak di seberang kulkas. Toki semakin bersemangat. Dengan segera, semut kecil itu berjalan menyeberangi sebuah spasi antara kulkas dan rak tempat toples impiannya berada. Terbayang kebahagiaan orang tuanya saat dia pulang dengan kabar gembira, gambaran adik kecilnya, Tiki juga hadir di pikirannya, bangsanya bisa hidup dan tak kelaparan lagi. Tiba-tiba lamuanannya pecah saat Nevi juga hadir dalam imajinasinya. Nevi, rasa yang tak tersampaikan datang lagi. Toki segera mengusirnya, bayangan akan kebahagiaan bangsanya tetap menjadi impian terbesarnya. "Aku akan pulang dengan kabar gembira teman-teman", Toki tersenyum melihat toples impian di depannya. Buru-buru dia ambil langkah seribu untuk menghampiri impianya. "krreeeekkkk", seorang anak kecil setengah berlari menuju meja makan untuk mengambil kue brownies kesukaannya. Toki hilang dari jalan impiannya. Toki, dia menempel di bawah sepatu sang anak yang tak sengaja mengambil nyawanya dengan imutnya. Tubunya hancur, impiannya mati, dan tak ada siapapun yang tahu kemana dia pergi hari ini.

Senin, 16 Juli 2012

Segelas Air Putih

Segelas air putih tetap diam di depanku. Diam. Tak bergerak. Tak bersuara. Tak berwarna. Tenang. Bening. Makananku baru saja kuhabiskan, tapi tanganku serasa tak ingin bergerak saat otakku mengirim sinyal untuk mengambil gelas itu dan segera meminum isinya. Mataku lebih kuat untuk memberiku perintah agar aku mengamatinya, memandang, dan diam. Lihat gelas itu, diam, tak bergerak, tak bersuara. Air di dalamnya, diam, tak bergerak, tak bersuara. Malam itu ada kamu di depanku, tapi sepertinya aku lebih tertarik kepada gelas ini dan isinya. Matamu mulai resah karena tak lagi kuperhatikan. Kulihat kau mulai mengubah posisi dudukmu, tetapi semakin lama kuperhatikan gelas itu, semakin sering kau bergerak, mencoba mencari posisi yang paling pas untukmu, ataukah kau ingin aku memperhatikanmu karena tingkahmu?

Banyak kendaraan melewati tempat kita, bergantian meramaikan suasana di sekitar kita. Aku tak terusik oleh suara kendaraan yang mencoba memecah malam. Aku masih tak bergerak, begitupun air di dalam gelas itu. Kamu? Kamu selalu bergerak dan tak bisa diam. Kadang menoleh ke kanan, kadang ke kiri, entah apa saja yang kau lakukan, aku hanya bisa melihat dari ekor mataku. Tenggorakanku mulai berontak ingin dialiri sebuah cairan. Aku sadar ini menyiksaku, aku hanya memandang gelas yang berisi air putih, bening, tak berwarna. Kembali aku tersadar, ada kamu yang masih duduk di depanku. Kau marah padaku, kau minta pulang malam itu. Entah apa yang merasukiku,"ya, silahkan pulang kalau itu maumu, aku masih mau di sini bersama segelas air putih ini". Kau pun pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun padaku. Malam ini aku tak terkejut saat kau pergi. Kau pergi, dan tak pernah kembali sampai saat ini sejak malam itu. Ah, biarlah.

Hei gelas, apa kabarmu? Masih ada air di dalammu kan? Setidaknya, kau masih menjadi temanku malam ini. Sayang, kau tak dapat kuajak bicara. Kau diam, jernih, tanpa warna dan suara. Aku berada di teras sebuah rumah makan di pinggiran jalan bersama sebuah gelas dan isinya. 

Aku masih tak bergerak, masih diam saat tenggorokanku sudah tersiksa. Ah gelas, apa iya aku harus meminummu? Harus mengosongkanmu dan mulai mengisi tenggoranku? Rasanya, masih tak ingin aku mengosongkanmu dan mengisi tenggoranku. Aku masih ingin diam di sini. Gelas, kau bening jernih, begitupun dengan apa yang ada di dalammu, bening, bersih. Selama ini aku sadar, mungkin seperti ini rasaku padamu. Diam tak bergerak, jernih, tak bersuara. Maaf kau harus pulang dan pergi karena segelas air putih ini..

Ah, aku haus....



Kamis, 12 Juli 2012

Untuk Kalian Berdua

Semalem, hasil begadangku membuahkan sebuah hasil selain berhasil membuatku bangun jam 13.30 hahaha Semalem pas aku mau tidur, aku gak sengaja kesangkut sama film di RC*I, judulnya "The Savages". Singkatnya nih, tuh film nyritain tentang seorang kakak beradik yang punya seorang ayah. Ayahnya itu udah tua banget, udah masuk usia jompo gitulah. Jadi ceritanya, waktu si istri ayahnya ini meninggal, ayahnya ini di usir secara halus sama keluarga pihak istrinya, nah bingung deh itu si kakak beradik. Pokoknya di cerita itu, kakak beradik ini ngrasa galau berat waktu mau ngurus ayahya. Mereka berdua sama-sama punya kesibukan masing-masing. Bisa bayangin kan gimana rasanya pas tiba-tiba harus ngrawat ayahnya yang udah jompo dan gak bisa apa-apa.

Pas nonton film itu, aku sempet kepikiran. Gimana ya besok kalo aku dan adekku udah kerja, udah punya keluarga sendiri gitu terus orang tuaku udah tua, harus dibantu orang lain untuk melakukan kegiatannya.

Orang tua kita yang ngelahirin kita, nggedein kita, nyekolahin kita sampai sekarang dengan penuh kasih sayang dan tanpa pamrih. Sekarang gimana kondisinya kalo dibalik? Suatu hari nanti, kita yang notabene adalah buah cinta dari kedua orang tua kita dihadapkan pada masalah yang sama yang dialami oleh Savage bersaudara ini. Apakah kita akan menitipkan orangtua kita di panti jompo? Ataukah kita akan merawat mereka? Merawat mereka seperti mereka yang setia merawat kita.

