Selasa, 18 Agustus 2015

Rumah

       Hari berganti. Minggu bergerak. Bulan melayap pergi. Tahun pun tak luput untuk sekedar ikut berganti. Ada rasa yang bahagia saat jari mulai bekerja mencoba merangkai kata dalam tulisan ini. Namun ada juga sedih ketika waktu tak terasa telah lama menemani langkah kita. Berpuluh-puluh kilometer kita habiskan di atas roda “mbak vega”. Bersama menyusuri setiap sudut kota istimewa, kota Jogja. Setiap sudut menyimpan jutaan kenangan kita berdua. Tangis, tawa, canda, bahagia, marah, sedih,duka. Semuanya kita habiskan untuk saling mencinta.
       Tiga tahun. Aku bukan tak ingat. Hanya saja, sudah terlalu banyak yang kita tulis dan lukis bersama.Aku seakan tak mampu untuk mengingat semuanya. Kapasitas penyimpanan memori di otakku terlalu kecil untuk menampung semua kenangan indah kita. Sedikit saja, aku masih ingat bagaimana pertama kali aku datang ke sebuah rumah yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Rumah yang hampir selama tiga tahun menjadi saksi biksu kisah kita. Kita pernah bercanda dan tertawa, bahkan kita pernah beradu marah dan duka. Sebuah kampung yang dulu tak familiar untuk aku jelajahi. Sebuah kampung yang tak pernah aku kenal senyum hangat sapa manusianya. Kini, seakan mereka semua telah mengenal kita. Tiga tahu, kita membangun sebuah kisah bermodalkan rasa. Mengenal sebuah dinamika yang melibatkan jiwa.
       Waktu seperti tak mengenal lampu merah atau kuning. Dia tetap terus berjalan tak kenal berhenti. Kita mungkin terlena atas semua kisah cinta dan bahagia kita. Atau kadang kita tak terasa berkelana dalam amarah saat kita saling mencerca. Aku tak tahu apa yang harus aku ungkapkan. Bahagia dan sedih kini benar-benar bergerak serasi dalam tiap detik langkah kita. Tak terasa upaya untuk menjadi sarjana telah purna. Kini kita hanya bisa berpegang pada cita dan cinta kita.
       Aku tahu akan banyak duri, batu, badai, atau mungkin topan di depan yang siap untuk menelanjangi cita dan cinta kita. Tapi dengarlah sayang. Ingatlah sayang. Rajutan cinta dan cita kita di sebuah kota istimewa tak akan sia-sia. Jutaan kenangan yang telah kita goreskan dalam tiap senyum manusia ramahnya tak akan pudar di telan masa.
       Aurelia dan Jogja. Keduanya adalah rumah sempurna bagi rasa yang kupunya. Sejauh apapun aku pergi dari rumah. Sejauh apapun kita pergi dari rumah. Rumah akan selalu menjadi alasan kita untuk kembali. Rumah akan selalu menyimpan kisah dan kasih untuk dirindu. Rumah, akan selalu memanggil kita untuk pulang dan kembali bercengkrama. Rumah, tak akan pernah hilang walaupun sejuta gedung megah menghimpit sesak diantara jiwa.

       Aurelia dan Jogja. Rumah yang akan selalu memanggilku untuk kembali dan merindu tanpa perlu kau tunggu.

Jumat, 14 Februari 2014

Sebuah Surat Elektronik Untuk Seorang Perempuan yang Luar Biasa di Hari yang Istimewa

Sebuah surat elektronik untuk seorang perempuan yang luar biasa di hari yang istimewa.

Hai, bagaimana kabarmu?
Aku dengar akhir-akhir ini kamu sedang sering bertengkar dengan pasanganmu. Apa yang terjadi? Kenapa kalian senang sekali bertengkar? Padahal kudengar kalian saling mencintai dan menyayangi. Yah, walaupun terkadang kalian juga saling mencaci dan memaki, tapi aku yakin kalau caci makian kalian hanya sekecil biji sesawi bila dibandingkan dengan cinta kalian.