Entah apa yang bisa aku lakukan untuk orangtuaku besok. Di saat mereka membutuhkanku, apakah aku akan benar-benar ada di samping mereka untuk menemani hari tua mereka? Ataukah aku akan menjadi anak yang tidak mau tahu dan menitipkan orangtua ku di panti jompo? Aku harap aku tidak menjadi yang kedua.

Aku tidak bisa menjajikan apa-apa untuk kedua orangtuaku, ayah dan ibuku. Siapa tahu besok pagi, lusa, atau sebulan kemudian aku harus pergi dari dunia ini? Aku akan sangat menyesal saat aku pergi tanpa bisa memberikan sesuatu yang berharga bagi mereka. Mereka yang tak kenal lelah untuk menghidupi aku, mereka yang selalu ada saat aku jatuh, mereka yang mengajariku berjalan diatas bumi ini, mereka yang mengenalkan aku pada seribu kata yang ada di dunia ini. Mereka yang mencintaiku saat aku selalu membantah segala nasihatnya.

Ayah, ibu, aku tahu aku sangat berdosa kepada kalian.
Bila aku pergi lebih awal nanti
Jangan ada air mata yang keluar dari mata kalian
Sudah cukup semua air mata kalian bagiku
Aku ingin kalian tersenyum melihat anakmu ini
Jangan lagi kau teteskan airmata lagi
Aku tak ingin melihat kalian menagisi anak durhaka ini


Aku sayang kalian Ayah, Ibu...
Maafkan bila aku belum pernah membahagiakan kalian...

Aku sayang kalian....

Senin, 09 Juli 2012

T.U.H.A.N.(?)

Aku hanya manusia biasa, setuju?
Manusia biasa yang pasti punya kelemahan.

Aku hidup di sebuah negara yang katanya sih punya tingkat toleransi yang tinggi dalam hal beragama. Di negaraku, sepertinya beragama bukanlah menjadi hak bagi warga negaranya, di negaraku, beragama lebih menjadi kewajiban bagi para warga negranya. Singkatnya, kalo kalian gak beragama, kalian gak bisa jadi warga negara ini, karena pas kalian mau bikin KTP, kalian harus ngisi  kolom "agama". Jadi, agama bukan lagi menjadi hak, tapi menjadi sebuah kewajiban. Agama, menurut pemahanku, agama itu cuma alat deh. Alat atau sarana untuk mengaktualisasi iman kita, katanya sih, tapi sampai sekarang aku juga belum bisa tahu banget tentang agama dan iman. Aku orangnya emang gak mau ambil pusing sama hal beginian. Aku bukan tipe orang yang sensitif dan fanatik buat hal yang beginian. Kayaknya, kepribadianku yang kayak gini, yang sedikit apatis sama yang beginian ini, sempet bikin aku stres berat.

Semalem, aku, nandi, beny, jati, cacing, vico, naik ke kaliurang. Pemuda-pemuda yang kurang kerjaan banget kan? Jam 9 malem, kita mulai jalan dari jogja, naik ke kaliurang cuma buat nongkrong di pocinan!! Tahu kan kalian kaliurang itu apa? Lereng Merapi, dinginnya gak ketulungan, tapi tetep aja kita naik dan gak peduli sama suhu yang bakal nusuk tulang di atas ntar. Awalnya, di perjalanan sampai beberapa saat nongkrong di pocinan, aku fine-fine aja. Cengar-cengir gak jelas, ketawa-ketiwi bareng temen-temenku. Tapi gak tahu kenapa, tiba-tiba tadi malem aku jadi diem banget. Aku cuma duduk, ngadep ke Gunung Merapi sambil kadang-kadang nengok ke belakang buat liat lampu-lampu kota jogja. Tapi di situ aku ngrasa kayak ditinggal sama sesuatu. Aku ngrasa sendirian. Bukan gara-gara manusia, ini lebih parah, aku ngrasa ditinggal sama yang punya ni dunia. Aku ngrasa ditinggal sama Tuhan. Parah banget kan? Sebelumnya aku minta maaf ya Tuhan. (Tuhan, setelah ini akan aku ganti jadi "bro" biar penyebutan dan penulisannya lebih gampang, kata orang Tuhan itu juga temen kita kan?).

Bisa dibilang sekarang aku lagi bener-bener berada di titik nadirku. Aku bisa bilang kalo diriku sendiri ini, seorang kopi ini, meragukan eksistensMu bro. Sorry banget sebelumnya, aku gak pernah ada niat buat kayak gini, aku cuma mau nyampein apa yang aku alamin, dan Kamu pasti tahu kan yang aku alamin, karena Kau kan Tuhan. Banyak orang yang bilang, Kau maha segalanya, gak usah aku sebutin satu persatu karena kalian pasti juga udah tahu. Kenapa aku bisa sampe titik ini? Entah ini kekecewaanku, aku yang masih kayak anak kecil, atau aku terlalu dalem mikirnya, aku juga gak tahu.  Kau kan Tuhan bro, yang ciptain segala macem isi dunia ini dan temen-temenya. Kata orang, Kau juga yang merencanakan segala macam sesuatu buat setiap ciptaanMu, termasuk juga aku mungkin? 

Terus pertanyaan besarku, kenapa Kau tega bikin hidup salah satu ciptaanMu ini sampai sebegini stresnya. Kenapa Kau, yang notabene Tuhan, kayaknya diem aja gak ngapa-ngapain? Mungkin jawaban klisenya gini, biar aku bisa belajar dan terus berharap dala ketidakmampuanku, tapi mau sampai kapan Bro? Tolongin kek, aku udah gak kuat sama masalah yang kayak gini terus Bro. Kau kan Tuhan, tahu dong dimana batas toleransi kemampuanku? Aku ngrasa udah gak mampu, kenapa masih Kau hajar terus pake masalah beginian? Kamu ngapain aja Bro? Aku capek ni lho, aku pengen masalah ini ilang. Apa Kamu bakal jawab, " Aku memberi apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan". Iya, aku juga tahu, tapi kakyanya aku gak butuh masalah yang ini. Where are  You Brader?


godisnowhere

Sorry banget, kalo suruh baca kata diatas, kayaknya sekarang aku bacanya

god is no where

Mungkin kalian yang lagi "beruntung" bisa deket banget sama si Mas Bro ini, kalian bakal bacanya

god is now here

Sekali lagi, sorry bnaget, aku cuma bingung Bro. Ada yang bilang kalo Tuhan itu, katanya cuma bentuk pelarian dari ketidakmampuan manusia. Jadi kalo manusia udah ngrasa gak bisa apa-apa, mereka lari ke Kamu Bro. Kayak yang aku lakuin sekarang, aku ngrasa gak bisa apa-apa, aku ngrasa lemah banget, makanya aku lari ke Kamu bro. Toh kamu juga pernah bilang kan? "Datanglah padaKu kalian yang letih, lesu, dan berbeban berat". Nah lo, Kamu sendiri lho yang bilang kayak gittu. Ya, aku minta maaf kalo kesannya Kamu jadi kayak tempat samapah, menampung jutaan mungkin triliyunan keluhan manusia, termasuk aku. Maaf banget ya Tuhan? Tapi kayak yang aku bilang tadi, aku lagi kritis nih.

Jujur, aku kayaknya bukan generasi yang cukup percaya tanpa harus melihat. Aku kayaknya emang harus melihat supaya aku percaya. Emang, aku orangnya kayak gini, kan Kamu juga kan yang nyiptain aku?

Sorry banget ya Bro, aku masih percaya kok sama Kamu, tapi aku lagi gak bisa melihat karyaMu di hidupku. Aku cuma manusia yang Kau beri kemampuan untuk bertanya, dan sekarang aku hanya bertanya akan eksistensMu, apa itu salah? Oh iya, aku bukan atheis lho, aku masih theis kok, percaya akan adanya Tuhan, aku hanya sedang galau ketuhanan, mungkin.

Postingan buat Tuhan

Kan Kamu Tuhan, bisa internetan juga kan pasti?



Rabu, 04 Juli 2012

Tujuan Hidup, sekedar opini...

Hmmmm....
Boleh lah iseng-iseng nulis buat ngusir kebosanan....

Hari-hari gak produktif dateng lagi ni bro. Sebagai mahasiswa, harusnya aku seneng kalo liburan gini udah dateng. Tapi kali ini beda bro. Liburan dateng, gak ada kerjaan, bangun tidur siang banget, malem klayapan gak jelas bareng temen-temen. Gak produktif banget deh pokoknya. Beda ya sama euforia lagu "libur tlah tiba" nya tasya. Seneng banget gitu kayaknya kalo liburan dateng. Ini kebalik bro, emang sih awalnya seneng, tapi lama kelamaan bosen juga nih gak ada kerjaan. Biasanya ni ya, kalo pas hari-hari ngampus, keseharianku layaknya mahasiswa pada umumnya. Pagi-pagi kuliah, rajin bro, walau ntar di kelas juga cuma tidur waktu ndengerin dosen curhat. Habis itu, langsung ada panggilan rapat ini, rapat itu. Riweuh deh pokoknya kalo kuliah, gak kayak sekarang. Nganggur, "ketap-ketip" di rumah, mantengin TL twitter yang gak jalan-jalan, iseng-iseng cari gebetan yang gak dapet-dapet juga. Bosenlah pokoknya.

Tiap di kampus ni, berasa kura-kura. Kuliah rapat-kuliah rapat. Emang negara berkembang ni kampusku, adanya rapat mulu, kayak Indonesia, rapat mulu anggota dewannya hahaha Tapi gak papalah, paling gak ada kerjaan, bisa ketemu si itu si ini, sukur ketemu yang bening-bening haha Tapi ya itu tadi, ada interaksi, ada kerjaan. Emang sih kadang aku sering ngeluh karena kerjaan yang buanyak banget itu. Kuliah di tempatku, gak berasa kuliah bro. Aku kuliah di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, tapi yang ada, di sana malah berasa kuliah di Fakultas Event Organizer. Kerjaannya ngevent mulu. Tapi seru, banyak kenalan, ada kesibukan, paling nggak mengurangi resiko terserang galau dadakan #eeeeaaaaa

Sebenernya aku juga bingung, ngapain aku nulis hal beginian di blogku. Ya itu tadi, dampak dari nganggurku ini. Blog ini udah kayak temenku yang demen banget nemenin aku. Pas galau lah, pas seneng, pas sedih. Bener-bener udah kayak temen sendirilah. Tapi bedanya, kalo aku curhat gak jelas di sini, dia gak bakal protes :p Blog ini bener-bener pengertianlah pokoknya. Mau aku nyampah gak jelas, cerita ini itu, dia gak pernah protes bro. Sayang sekali kamu blog, coba kamu bisa protes, bisa ngambeg kali ya kamu karena keseringan dapet sampah dari aku.

Hari-hari makin gak jelas. Kayak idupku aja nih yang makin gak jelas. Sampai sekarang bisa dibilang aku masih hidup tanpa orientasi dan tujan. Jujur ni ya, sampai sekarang aku masih gak tahu besok mau jadi apa? Sampai sekarang, aku masih bingung.

Apa itu tujuan hidup? Apa tujuan hidupmu?

Kenapa aku bisa ngomong gini? Ini berawal pas liburan semester kemaren, aku nongkrong di burjo tingkat daerah kocoran, namanya "Sami Asih". Aku nongkrong di sana sama temenku yang lagi pulang dari perantauan di ibukota. Biasalah, kita ngobrol ngalor ngidul gak jelas. Sok sok mikir kritis tentang hidup tapi seringnya malah kebablasan. Tapi ada yang menarik waktu aku ngobrol sama temenku itu. Obrolan kita sempet berhnti di suatu topik, yaitu

Tujuan Hidup


Tujuan hidup itu senernya udah ditentuin sama si pembuat idup, atau kita sendiri yang nentuin. 