Apakah pasanganmu akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan kegiatannya? Atau dia malah asyik bermain dengan teman-temannya? Katamu, dia sekarang sudah tak seperti dulu? Memangnya dia dulu apa? Dinosaurus? atau Ancient Aliens?

Percayalah, dia tetap orang sama. tak ada yang berubah darinya. Termasuk cintanya padamu, tak ada yang berubah. Berkurang pun tidak, bahkan bertambah.

Dua jam yang lalau aku bertemu dengan pasanganmu. Tubuhnya lusuh dan kotor penuh abu vulkanik. Rambutnya apalagi, keras seperti kawat. Tapi raut mukanya gembira, entah kenapa dia seperti itu. Aku mencoba berbicara dengannya. Dia hanya bergumam tak menjelaskan. Hanya sebuah nama yang keluar dari mulutnya dan diucapkan berulang kali. Kamu pasti tak percaya nama siapa yang keluar dari mulutnya. Namamu! Ya! Dia teramat sangat merindukanmu, dia ingin memelukmu, tak ingin melepasmu. Memang terkadang dia kesal dan seakan tak sanggup lagi. Tapi setiap mengingatmu, semua momen ini muncul begitu saja dalam benaknya. Semu aitu membuatnya bertahan dan selalu mau menjadi milikmu.


Kalau aku tidak lupa, dia tadi bercerita tentang ulang tahunmu. Dia masih sangat ingat ketika malam sebelum ulang tahunmu, kalian menghabiskan waktu di sebuah warung soto di sudut kota. Katanya, kamu menghabiskan dua mangkuk soto! Apa itu benar? Aku tak mengira ternyata kau doyan makan juga. Sempat dia bersedih saat meneceritakan hal ini. Katanya, dia adalah pria terbodoh di dunia ini. Awalnya, aku tak tahu apa maksudnya, tapi kemudian dia bercerita. Dia memberimu sebuah kue ulang tahun yang berwarna biru dan berbentuk burung. Kemudian yang kedua, dia memberimu sebuah hadiah yang tak pernah kau suka. Dia menyesal karena tak bisa memberimu sesuatu yang kau suka. Yang dia tahu, dia memberikan cintanya padamu. Semoga kau percaya, karena aku juga percanya dengannya.


Yang ini adalah foto yang dia tunjukkam padaku. Katanya, kau menghabiskan sebuah kue merah di tempat itu. Dia sangat mengenang tempat itu. Dia bercerita padaku bahwa tempat itu adalah salah satu tempat favoritmu. Dia ingin pergi ke tempat itu lagi bersamamu, menghabiskan sepotong kue dan semangkuk macaroni. Menikmati malam berdua, itu yang dia bilang sangat dia inginkan. Bahkan tanpa sepotong red felvet ataupun semangkuk macaroni. Asalakan dia bersamamu. Dia menitipkan sebuah pertanyaan padaku untukmu. Katanya, apakah kau masih mau melakukan hal itu bersamanya?

Dia merindukan sejuta kebersamaan bersamamu. Dia selalu inginmenghabiskan waktu bersamamu. Cintanya padamu katanya melebihi dari yang kau tahu. DIa menitipkan permintaan maaf padaku untukmu. Katanya, dia terlalu sering membuat bersedih dan meneteskan air mata untuknya. Dia hanya tak ingin kamu selalu bersedih. Dia akan selalu mencoba membahagiakanmu dengn berbagai keterbatasnnya.

Kini dia duduk termenung dn mencoba menitipkan bisikin ini kepada angin yang telah tercampur dengan abu vulkanik.


"Happy Valentine My Valentine. Hope that you will be always my valentine"



Itulah akhir percakapanku dengannya. 

Rabu, 15 Januari 2014

Sebuah Alasan Mudah Untuk Bertahan

          Hari ini sedang hujan saat aku mencoba menuangkan sedikit kisah perjalanan kita. Perjalanan yang tak semulus mobil ferrari Michael Schumacer yang meluncur di atas aspal sirkuit. Perjalanan yang terkadang harus dilalui dengan keringat dan air mata, juga tawa dan canda, ada bahagia dan  ada duka. Seperti yang pernah kutuangkan sebelumnya. It won’t be easy. Nobody said it was easy. Ir’s been rough. But we are tough. Tak mudah memang mencoba bertahan dan terus mengemudi sebuah kendaraan roda dua di dalam hutan belantara. Terkadang kita harus berhenti sejenak. Mengambil nafas, beristirahat, dan tak jarang memperbaiki sepeda motor yang kita gunakan.

            Aku dan kamu memang belum pernah memasuki hutan belantara selebat ini. Banyak hal yang kita jumpai. Kita pernah bertemu kera berekor emas, merak putih bermata hijau, tapi kadang kita juga bertemu singa bercakar merah, atau  naga beramput pirang. Semuanya pernah kita jumpai. Semua hal yang indah maupun ngeri pernah kita lewati.

            Kadang berpikir untuk berhenti dan kembali ke rumah, meniggalkan semuanya di sini untuk kembali menyusun hidup. Tubuh ini sering merasa lelah untuk kembali melanjutkan apa yang kita mulai, serasa ingin diam dan mulai kembali ke tempat kita berasal. Maaf kalau aku sering tak bisa bertahan di tengah badai yang menghatam hutan hujan tropis ini. Mungkin aku juga pernah terserang hipotermia saat kita mulai mencapai titik tertinggi suatu bukit yang pernah kita daki.

            Sejenak aku berpikir, melihat semuanya ke belakanag dan mulai mencari jawab atas tanya semua ini. Mengapa kita hrus berjalan bersama saat salah satu diantara kita sudah tak punya lagi tenaga untuk melanjutkan? Mengapa  kita selalu keras kepala untuk tidak menyerah kepada ketidakberdayaan.

            Saat aku tertidur, bersandar di sebuah pohon, aku masih terjaga. Lewat sinar temaram api unggun yang kita buat bersama. Kulihat wajahmu begitu berat menganggung letih yang ada. Namun, saat itu juga, aku menemukan jawaban mengapa aku tidak boleh menyerah. Jawaban yang dengan sangat sederhana diberikan kepadaku. Kamu. Kamu sudah lebih dari cukup untuk menajadi jawaban semua pertanyaanku. Kamu seakan-akan menyublim menjadi sebuah teori ekonomi Adam Smith atau teori gravitasi Newtown, atau bahakn teori-teori lain yang belum pernah ditemukan sebelumnya.            
            Jawaban itu masih ada di benakku, aku harap juga dibenakmu. Semuanya yang kita dapat dalam perjalanan ini, tak akan hilang begitu saja ditelan kabut lembah yang begitu pekat. Akan selalu ada sebuah titik dimana kita menemukan cahaya untuk selalu berpegangan tanpa meninggalkan.


Rabu, 10 April 2013

Sebuah Perjalanan Rasa

Pagi ini terasa lebih ringan. Siang tak pernah lagi terlalu terik, dan malam tak pernah lagi terlalu dingin. Kututup malam dengan sebuah senyum yang tersimpul rapi tanpa suara. Aku masih tak tahu kenapa sekarang semua menjadi begitu nyata. Semua khayal dan mimpi yang dulu tak pernah kusangka, kini menjadi hari-hari yang mengalir deras dalam gelora dada. 

Satu hal yang aku tahu, semua ini bermula dari sebuah perjumpaan biasa yang kemudian terukir menjadi pertemuan yang tak biasa. Sebuah tempat peraduan yang sering menampung jutaan rasa dan asa ku. Sebuah tempat dimana aku sering menghabiskan waktuku lebih banyak dibandingkan di bangku kelas ber-AC.

Hari itu, selembar kain berwarna coklat melindungi tubuhmu dari hiruk pikuk tempat peraduanku. Sebuah nama yang kemudian kudapat dari seorang teman. AVCM. Nama yang tak akan pernah menjadi biasa lagi. Siang itu entah apa yang terjadi. Siang yang mengantarkan aku sampai pada titik ini. Titik dimana tawa, canda, tangis, amarah, benci, suka, juga cinta mengiringi setiap perjumpaan dan pemaknaan dari sebuah perbedaan.