Kalo nih misalanya udah ditentuin sama si pembuat idup. Gimana kita bisa tahu kalo itu tujuan idup kita? Contohnya ni, semisal aku punya tujuan idup, simpel deh, aku pengen jadi orang sukses, indikatornya, aku jadi dokter spesialis penyakit dalam,misalnya. Itu tujuan idup yang aku tentuin. Terus gimana dong sama tujuan hidup yang di tentuin sama si pembuat idup tadi? Tujuan hidupku pengen jadi dokter, tapi yang di atas, udah nentuin kalo tujuan hidupku ini bukan jadi dokter, tapi jadi pilot.Trus gimana dong kalo kayak gitu? Itu yang bikin aku sama temenku bingung dan ngobrol ngalor ngidul nyari-nyari jawaban dari misteri hidup tadi..

Terus, ni ada pemikiran yang muncul. Gimana kalo ternyata, manusia itu emang gak akan pernah tahu tentang tujuan hidupnya? Menurut pemahamanku, tujuan hidu itu bukan buat diri kita sendiri. Kita hidup di dunia ini bukan buat diri kita. Kita hidup di dunia ini untuk orang lain. Tujuan hidup, bukan sebuah pencapaian yang pengen kita capai di suatu hari kelak. Buatku, tujuan hidup lebih dari itu. Lebih dari jadi dokter, lebih dari jadi pilot, lebih dari jadi apapun. 

Menurut pemahamanku, jelas, kita hidup di dunia ini bukan buat diri kita sendiri. Tapi buat orang lain, orang-orang di sekitar kita. Jadi orang sukses, jadi pilot, jadi dokter, dan jadi apapun itu, itu hanya sebagai alat untuk mewujudkan tujuan hidup kita. Alat untuk berguna bagi orang lain. Man for Others.

Jadi menurutku, dan ini sekedar opininku. Si pembuat hidup udah netapin tujuan hidup buat semua manusia di bumi ini. Mereka diadakan untuk bisa saling berbagi dan berguna bagi orang lain. Perkara mau jadi apa dia nanti, itu hanya alat dan sarana untuk mencapai tujuan hidupnya. Berguna bagi orang lain.Jadi, gak usah sedih, galau, dan semacamnya kalau kalian belum bisa dapet yang kalian pengen, karena sekali lagi, apa yang kalian pengen, itu adalah alat dan sarana untuk mencapai tujuan hidup kalian. Jangan pernah nyerah dan  coba keluar dari kotak untuk mulai nyari alat dan sarana baru itu untuk tujuan hidup kalian.

Oh iya, satu lagi, jangan jadi males-malesan juga karena tujuan hidupmu udah di tentuin, kamu harus cari alat yang paling cocok buat kamu untuk dapetin tuh tujuan hidupmu. Gak mungkin kan kamu bajak sawah pake garpu?hahaha

Keep fighting guys :D

Hidup Seperti Bulan




Tiga hari ini kipas angin di rumahku rusak. Terus? Emang gak penting sih, tapi justru karena kipas angin rusak ini aku menemukan sebuah kejadian. Pas kipas angin di rumahku masih sehat, aku biasa ngrokok di dalam rumah, sama hal nya seperti ayahku. Kami berdua memang pasangan ayah dan anak yang sama-sama punya kebiasaan yang sama. Merokok. Untungnya, aku dan ayahku sama-sama mengonsumsi rokok yang sama. Sebut saja rokok itu Gud*ng Gar*m. Terus apa hubungannya rokok dengan kipas angin rusak tadi? Beberapa hari kemarin sebelum kipas angin itu rusak, aku dan ayahku biasa ngrokok di dalam rumah. Asap rokok yang ngepul di dalam rumah bisa melayang menghilang berkat si kipas angin itu. Sekarang, kipas angin itu rusak, karena dia selalu bekerja tanpa lelah mungkin. Tiga hari ini, ibuku ngasi ultimatum ke ayahku dan tentu saja kepadaku. Neg udud mbok neng jaba. Kalo ngrokok di luar aja. Seperti itulah kira-kira bila kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Memang, ultimatum ini beralasan. Adik ku adalah seorang penderita asma atau sesak napas. Tentu saja, bisa kambuh tu asma kalo “keplepek” asap rokok. Selama ini, kipas angin satu-satunya di rumahku itu menjadi pangeran gagah yang melindungi adikku dari serangan asam rokok yang dilancarkan olehku dan ayahku. Bisa ngebayangin kan gimana hebatnya kipas angin itu di mata adikku?

Oke, malam ini nggak kayak malam biasanya. Biasanya aku hisap beberapa batang rokok sendirian atau kadang berjamaah bersama di ayahku di ruang tamu rumahku. Hisapan demi hisapan menemani hariku bila aku kebetulan sedang di rumah. Entah sebagai teman nonton tv atau teman bermalas-malasan. Malam ini sengaja aku duduk di teras rumahku sekedar untuk meghabiskan rokok dan menikmati udara malam. Asap rokok mulai membumbung saat mataku tak sengaja melihat bulan tepat di depanku. Bulan malam ini memang indah, bulat, kuning kemerah-merahan, penuh dengan segala daya pikatnya. Entah kenapa mataku terus melihat bulan yang sedang mentatap balik kepadaku. Pernah dulu, seorang teman berkata kepadaku,” Kop, mukamu indah e, kayak bulan”. Wah, asik juga nih dapet pujian macam ini. Kapan lagi ada orang bilang ni muka kayak bulan hhahaha. Tapi ternyata, temenku belum selesai ngomong bro, masih ada lanjutannya. “Iya, kayak bulan, bopeng-bopeng”. Siiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuuuuuuuu langsung lemes deh hahaha Muka keren gini (kata ayah ibu sih) haha di bilang bopeng-bopeng. Sakit berooooooowww hahaha

Bukan di situ sih intinya. Bener juga tuh kata temenku. Bulan ternyata bopeng-bopeng. Coba deh kalian lihat dan amati. Ada semacam pola di bulan yang bentuknya kayak kelinci kan? Katanya sih, itu kawah-kawah yang ada di permukaan bulan gitu. Jadi, kalo buat cewek-cewek nih, jangan malah seneng pas cowok kalian bilang kalo wajah kalian bagaikan bulan :p Tapi sadar gak sih? Bulan emang bopeng-bopeng, tapi manusia-manusia di bumi ini banyak kan yang mengagumi keindahannya? Padahal udah jelas-jelas, B-O-P-E-N-G, BOPENG! Trus kenapa masih indah ya?

Waktu liat tuh bulan, aku sok-sok an aja bikin analogi. Analogi tentang bulan dan hidup, tsaaaaaaaaaahhh kurang kerjaan banget ni aku haha Tapi gak papa lah, iseng-iseng cari falsafah hidup :D

Jadi gini, bulan yang indah banget itu punya bopeng-bopeng, ya kan? Tapi, walau bopeng-bopeng gitu, tetep, bulan itu indah berooow, setuju? Emang, kalo kata guruku dulu, bulan itu gak ngluarin cahayanya sendiri, tapi dia mantulin cahaya benda-benda langit lain, kayak matahari dan bintang, kalo gak salah. Kesimpulannya, bulan, dengan begitu banyak kebopengannya, dia tetep teguh berdiri di kolong langit menatap jutaan makhluk di bumi tanpa ngrasa minder karena ada benda-benda langit di skitarnya yang membantunya untuk menjadi indah.


Pertama nih, masalah B-O-P-E-N-G

Jadi, kalo boleh aku sama-samain, bopeng di bulan itu, sama halnya dengan kekurangan yang ada di diri kita. Kekurangan, entah banyak entah dikit, secara sadar atau gak sadar, selalu kita tutupin supaya kita keliatan gak ada kurangnya. Supaya kita ini kelihatan hebat, tanpa kekurangan. Kelebihan doang deh yang ada di diri kita. Malam ini, aku sedikit belajar dari si bulan yang punya bopeng-bopeng itu. Liat tuh bulan, dia punya banyak bopeng, tapi gak di tutupin. Dia gak malu bro sama kekurangannya. Jadi nih, buat hidup kita. Gak usah malu bro sama kekurangan kita. Gak usah kita tutup-tutupi. Tapi bukan berarti juga ditunjuk-tunjukkin. Maksudku, kita gak perlu malu punya kekurangan. Misalnya nih, diriku sendiri deh. Aku ini item, pendek, kriting, miskin kalo kata temen-temenku, pokoknya jauh deh dari tipe-tipe yang dicari para wanita hahahaha Tapi aku gak mau bro terlarut dalam kekuranganku itu, dalam bopengku itu. Gak perlulah aku make over biar jadi putih dan ganteng. Gak perlu juga aku ngepet gitu biar jadi kaya raya.

Just be yourself brooooo


Lanjut deh, yang kedua, masalah benda-benda angkasa lain.

Bulan, nggak akan bisa bercahaya indah kayak gitu kalo nggak ada benda-benda lain. Kenapa? Kayak yang udah aku bilang tadi. Bulan itu benda langit yang emang nggak bisa ngeluarin cahaya sendiri. Dia mantulin cahaya dari matahari dan bintang biar bisa bersinar terang kayak yang tadi barusan aku liat. Buat aku, matahari dan bintang-bintang itu adalah orang-orang di sekitarku. Ibuku, ayahku, adikku, semua temen-temenku, dan orang-orang lain yang pernah datang dan pergi di hidupku. Buatku, mereka semua adalah sumber cahaya. Cahaya yang besok bakal aku pantulin dan aku bagi ke orang lain supaya orang lain bisa menikmati hidup yang lebih baik. Kayak bulan yang ngasih cahaya buat orang-orang yang menderita dalam kegelapan tsssssaaaaaaaaaahhhhhhh hahaha. Intinya bro, kita dalam hidup, jangan pernah nglupain jasa-jasa orang di sekitar kita. Orang-orang di sekitar kita juga punya peran atas apa yang ada pada hidup kita. Mereka udah ngasih cahaya ke kita. Sekarang giliran kita buat ngebagi tu cahaya ke orang lain J



Gara-gara kipas angin rusak, aku bisa mengambil sedikit pelajaran dari si bulan. Pelajaran untuk ngejalanin ni hidup tanpa rasa minder karena kekurangan kita. Pelajaran buat nggak nglupain jasa orang-orang di sekitar kita. Pelajaran yang semoga bisa membuat ni hidup jadi lebih baik J









Senin, 02 Juli 2012

Hanya Sebuah Cerita (?)



Sepertinya hari baru akan segera tiba. Entah hanya perasaanku saja atau memang seperti itu adanya. Memang, dalam hatiku selalu kudambakan hari baru tiba, hari baru yang datang menawarkan sejuta cerita untuk ditelusuri. Cerita, ya cerita. Selalu ada cerita dibalik semua suasana dan kisah yang mengiringi perjalanan hidup kita.


Ketika aku masih kecil, sering kakekku menceritakan berbagai cerita kepadaku sebelum aku tidur. Cerita si kancil yang legendaries itu, cerita pewayangan, sampai tak jarang cerita-cerita mistis. Semua cerita yang selalu ingin kudengarkan sebelum kuakhiri hariku dengan menutup mata. Saat aku mendengarkan sebuah cerita, aku merasa sangat menikmati cerita itu. Seolah aku ingin terlibat dan mengambil peran dalam setiap bagian cerita yang kudengarkan. Aku ingin menjadi tokoh utama yang ada di cerita-cerita itu. Tokoh utama yang selalu menjadi pemenang di akhir cerita, tokoh utama yang membunub naga raksasa, tokoh utama yang hidup bahagia selamanya, tokoh utama yang membuat para penikmat ceritanya terkesan oleh kisah hidupnya.



Bila hidup ini diibaratkan dengan selembar kertas putih. Aku ingin hari-hariku tercatat di kertas itu. Setiap kisah, cerita, suka, duka, tercatat di sebuah lembaran kehidupan. Sebuah lembar kehidupan yang kelak saat aku tak sanggup lagi menghiasi kertas putih itu, aku bisa membacanya dan menikmati ceritaku. Cerita tentang hidupku, cerita tentang semua orang di sekitarku. Cerita yang akan aku nikmati sebelum aku menutup hariku. Seperti halnya ketika aku masih tak mengerti persoalan hidup yang membungkus setiap cerita anak manusia.