Sebuah proses yang menguras banyak tanya. Pertanyaan yang masih sama-sama "kita" cari jawabnnya. Ataukah sebuah pertanyaaan yang hanya akan terjawab dengan pertanyaan baru? Bukan hal yang asing lagi bagi aku dan kamu untuk selalu beradu pendapat tentang jawaban dari sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang masih kita cari jawabnya. Bersama. Kita akan mencari jawaban itu bersama, tidak lagi sendiri. Sebuah jalan panjang yang terpampang bukan lagi menjadi ketakutan karena aku tahu, baik aku ataupun kamu akan berada di jalan itu. Menjalaninya bersama. Aku percaya bila suatu saat aku lelah, akan ada kamu yang selalu menguatkan aku. Aku berjanji, bila suatu saat kau lelah, aku akan di sana menguatkanmu. 

Perjalanan ini menjadi semakin ringan saat kau di sini. Banyak perbedaan yang menghiasi perjalanan ini. Tapi, bukankah itu yang akan membuat petualangan ini semakin berwarna? 

Terimakasih untuk perjalanan selama ini, dan mari kita lanjutkan perjalanan di depan. Akan banyak tantangan yang menghadang, namun tenang. I won't give on us. AVCM, let's make it works :)


Rabu, 06 Februari 2013

Pendekar Bermodal Kenekatan dan Keingitahuan

Alfa masih terlalu putih untuk mengenal cinta. Kulitnya masih rentan terhadap cuaca malam. Sosoknya masih belum pantas untuk menerima kutukan yang dibingkai dengan senyuman. Satu hal yang dia tahu di dunia ini adalah alasan untuk tak menyerah. Alfa tak mau menyerah kepada ketakutan yang menghadang di pelupuk matanya. Dia adalah pendekar tanpa kedigdayaan yang bermodal kenekatan dan keingintahuan.

Keputusan besar telah diambil olehnya. Bermodal rasa dan asa, Alfa mulai mengayuh perahu kecilnya menyeberangi lautan asmara. Badai cinta membuatnya semakin penasaran. Ombak yang menggulung tak kenal ampun membuat perahunya terombang-ambing. Lambung perahunya hampir pecah. Alfa bukan nelayan yang paham ilmu kelautan atau perbintangan untuk menunjukkan arah. Alfa berdiri, memegang tiang layar dan menantang lautan. "Kalu kau memang pantas, telanlah aku. Aku akan membuatmu menyesal telah menelanku!". Suaraya lantang memecah kegelapan yang menyelimutinya di tengah lautan. Dasar pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan, bodoh. Dia tak tahu apa yang menantinya. Lautan bisa saja menelannya dan membuatnya hilang tanpa jejak, atau badai yang akan menghempaskannya sampai tubuhnya tak dapat lagi ditemukan. Impiannya bisa hilang bersamanya kala itu juga tanpa ada orang yang mengetahuinya.

Seratus empat puluh tiga hari sudah Alfa melewati lautan ganas itu.

Entah bagaimana dia bisa bertahan. Menurut cerita orang, dia membunuh seekor monster lautan berkepala lima dan berutubuh naga dengan jarinya. Tapi itu hanya kabar burung. Alfa telah berteman dengan banyak makhluk laut, ikan terutama. Kalian tahu? Teman-teman barunya berakhir di perut pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan itu. Kejam. Begitulah hidup.

Cinta membuat Alfa berjalan sejauh ini. Dia tidak peduli kata orang akan dirinya. Alfa hanya tahu bahwa cinta harus diperjuangkan sekalipun dunia terbelah menjadi enam atau bahkan delapan. Ya, dia memang belum tahu apa-apa. Alfa masih terlalu putih. Namun, segera dia berubah menjadi sosok kelam karena impiannya sendiri telah membawanya kesini. Kulitnya mulai meranggas, bulu di sekitar wajahnya mulai menjelma seperti rimba belantara, entah makhluk apa Alfa sekarang. Dia lebih mirip seperti orang bodoh yang menggantungkan hidupnya pada impian. Tapi tunggu, dia selangkah lebih baik dari orang bodoh karena Alfa mau memperjuangkannya. Memperjuangkan kematiannya untuk lebih dekat padanya.