Semakin hari, akan semakin bertambah lembaran cerita hidup kita. Setiap manusia memiliki cerita yang berbeda. Kalaupun sama, pasti akan ada perbedaan diantaranya. Cerita hidup bukanlah dongeng si kancil ataupun cinderella. Cerita hidup adalah catatan pergolakan hidup manusia. Endingnya tak selalu berakhir indah seperti dalam cerita-cerita fantasi. Endingnya juga tak dapat diprediksi seperti halnya dongeng kancil yang pasti bisa ditebak. Cerita hidup manusia, tak akan ada yang tahu bagaimana akhirnya dan kapan berhentinya.


Semua goresan tinta dalam hidup ini seharusnya memiliki makna bagi penulisnya. Syukur bisa memberi makna bagi orang lain yang membacanya atau bagi mereka yang ikut terlibat dalam cerita hidup si empunya. Hidup ini bukan beban dan bukan panggung sandiwara menurut pemahamanku. Memang kita memainkan peran dalam dunia ini. Akan tetapi, diri kita sendirinlah yang mengatur sebagaia apa kita dalam cerita ini. Bisa menjadi stage manager dan sutradara sekaligus lakon dalam hidup ini. “Dia” yang transedens, yang kita kenal dengan “Tuhan” adalah produser yang memberi kita kebebabsan untuk menyelesaikan cerita kita.



Cerita hidup kita…
Cerita orang-orang di sekitar kita…
Cerita segala macam upaya anak manusia mengalahkan permasalahan dunia…





Hanya sebuah cerita?

Senin, 18 Juni 2012

Sebuah Kota


Mataku masih terlalu sungkan untuk kuajak menutup pelupuknya. Kantukku masih terlalu muda untuk kuperintahkan meyerangku. Malam ini pikiranku melayang ke sebuah tempat saat dimana pernah kulakukan hal yang gila bersama dua orang temanku. Entah kenapa ingatan satu tahun yang lalu itu belum juga beranjak dari tempatnya. Dia masih bergelayutan manja di pikiranku sambil sekali-sekali bermain petak umpet. Ya, ingatan tentang hal yang itu-itu saja, ingatan tentang hal yang tentu saja kau sudah tahu. Aku dengar kau sudah sukses, menyentuh negeri seberang dengan kaki kecilmu dan hati besarmu. Aku turut bahagia akan itu.

Jumat, 18 Juni 2011.

Tepat satu tahun yang lalu ditanganku telah kupegang sebuah tiket kereta api kelas ekonomi dengan tujuan sebuah kota di sebelah barat pulau ini. Sebuah kota dimana jarak pernah memisahkan aku dan kamu. Sekarang, tidak  hanya jarak yang sangat bahagia karena telah memisahkan kita, mungkin juga waktu, angin, asa, matahari, rasa. Masih teringat jelas, jadwal kereta api kelas ekonomi itu berangkat dari kota ini pukul 20.20 WIB. Akan tetapi, seperti biasa yang terjadi di Indonesia, kereta besi itu tetap terlambat menjemputku untuk menemuimu di kota itu. Sebuah peta kota B telah diam dan tersembunyi di ransel hitam itu. Sebuah peta yang menjadi saksi petualangan kita waktu itu, sebuah peta konvesional dari kertas yang kemudian beradu dengan gps yang ada di telepon genggammu, waktu itu. Tekadku sudah bulat untuk pergi menemuimu apa yang aku perjuangkan waktu itu. Menemuimu di kota yang sama sekali belum pernah aku datangi.

Kereta besi beranjak pergi meninggalkan Stasiun Lempuyangan, dengan langkah kecil merayap diatas besi menuju ke sebuah stasiun kecil di kota B, Stasiun Kiara Condong. Bersama dua orang temanku, kuhabiskan malam dengan berpuluh-puluh batang rokok dan beberapa gelas kopi yang kami jumpai. Berhimpit-himptan di sebuah gerbong tanpa tempat duduk, hanya beralaskan koran seadanya yang dijual di dalam gerbong itu tidak menyurutkan niatku untuk menemuimu di kota itu. Kota yang pernah menjadi saksi secuil kisah hidupmu.

Saat matahari mulai malu menampakkan sinarnya, aku tersadar, kota yang kutuju sudah dekat, kamu sudah dekat, sebentar lagi, ya sebentar lagi aku akan menemuimu, dahulu.

Udara dingin mulai menyapaku saat kaki ini kulangkahkan keluar dari gerbong yang telah mengantarkan aku dan asaku sampai di kota B. Sebuah pesan singkat kuterima di telepon selulerku yang intinya, aku harus memberi kabar kepadamu bila aku sudah sampai di kota B. Tanpa kupedulikan suara kereta besi yang menderu-deru, kukirim pesan singkat padamu, mengabarkan bahwa raga dan jiwaku sudah ada di kota B, atau mungkin jiwaku sudah sampai duluan karena telah kau bawa saat kepergiaanmu malam itu di sebuah stasiun kota kita, mungkin.

Minggu, 20 Juni 2011

Pagi ini, peta konvesionalku telah siap, ranselku juga telah siap walaupun tak berisi apa-apa. Entah siap untuk apa. Aku pun tak kalah siapnya. Siap untuk menemuimu di sebuah wisma di kota B. Wisma yang terletak di Jalan K….. no. 10. Kutinggalkan tiga orang temanku yang masih asik bermalas-malasan. Beny, Cacicng, Murti, aku pamit dulu, kalian pasti tahu hendak menemui siapa aku hari ini. Terimakasih teman kalian bersedia menemani perjalanan ini. Kakiku mulai melangkah di trotoar jalan protocol kota itu. Berbekal peta konvesionalku, kutelusuri jalanan kota yang sangat asing bagiku itu untuk menemukanmu. Kaki ini tak akan pernah terasa lelah untuk melangkah, melangkah menghampiri sesutau yang di cintai dulu. Jalan Lembong, lalu Jalan Veteran, sejenak kubuka peta itu, memastikan rute yang kutempuh adalah rute yang benar. Memang benar, aku sudah dekat. Kupercepat langkahku, tak sabar ingin aku temui seorang gadis yang mungkin memang sedang menunggu di sana, mingkin.
Saat langkahku mulai dekat dengan mulut wisma  K itu, kulihat kau muncul dengan kaos hitammu, celana jeans putih ke abu-abuamu, dan tas coklatmu, serta sepatu barumu yang kau beli di sebuah mal di kota itu. Entah perasaan apa yang ada di hatiku saat mataku menangkapmu. 