Seratus enam puluh empat hari.

Alfa tiba di sebuah garis pantai tak berpenghuni, sepi, hanya dedaunan nyiur menyambutnya tanpa suara. Terkadang beberapa ekor kepiting pantai menyapanya. Dua ekor kepiting melintas di depan jari kaki Alfa. "Siapa orang bodoh ini?", seekor kepiting melempar tanya kepada temannya. "Entahlah, yang jelas orang ini terlalu tolol untuk datang ke pulau ini", teman kepiting melihat mata Alfa dengan tatapan sinis. Sadar perutnya sedang kosong, Alfa menyambar dua makhluk kecil itu dengan tangannya dan mulai mengunyahnya. Mentah-mentah!! Tak ada api untuk membakarnya.

Alfa mulai risau. Pulau itu telah dia jelajahi. Tak ada manusia, hanya tumbuhan dan hewan yang terkadang berakhir di perutnya. Pulau ini sudah menjadi rumah baru bagi Alfa. Rumah baru yang semakin tak bersahabat. Pohon-pohon dengan segera menyembunyikan buahnya saat melihat sosok pendekar bermodal kenekatan dan keingintahuan melintas. Hewan-hewan serta merta menghilang entah kemana. Banyak diantara mereka yang memilih menenggelamkan diri ke lautan dan mati daripada harus berakhir sebagai santapan Alfa.

Kini Alfa hanya sendiri. 

Tidak, dia tak sendiri. Alfa belakangan menemukan teman baru. Sebuah kotak kayu tua yang dia bawa dari rumahnya. Kotak kayu yang entah darimana pernah bisa dia buka. Sekarang, kotak kayu itu tak sudi membuka dirinya. Alfa masih ingat betul cara membuka kotak kayu itu. Hanya saja, kotak itu tak mau dibuka. Alfa membawa kotak kayu kemanapun ia melangkah. Saat malam datang kotak itu berubah menjadi sebuah benda yang nyaman dalam pelukannya.

Ada yang bilang, isi kotak itu adalah impian Alfa. Dulu, saat Alfa masih putih, banyak orang yang melihat Alfa bermain dengan kotak itu. Kotak itu pernah membuat Alfa penuh warna. Hidup Alfa terasa penuh harapan dan impian saat kotak itu terbuka untuknya, dulu.

Kotak kayu itu hanya bisu sekarang. Alfa tak tahu harus berbuat apa. Seorang sahabat berkata padanya bahwa di pulau ini ada seorang pintar yang dapat membantunya membuka kotak kayu Alfa. Sayang, orang pintar itu telah hilang. Hanya tengkorak bisu yang dia temukan di sebuah pondok di tengah hutan.

Kini Alfa hanya bisa memeluk kotak kayu itu. Impian dan asa nya telah membawanya ke pulau tak berpenghuni ini. Lautan badai dan gulungan ombak dia tempuh untuk bertemu dengan impiannya. Tekad dan keingintahuannya membawanya terperosok dalam kesunyian dan kesendirian. Lahir dan batin di kesepian di pulau mati ini. Perahunya hancur, Alfa tak bisa kembali ke titik dimana ia mengawali perjalanannya.

Tiga ratus dua puluh tujuh hari. 

Alfa tertidur lelap berselimut bintang dan beralas pasir pantai. Kotak kayu itu tetap terjaga dalam pelukannya. Impiannya ia dekap erat. Impiannya membawanya ke fase ini.

Tiga ratus dua puluh delapan hari.

Alfa tak pernah bangun dari tidurnya sejak malam itu. Impiannya membunuhnya.

Alfa masih terlalu putih untuk mati.


Rabu, 30 Januari 2013

Konspirasi Nada dan Semesta

Gak sengaja kemarin nemu nih buku pas lagi jalan-jalan ke sebuah toko buku di sudut perempatan kotaku. Oke juga nih bukunya, jadi pengen nulis arti lagu buat diri ku sendiri hehehe...