Perjalanan 333km dari kota ternyata tak sia sia…

Setelah itu, biarkan semuanya hanya aku dan kamu yang tahu…

Kenangan yang pernah menghiasi hariku dulu….

Terimakasih….

Rabu, 30 Mei 2012

Extraordinary crime: Titip Absen


Ada sebuah fenomena unik yang aku amati sekitar 9 bulan aku mengenyam pendidikan di dunia perkuliahan. Bagi kita yang beruntung mengenyam bangku perkuliahan pasti tidak asing dengan fenomena "TA" atau "titip absen". Oke, bagi sebagian orang mungkin fenomena ini sudah menjadi hal yang wajar dan mendapat pemakluman diantara kita. Jujur, bagiku pribadi sampai sekarang, fenomena “TA” ini menjadi semaca extraordinary crime. Fenomena titip absen ini bagiku merupakan sebuah hal yang tidak dapat ditolerir oleh nuraniku.

Oke, bagi yang belum tahu tentang titip absen, akan aku beri sedikit gambaran tentang hal ini. Saat kelas dimulai, akan ada presensi yang diedarkan kepada seluruh mahasiswa. Presensi tersebut ditujukan bagi mahasiswa yang memang mengikuti kegiatan perkuliahan di kelas berlangsung. Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tersebut berhak untuk menandatangani presensi tersebut. Nah, titip absen ini berarti bahwa seorang mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan perkuliahan “meminta tolong” kepada temannya yang sedang mengikuti perkuliahan untuk menandatangani presensinya. Begitulah gambaran singkatnya.

Kemudian apa yang salah di sini? Berangkat dari kawah candradimuka dimana aku pernah digembleng untuk memaknai hidup, salah satunya adalah tentang kejujuran. Saat aku mengenyam pendidikan di SMA ku dulu, SMA Kolese De Britto. Kejujuran benar-benar ditekankan pada pendidikan kami di sana. Kejujuran bukan lagi menjadi sebuah kewajiban, namun merupakan sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging bagi kami para peserta pendidikan di kawah candradimuka ini.

Saat aku menginjakan kaki di dunia perkuliahan, ternyata hal yang aku uraikan di atas tentang kejujuran semakin susah untuk aku jumpai, apalagi aku bertemu dengan fenomena unik ini, fenomena titip absen. Orang bisa dengan mudah mengingkari nuraninya demi mendapatkan keuntungan pribadi tanpa mau melakukan kewajibannya. Biasanya, mahasiswa melakukan titip absen ini karena takut kepada kuota presensi minimal yang diterapkan oleh fakultas. Di fakultas saya, setiap mahasiswa diberi kuota presensi minimal sebesar 75% kehadiran atau bisa tidak hadir dalam perkuliahan sebanyak 3 kali dalam 14 kali pertemuan. Apabila kita mau melihat lebih jauh, saat mahasiswa tidak mengikuti perkuliahan, berarti mahasiswa itu akan kehilangan presensinya itu. Namun, mahasiswa kebanyakan tidak mau kehilangan presensinya itu sehingga ia melakukan titip absen ini demi melindungi kuota minimal presensinya. Padahal sudah jelas, ketika mahasiswa tidak hadir dalam dunia perkuliahan, berarti sudah semestinya dia kehilangan presensinya. Lebih baik menerima kehilangan itu daripada harus terus menutupinya dengan kebohongan.

Selama ini, aku sendiri, bukannya bermaksud tinggi hati atau apapun itu. Aku masih memegang teguh prinsipku untuk tidak titip absen. Apabila memang aku tidak masuk, yasudah, tidak akan aku tutupi kealphaan ku itu dengan titip absen kepada temanku. Saat aku tidak datang, ya konsekuensinya tidak akan ada tanda tanganku yang mendarat di kertas presensi itu.

Sebuah prinsip yang akan terus tergerus jaman apabila mental anak bangsa tidak dibenahi sejak dini. Belajar menutupi kesalahan dengan kebohongan, bisa bayangkan apa yang terjadi 20 tahun kelak bila masih terus seperti ini mental calon penerus bangsa kita?



Sebuah sumbangan bagi keprihatinan……..

Senin, 07 Mei 2012

Manusia Hebat Dalam Hidupku


Pernahkah kalian memiliki manusia-manusia yang sangat berarti dalam hidup kalian? Manusia yang tidak akan kalian tukar dengan apapun di dunia ini. Manusia yang selalu menemani kalian. Manusia yang dengan sukarela mau menampung semua air mata yang keluar dari mata kita. Manusia yang mau menyumbangkan senyumnya dalam hidup kita. Manusia yang selalu berada bersama kita saat manusia yang lain bahkan dunia ini mulai pergi meninggalkan kita. Manusia yang setia menemani setiap dinamika kehidupan kita.

Aku punya…

Mereka adalah manusia-manusia luar biasa dalam hidupku. Pertemuanku dengan manusia-manusia ini terjadi dengan sangat sederhana. Aku menemukan mereka di sebuah tempat pergulatan hidup para remaja. SMA. Ya, aku menemukan mereka di SMA.

Entah sudah berapa ribu keluh kesahku kutumpahkan pada mereka. Entah berapa ribu tawaku berjalan beriringan bersama mereka. Manusia yang tak akan kutukar dengan apapun di dunia ini. Teman-temanku, sahabatku, saudaraku. Kalian memberiku kekuatan untuk tetap menatap api di depan, memacuku untuk selalu melangkah, menamparku saat aku terlelelap dalam nikmatnya dunia. Kalian selalu ada untukku.

Pernah aku berpikir, apakah aku siap bila kalian semua hilang dalam hidupku? Jujur, aku tak akan pernah siap untuk kehilangan teman seperti kalian. Aku tak akan pernah siap untuk melihat kalian tidak ada lagi menemani tangis dan tawaku.