Lagu punya kekuatan mistis dalam merekayasa kenangan dan memori dari jutaan syaraf di otak kita. Lagu, ibarat sistem pemerintahan adalah sistem pemerintahan diktatorial. Diktatorial penuh lagu dapat menyeret alam bawah sadar kita pada sebuah reka peristiwa apapun, bahkan bisa menenggelamkan kita pada sebuah memori di dasar ingatan yang tak mau kita jamah. Saat lagu melakukan tugasnya, upaya kita untuk melawannya justru sia-sia, atau malah semakin menjerumuskan kita ke alam rekaannya. Lagu bisa menjadi inspirasi atau mungkin bencana yang ingin kita hindari.

Beberapa playlistku memang sering membuatku terbenam dalam indahnya imaji yang dihasilkan oleh susunan nada-nada yang entah bagaimana caranya bisa berkolaborasi apik dengan konspirasi kata dalam setiap baitnya. Seolah-olah lagu memiliki asisten pribadi yang bernama semesta. Mereka berdua bahu membahu dengan berbagai macam teori konspirasinya untuk membuat seorang anak manusia larut dalam kenangan menyenangkan bahkan memilukan, atau mungkin juga perpaduan antara keduanya.

Deretan kata yang indah ataupun rancu dipadu dengan segelintir nada yang pas, akan mulai mengantarkan kita pada perjalanan batin dan logika tanpa perlu mengenal asa. Sebuah lagu cukup menjadi cambuk bahkan tembok batu berduri.

Aku sendiri punya sebuah lagu yang selalu menjelma menjadi cairan arsenik yang terlanjur larut dalam segelas es soda gembira, dan dengan indahnya tersedia di tengah padang gurun saat aku disana. Nikmat tapi mematikan. Mengerikan. Ironis. Tragis. Mistis.

Sebenarnya, lirik dalam lagu ini tidak banyak menyiratkan apa yang aku alami. Tapi entah kenapa, alunan nadanya menyeretku larut ke sebuah kenangan yang ingin kulupakan. Lagi- lagi semesta berkonspirasi membuat seorang anak manusia tak berdaya. 

Dinginnya, sejuknya, panasnya, getirnya, wangi rambutnya, harum tubuhnya, bajunya, celananya, sepatunya, matanya, tahi lalatnya yang terpaku di pelipisnya. Nada-nada itu mengantarkan jutaan sel di otakku seolah-olah bisa kembali menyentuhnya. Alam seakan berbalik dan mengijinkan sensor gerak di ujung tangan ini merasakan halus dan kasarnya kulit dua insan manusia yang pernah dirundung hujan asam bercampur cinta.


we’ve get along together

i should have known

you’re the best that i can love
till now it’s hard for me to face it
why didn’t we meet each other soon



i left them all behind you, only for you

would you believe me

i put my trust on you
but deep inside i realize
that i can’t, no i can’t



Sebuah penggalan lirik dari album pertama D'Cinnamons bertajuk "Good Morning" yang diberi judul "So Would You Let Me Be". Entah kenapa lagu ini serasa memiliki daya magis untuk membuka ruang gelap di dalam memori untuk muncul merasakan hangatnya sinar matari. Memori yang tak diijinkan oleh pemiliknya untuk keluar, menjadi tercabut ke permukaan begitu saja.

Sebuah alunan melodi yang berkolaborasi dengan deretan kata memang bisa menyimpan kenangan di belakang. Bukan berarti sebuah lagu memaksa waktu untuk kembali berputar dan merekayasa semesta di masa lalu menjadi di masa sekarang. Lagu bukanlah lini masa di media sosial yang bisa dilihat siapa saja dan dapat dinikmati ratusan pembacanya atau penikmatnya. Lagu memiliki intreprestasi berbeda. Biarlah alam dan semesta yang merangkai arti bagi sebuah kombinasi alam yang unik ini. 

Lagu menyimpan sedikit ruang untuk sekedar bernostalgia dan memelihara rasa tanpa tendensi untuk merekayasa kenangan di memori kita menjadi nyata.