Aku sadar, apa yang aku berikan kepada kalian, hanyalah sebagian kecil dari apa yang kalian berikan dalam hidupku. Kalian, saudaraku walau kita berasal dari rahim yang berbeda….
.
.
.
.
.
.
 Suatu malam di sebua burjo, Palm Kuning tepatnya…

Di sana, aku habiskan malam bersama manusia-manusia hebat dalam hidupku. Bertukar cerita, bertukar pikiran, bertukar es teh, bertukar rokok, bertukar segala macam apa yang ada pada diri kita masing-masing. Obrolan kecil yang kemudian tanpa sadar terfokus kepadaku. Kalian dengan sukarela mendegarkan ceritaku yang masih sama. Cerita yang sudah kalian dengar dan kalian genapi dengan celotehan bermakna dari kalian. Pernah aku bertanya dalam hatiku, apakah kalian tidak bosan dengan ceritaku yang selalu sama?

Aku tak peduli bosan tau tidak kalian dengan semua ocehanku, tapi yang aku tahu, kalian tetap ada saat mulutku tetap bekerja nenelurkan cerita yang sama, masalah hidup yang sepertinya hanya itu-itu saja….

Terimakasih teman kalian mau menemani segala macam apa yang terjadi dalam hidupku.
Teman berbagi, bercerita, melangkah….

Manusia luar biasa..
Manusia yang tak akan pernah aku tukar dengan apapun…




Kalian….
Manusia-manusia hebat dalam hidupku….

Terimakasih kawan….



Rabu, 25 April 2012

Neutrality and Integrity against Corruption



Nowadays, corruption in Indonesia is a hot issue. Many people get jail because this case. Corruption brings the negative effect for this nation. Corruption means that some people use their position to take the others rights for self interest. Why in Indonesia corruption can grow like today? I think there is a big problem, and that problem is about moral. Bad moral can make people do something bad too. For example, in this case, when you get a high position and then you have power to do something. If your moral is bad, maybe you can use your power to do something bad, you can take the others rights for yourself interest and in the other hands, people whose rights have been taken will get the pain. And you? You get a benefit from the others pain.

     In my academic background, I studying accounting in university and I think accounting is close with this problem. Accounting close with manipulation, mark up, even corruption if a accountant have no good moral.

     To be an accountant is a dilemmatic. Why? Accounting in corporation or in a company faces the dilemmatic problem. Accountant works to make a financial reporting about the company. Nowadays, corruption is the biggest issue in Indonesia. Accountant is the susceptible with corruption. As a company accountant, maybe an accountant has an order to make a financial reporting for company interest. For example if you are an accountant, your boss asks you to make a financial reporting with some manipulation or mark up to avoid big taxes, so the company has big profit. Faces a problem like that, what would accountant should do? Will you obey with your boss’ order to make some manipulation in financial reporting in the financial reporting, or you will ignore your boss’ order. That’s mean, you will make financial reporting and make it with no manipulation and you company will have the bigger taxes.

     In accounting principles, there a principle called neutrality. Neutrality in accounting means that a financial reporting must be neutral and present the financial reporting as it is. Also, there is no interest in that financial reporting. Neutrality and integrity are the most important for an accountant. If every accountant in this world have neutrality and integrity, corruption can be avoid in a company even in a country. Neutrality and integrity are the moral problem and interest problem.

     Kieso, Weygandt, and Warfield (2011:4) argued that neutrality means that a company cannot select information to favor one set of interest parties over another.  The concept of neutrality in accounting means that the financial statements must be neutral, in this case means the financial statements are not partial to anyone, either to investors companies, and other parties who have an interest in the financial statements. The concept of neutrality aims to avoid the manipulation of certain parties. Healthy financial statements should presents financial statements that it is in accordance with the financial situation of a company. If the concept of neutrality ignored, there will be a problem because if the financial statements are partial to one of the interested parties, there will be inequality of information and information about the circumstances causing the company to be biased.

Then with regard to the profession, as an accountant. Our neutrality is tested when there are people who want a manipulation of data. Back to the moral issue was, whether we are morally mature enough to deal with this kind of problem? A good accountant should be able to apply the concept of neutrality, despite pressure from other parties. In addition to the threat there is also a need to deal with the advantages offered by certain parties in order to presents the financial statements are not neutral. For example, people with an interest that give us money or other privileges. Corruption often occurs because the second reason, as an accountant in excess of normal benefits given that accountants were persuade to manipulate data in financial statements should be presented.

Integrity is more inclined to self and one’s conscience. An accountant who has high integrity will not be easy to do things contrary to conscience, in this case manipulate financial statements. Today, the integrity of the person being eroded, many people are more concerned with personal benefits than their conscience. In Indonesia, the clearer it is clearly visible with the rampant cases of corruption in Indonesia. Issue of integrity is the most difficult problem seems to built and repaired. Building a high integrity should begin early in childhood. The values of integrity and honesty must be nurtured along with increasing age. Integrity is not an instant, therefore it needs a long time so that a person can have high integrity. 

In many cases of corruption, many cases which occur due to low integrity of the perpetrators of corruption. People who do corruption more concerned in personal benefits than the interests of others or public interests. Integrity in its works also easily bought and sold with money so that he will do it for improper activities of money and personal benefit. For example, an accountant has an order from his boss to make a financial statement with mark up or manipulation so that the company does not have high taxes. If an accountant has high integrity, he would not do his boss’ order to make financial statements with manipulation or mark up. He still would present the actual financial statements without any manipulation. Then when the accountant has low integrity, he will do what is ordered by his boss to make.

From the discussion above, working as an accountant obviously facing though dilemma, between conscience and convenience provided. Convenience given for opposing the conscience or the conscience to obey that sometimes do not take comfort in the financial field. As a good accountant, not just an intellectual skill is needed, but a good conscience is also needed, so as not easily to persuade to do despicable things like corruption. Solution to minimize this problem can be done by the character education earlier to children so that when they are mature, they will continue to uphold the values of integrity and honesty. And hope that it can help our nation to reduce the corruption act.