Rabu, 26 Desember 2012

Beristirahatlah Kau Mimpi

Merajut mimpi sekaligus bercermin diri kadang menciutkan ekspetasi. Banyak yang bilang mimpi itu ajaib. Ya, memang ajaib. Bagiku, semakin ajaib saat aku tak ingin bangun dan terus saja menyerahkan takdirku pada mimpiku. Menyerahkan, menyerah, pasrah. Mimpi kadang membuat kita terlalu nyaman untuk sekedar beranjak. Bagaimana mau beranjak saat mimpi itu benar-benar indah? Pernah suatu ketika aku terbangun saat mimpi sedang memasuki dunia nyataku. Akupun segera ingin menidurkan diriku untuk bisa kembali kepada mimpi itu. Mataku kupaksa untuk terpejam dan larut supaya mimpi kembali menjemputku ke alam yang penuh dengan imajinya. Tapi sayang, aku tak bisa kembali kesana. Mataku terlanjur terbuka, ragaku telah terjaga, dan hasratku tak pernah menghilang. Hmmm.....Mimpi terkadang justru membunuh kita saat kita tak bisa menerima bahwa dia hanya sekedar bunga di alam sana...

Apa kau tahu? Bunga di alam sana tak akan pernah layu. Tak perlu air untuk membuatnya tetap segar. Dia akan menjaga sendiri hidupnya tanpa kita. Bunga itu akan tetap disana. Akarnya selalu bergerak memecah bebatuan keras yang menghalangi jalannya. Mahkotanya akan selalu berganti sekalipun panas mengeringkannya dan hujan badai merontokkannya. 

Yaa...
Biarlah segala impian, harapan, dan kau tetap disana. Kau akan tetap hidup tanpa ada aku. Kau sendiri yang memelihara hidupmu.

Tahukah kamu? Hidupmu menyalakan setitik pelita bagi orang di dalam gua kehampaan. Orang yang selalu mencari-cari aalsan untuk keluar dari kegelapan. Sekalipun tak ada jalan keluar, kau tetap memberi terang dan harapan.

Aku terjebak di sebuah tempat bernama mimpi dan realita. Aku seakan-akan berada di tengahnya. Kedua saling menarik dari masing-masing kutubnya. Mencoba memberi berbagai alsan supaya aku berkata," Ya!! aku mau di sini!!".

Mimpi memang indah. Aku bermimpi bisa kembali ke sebuah kota yang hening tanpa suara. Hening sampai seekor tupai pun bisa mendengar kata hati yang tersembunyi entah dimana.

Realita terkadang membuatku menyerah pada mimpi. Sebuah suasana dimana aku tak bisa lagi mendengar suara haitku sendiri sekalipun enam miliar manusia di bumi ini moksa.


Kakiku sudah lelah untuk berjalan tanpa arah. Kakiku hanya dua organ dinamis yang menerima perintah dari apa yang kita kenal dengan otak. Aku tak ingin terus melangkah karena perintah otakku. Sekali waktu, aku ingin melangkah dengan hati sekalipun itu akan membuatku masuk ke sebuah onak berduri. 

Mungkin sekarang aku akan memberi kesempatan untuk semua mimpiku beristirahat. Beristirahatlah kau mimpi. Aku tahu kau lelah ku kejar. Sekarang aku berhenti disini. Aku hanya berteduh di bawah sebuah pohon rindang dan mengaliri tengorokanku dengan cairan. Hei mimpi, kini kau bisa sedikit meringankan bebanmu karena tak lagi aku mengejarmu. Aku lelah, kaupun pasti juga lelah, aku tahu.

Hei mimpi, aku tak akan pergi, aku hanya beristirahat sejenak. Mungkin kali ini aku akan memberimu kesempatan untuk menghampiriku sekali waktu, menengokku. Menanyakan kepadaku, apakah aku masih bermimpi tentang mu atau tidak?

Kita lihat saja,

"Hei mimpi...", aku memanggilmu. Aku di sini, hanya beristirahat :)